Satu Dekade UKM Seni Tari Unhas

MAKASSAR – Unit kegiatan mahasiswa (UKM) Seni Tari Universitas Hasanuddin, sukses menyelenggarakan pertunjukan satu dekade, Jumat 30 Agustus 2019

Kegiatan yang diselenggarakan di Baruga Karaeng Patingalloang, Kompleks Rujab Gubernur Sulawesi Selatan ini dihadiri oleh pembina, alumni dan pelaku seni di Sulawesi Selatan.

Sebagai organisasi kampus, UKM Seni Tari Unhas berperan besar dalam menumbuhkan minat mahasiswa untuk mencintai kesenian tradisional.

Selain itu, organisasi ini berusaha meningkatkan kreativitas mahasiswa dalam bermusik dan menari, tanpa meninggalkan akar sejarah dan ciri khas kesenian tradisional Sulawesi Selatan.

Organisasi yang dibentuk kembali di tahun 2009 ini, tidak hanya berkontribusi di ranah kampus saja, melainkan terus berkarya membanggakan Sulawesi Selatan dan Indonesia.

Seperti disampaikan pada Perhelatan Satu Dekade Jumat malam kemarin, UKM Seni Tari Unhas telah memenangkan kompetisi di tingkat regional, nasional dan bahkan internasional.

Di tahun 2011 lalu, UKM Seni tari Unhas meraih Honorable Mention Prize di International Golden Karagoz Folkdance Competition di Turki. Tahun berikutnya, meraih tiga piala dalam Parade Tari Nusantara TMII mewakili Sulawesi selatan.

Seolah tak puas memenangkan lomba tersebut, UKM ini kembali sukses mewakili Indonesia dalam the 4th World Championship Folklore Bulgaria di tahun 2014 dan meraih Golden Prize.

Tahun berikutnya, UKM Seni Tari Unhas kembali menjadi juara pertama dalam lomba Internacional Festival de Foclore Spanyol tahun 2015.

Di momentum perayaan 10 tahun ini, penonton berpuas hati karena dapat menyaksikan lima tari kreasi tradisional yang pernah memenangkan kompetisi internasional. Tarian tersebut ditampilkan kembali oleh penari asli yang sudah lulus dari Universitas Hasanuddin.

Alumninya bahkan rela datang jauh-jauh dari Tiongkok, Australia, dan daerah lain untuk bisa menampilkan kembali tarian yang pernah membawa nama harum Indonesia di luar negeri.

Matt Azmar Ali selaku koreografer, merasa haru dan bangga bisa mencetak penari-penari handal. Dari nol hingga bisa berprestasi dalam berbagai kompetisi.

“Itu kepuasan tersendiri yang tidak bisa diungkangkan, dan yang lebih membanggakan lagi prestasi mereka di bidang akademik pun sangat membanggakan,” tuturnya.

Di tahun 2019, UKM Seni Tari Unhas kembali mewakili Indonesia dalam kompetisi The II International Dance and Vocal Contest “All Colours of Art” yang akan digelar di San Marino, Italia 1-4 November mendatang.

Mereka akan mengangkat tarian kreasi tradisional Toraja yang digarap oleh Matt Azmar sebagai penata tari dan Andi Musawir Kamil sebagai penata musik.

Satu dekade UKM Seni tari unhas tidak hanya menjadi perayaan bagi anggota dan alumninya, melainkan menjadi bahan refleksi bahwa Sulawesi Selatan kaya akan tradisi yang patut untuk dikembangkan dan dilestarikan.

Keberhasilan generasi muda Sulsel ini, menjadi semangat baru bagi anak muda lain untuk bisa mengejar mimpi dan memberikan kontribusi yang positif melalui wadah organisasi di institusi Pendidikan (universitas).

Karya-karya hebat dari Matt Azmar Ali juga memiliki spirit yang sama dengan pemikiran Tokoh dunia seperti Albert Einstein.

Penemu teori relativitas ini pernah berkata bahwa pendidikan bertujuan untuk menciptakan manusia yang mampu melakukan hal-hal baru, tidak hanya mengulangi apa yang dilakukan generasi sebelumnya. Menciptakan manusia kreatif yang memiliki daya cipta dan penemuan hal baru.

Tentu saja konteks pendidikan di sini tidak semata-mata diinterpretasikan sebagai kelas dan guru saja, melainkan segala bentuk kegiatan yang memungkinkan adanya transfer ilmu pengetahuan di dalamnya.

Unit Kegiatan Mahasiswa contohnya, menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar dan berkarya mendalami bidang yang disukai dan bermanfaat bagi pengembangan keterampilan dan jiwa sosialnya.

Kegiatan organisasi juga melatih mahasiswa untuk menjadi pemimpin dan mengerti manajemen kegiatan yang tentunya bermanfaat di dunia kerja.

Sehingga dapat melahirkan generasi unggul yang siap bersaing. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia inilah yang tentunya diharapkan menjadi output dalam berorganisasi, tak terkecuali organisasi kesenian seperti UKM Seni Tari Unhas.

 

Sayangnya tidak semua generasi muda di Sulawesi Selatan bisa bersekolah hingga perguruan tinggi dan masuk ke dalam organisasi ini.

Untuk mewujudkan cita-cita Einstein, Sulawesi Selatan butuh ‘ruang’ yang memberikan tempat bagi generasi muda untuk belajar, berpartisipasi dan berkompetisi sehingga dapat meningkatkan kapasitasnya dalam berkarya.

“Semoga kegiatan kesenian tetap terlaksana di waktu mendatang, agar hubungan persaudaraan tetap terjalin. Juga sebagai ajang silaturahmi untuk saling berbagi pengalaman dalam bidang seni khususnya seni tari dan musik tradisional Sulawesi selatan,” pungkas Matt Azmar. (*)