MAKASSAR—PT PLN (Persero) terus memperkuat ekosistem Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) di kawasan timur Indonesia. Hingga Jum’at (12/12/2025), PLN telah mengoperasikan 65 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang tersebar di 51 lokasi di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat. Jumlah ini ditargetkan bertambah 14 unit lagi pada akhir 2025.
Komitmen tersebut disampaikan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema Penguatan Ekosistem KBLBB di kantor PLN UID Sulselrabar, Makassar, Selasa (18/11) lalu. Plt. Kepala Dinas ESDM Sulsel, Andi Eka Prasetya, menegaskan bahwa suplai listrik di Sulawesi Bagian Selatan sangat memadai untuk mendukung pertumbuhan kendaraan listrik.
“Masyarakat mulai antusias dengan kendaraan listrik karena lebih efisien dan efektif. Potensi pasarnya besar, sehingga Pemerintah Sulsel terus mendukung percepatan ekosistem, baik di internal pemerintahan maupun bagi masyarakat,” ujarnya.
General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, memastikan ketersediaan infrastruktur pengisian listrik aman dan andal untuk mobilitas pengguna. Menurutnya, seluruh SPKLU di tiga provinsi tersebut beroperasi optimal, termasuk untuk perjalanan jarak jauh.
Ia juga mengungkapkan lonjakan penggunaan SPKLU sepanjang 2025. “Transaksi isi daya meningkat 222 persen dibanding tahun lalu,” jelasnya. Pada 2024 tercatat 4.655 transaksi, sementara hingga kuartal tiga 2025 sudah mencapai 10.369 transaksi.
PLN juga menyiagakan petugas teknis 24 jam dan melakukan pemantauan SPKLU secara real-time melalui PLN Mobile. Di sisi lain, PLN menghadirkan Program Stimulus Percepatan Penggunaan KBLBB, berupa diskon 50 persen biaya penyambungan pasang baru dan tambah daya, serta diskon 30 persen untuk penggunaan home charging di luar jam beban puncak (22.00–05.00 WITA). Program ini berlaku 1 Juli 2025 sampai 30 Juni 2026.
Hingga Oktober 2025, sebanyak 219 pelanggan di Sulsel telah memanfaatkan layanan Home Charging Service (HCS). “Antusiasme pengguna terus meningkat. Dengan HCS, pemilik kendaraan listrik bisa mengisi daya langsung dari rumah tanpa harus ke SPKLU,” tutur Edyansyah.
Ia menambahkan, penggunaan kendaraan listrik terbukti jauh lebih hemat. “Biaya operasional kendaraan berbahan bakar fosil sekitar Rp800 per kilometer, sementara mobil listrik hanya Rp200 per kilometer,” paparnya.
Asri, salah satu pengguna mobil listrik di Makassar, merasakan langsung manfaatnya. Ia menyambut positif semakin banyaknya SPKLU di kota tersebut. “Dengan mobilitas tinggi, SPKLU sangat membantu. Pengeluaran operasional saya juga lebih hemat,” katanya.
Menurutnya, saat masih menggunakan mobil berbahan bakar fosil, ia menghabiskan sekitar Rp800 ribu per bulan. Kini dengan mobil listrik, biaya operasionalnya hanya Rp270 ribu per bulan. Artinya, ada penghematan hingga Rp530 ribu setiap bulan.
PLN menegaskan bahwa pembangunan ekosistem kendaraan listrik bukan hanya penyediaan infrastruktur, tapi juga menjadi katalis yang menghubungkan seluruh pemangku kepentingan. Dengan kesiapan ini, PLN UID Sulselrabar berkomitmen mendukung percepatan transisi energi bersih sekaligus memberi rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang beralih ke kendaraan listrik. (70n/Ag4ys/4dv)



















