Resiliensi Pertanian Dorong Perekonomian

Lin Purwati (Statistisi BPS Provinsi Sulawesi Selatan)

OPINI – BPS merilis perekonomian Indonesia pada triwulan II 2020 terkonstraksi 5,32 persen dibandingkan dengan triwulan II 2019. Sedangkan jika dibandingkan dengan triwulan I 2020, performa ekonomi Indonesia di triwulan II 2020 mengalami kontraksi sebesar 4,19 persen. Ini merupakan penurunan terbesar sejak dua dekade terakhir.

Tak dapat dipungkiri pandemi Covid-19 telah menghantam nyaris semua sektor ekonomi. Pada triwulan II 2020 hanya beberapa sektor ekonomi yang mampu tumbuh positif yaitu sektor informasi dan komunikasi sebesar 10,88 persen, pengadaan air, pengelolaan sampah limbah dan daur ulang sebesar 4,56 persen, jasa kesehatan sebesar 3,71 persen dan pertanian sebesar 2,19 persen.

Sektor infokom memberikan kontribusi tertinggi pada laju pertumbuhan ekonomi yaitu sebesar 0,58 persen diikuti pertanian sebesar 0,29 dan real estate sebesar 0,07 persen.

Sekali lagi pertanian mampu membuktikan resiliensinya dalam menghadapi krisis akibat pandemi setelah menunjukkan performa yang sama saat krisis ekonomi di tahun 1998.

Pertanian merupakan sektor yang lebih banyak tergantung pada kondisi alam dan cuaca sehingga tidak terpengaruh oleh kondisi perekonomian global secara langsung.

Di sisi lain produk pertanian merupakan sumber pangan yang menjadi kebutuhan utama manusia dalam segala kondisi. Kedua hal inilah yang mendorong pertanian memiliki resiliensi yang cukup tinggi dalam menghadapi krisis.

Berita Lainnya

Namun disayangkan bahwa minat penduduk untuk berkiprah di sektor pertanian cenderung terus menurun. Hal ini terlihat dari menurunnya persentase penduduk yang bekerja di sektor pertanian dari sekitar 54,36 persen pada tahun 1986 menjadi hanya 29,04 persen pada Februari 2020.

Lihat Juga:  Ilusi Pemberantasan Kekerasan Seksual di Balik RUU PKS

Fenomena ini mengakibatkan penurunan performa pertanian dalam pembentukan nilai tambah. Pada tahun 2000, sektor pertanian mampu menyumbangkan 15,6 persen nilai tambah terhadap total ekonomi Indonesia, namun di tahun 2019 menurun menjadi 12,72 persen saja.

Namun persentase ini kembali meningkatkan di masa pandemi yaitu mencapai 15,46 persen pada triwulan II 2020.

Resiliensi pertanian dalam menghadapi kondisi krisis serta kemampuan pertanian untuk menyediakan pangan berkelanjutan dalam rangka menjamin kedaulatan pangan bagi penduduk hendaknya dapat dioptimalkan untuk mendorong kinerja perekonomian.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mendorong performa pertanian dalam perekonomian. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi. Pertanian Indonesia masih terbilang konvensional dan belum tersentuh teknologi.

Hal ini dapat dimaklumi karena sumber daya manusia di sektor pertanian umumnya merupakan kelompok penduduk berusia tua. Sekitar 60,71 persen petani Indonesia berusia 45 tahun ke atas.

Tingkat pendidikannya pun relatif rendah, sekitar 82,55 persen petani hanya mengenyam pendidikan maksimal setingkat SLTP.

Karenanya peningkatan kualitas SDM pertanian mutlak diperlukan, terutama dengan menggandeng generasi milenial yang adaptif, melek teknologi, berorientasi pada pencapaian target dan berpikiran terbuka.

Hal ini dapat dilakukan melalui kerjasama dengan dunia pendidikan khususnya perguruan tinggi untuk menyediakan kurikulum pengembangan pertanian yang berbasis teknologi.

Perlu pula digagas berbagai program entrepreneurship dan inovasi antara perguruan tinggi dan pihak swasta yang menyasar ke wilayah-wilayah sentra pertanian sehingga dapat memberikan kesempatan bagi mahasiswa mempraktekkan ilmu dan mengembangkan idenya secara nyata.

Petani milenial dengan kemampuan adaptasi teknologinya akan mampu dengan mudah mengakses beragam informasi misalnya melalui mekanisasi pertanian, penggunaan pupuk yang lebih ramah dengan lingkungan, pemilihan komoditas budidaya yang sesuai dengan kondisi agroklimat wilayah termasuk cara penanganan hama dan OPT yang lebih efektif, sehingga dapat menghasilkan produk pertanian dalam jumlah dan kualitas yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Lihat Juga:  Ironi Ketahanan Pangan Negeriku

Pemanfaatan teknologi juga dapat digunakan dalam proses pemasaran sehingga produk pertanian lebih cepat sampai ke tangan konsumen. Hal ini sangat penting mengingat karakteristik dasar produk pertanian yang mudah rusak (perishable). Karena itu semakin cepat produk sampai ke tangan konsumen akan semakin baik.

Selain penguatan dalam proses produksi dan distribusi, juga diperlukan kreativitas dalam menciptakan berbagai variasi produk olahan hasil pertanian, sehingga nilai tambah yang dihasilkan juga akan lebih besar.

Di sisi lain diperlukan intervensi pemerintah dalam tata niaga produk pangan. Hal ini dilakukan untuk menurunkan kesenjangan harga di tingkat produsen dan konsumen, mengurangi food losses di sepanjang rantai produksi pangan serta mengurangi disparitas harga antar wilayah di Indonesia.

Kerjasama lintas stakeholder mutlak diperlukan untuk meningkatkan kemampuan pertanian dalam mendorong kinerja perekonomian, menciptakan kedaulatan pangan serta mewujudkan visi Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia di tahun 2045. (*)

Penulis: Lin Purwati (Statistisi BPS Provinsi Sulawesi Selatan)

Berita terkait