Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Persembahan Ibu Generasi: Menyambut 2026 dengan Perjuangan Menegakkan Peradaban Islam

63
×

Persembahan Ibu Generasi: Menyambut 2026 dengan Perjuangan Menegakkan Peradaban Islam

Sebarkan artikel ini
Riska Nilmalasari D.A (Praktisi Pendidikan)
Riska Nilmalasari D.A (Praktisi Pendidikan)

OPINI—Di tengah dunia yang semakin bising oleh ambisi materi dan kompetisi tanpa henti, sering kali kita lupa bahwa arah peradaban tidak ditentukan oleh gedung-gedung tinggi atau teknologi canggih, melainkan oleh siapa yang mendidik generasi di dalam rumah.

Di sanalah peran ibu menjadi fondasi paling menentukan. Menyambut tahun 2026, refleksi tentang posisi ibu dalam membangun peradaban Islam tidak lagi bisa dipandang sebagai isu domestik, melainkan persoalan strategis umat.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Dalam pandangan Islam, ibu bukan sekadar pengasuh, tetapi arsitek peradaban. Dari rahim dan didikan para ibu lahir pemimpin, ulama, dan pejuang yang mengubah sejarah. Imam Syafi’i dibesarkan oleh ibunda yang rela hidup sederhana demi ilmu putranya.

Salahuddin al-Ayyubi tumbuh dalam didikan ibu yang menanamkan keberanian dan kecintaan pada Islam. Para shahabiyah melahirkan generasi yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga teguh dalam iman. Semua itu menunjukkan satu hal: kebangkitan umat selalu bermula dari ibu yang sadar akan misinya.

Sayangnya, peran strategis ini kian tergerus oleh arus kapitalisme dan feminisme liberal. Ibu hari ini diukur bukan dari kualitas generasi yang ia lahirkan dan didik, tetapi dari seberapa produktif ia secara ekonomi, seberapa tinggi jabatannya, atau seberapa besar pendapatannya.

Sistem telah menggeser makna kemuliaan seorang ibu menjadi sekadar statistik pasar tenaga kerja. Akibatnya, banyak ibu Muslim terjebak dalam kelelahan fisik dan krisis makna, bahkan merasa bersalah ketika memilih memprioritaskan pendidikan anak.

Padahal, dalam perspektif peradaban Islam, mendidik generasi adalah salah satu bentuk jihad yang paling strategis. Setiap doa seorang ibu di sepertiga malam, setiap kalimat tauhid yang ditanamkan dalam percakapan sehari-hari, setiap kesabaran dalam mendampingi anak menghadapi dunia yang rusak—semuanya adalah investasi besar bagi masa depan umat. Tidak ada perjuangan yang lebih panjang dan lebih menentukan selain membentuk manusia.

Persembahan ibu generasi memang tidak selalu tampak di panggung publik. Ia hadir dalam hal-hal yang sering dianggap sepele: pelukan ketika anak rapuh, nasihat ketika anak goyah, dan keteladanan akhlak dalam keseharian. Namun justru dari ruang-ruang sunyi itulah lahir generasi yang memiliki keberanian moral, empati sosial, dan kesadaran untuk membela kebenaran.

Lebih dari itu, ibu hari ini dituntut memiliki kesadaran ideologis. Anak-anak tidak hanya mewarisi sifat biologis, tetapi juga cara memandang hidup. Ibu yang memahami Islam sebagai sistem kehidupan akan melahirkan generasi yang tidak mudah tunduk pada hedonisme, relativisme moral, dan arus sekularisasi.

Ia akan menanamkan bahwa hidup bukan sekadar mencari kenyamanan, tetapi menjalankan amanah sebagai hamba Allah dan bagian dari umat Rasulullah SAW.

Tahun 2026 seharusnya menjadi momentum kebangkitan peran ibu sebagai penjaga nilai dan pelopor perubahan. Umat tidak cukup hanya melahirkan generasi yang sukses secara materi, tetapi generasi yang berani berpikir kritis, teguh pada prinsip, dan siap mengambil peran dalam perjuangan peradaban Islam.

Sejarah selalu membuktikan: peradaban besar dimulai dari rumah, dan rumah dimulai dari seorang ibu. Ketika seorang ibu mendidik dengan iman, kesadaran, dan visi peradaban, ia sedang menulis masa depan umat.

Maka, menyambut 2026, persembahan terbaik ibu generasi bukanlah kemewahan duniawi, melainkan lahirnya generasi pembangun peradaban Islam yang kuat, jernih, dan tak tergoyahkan. (*)

Wallahu a‘lam bish-shawab.


Penulis:
Riska Nilmalasari D.A
(Praktisi Pendidikan)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!