Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Sekularisme Gagal Melindungi Generasi Penerus Peradaban

431
×

Sekularisme Gagal Melindungi Generasi Penerus Peradaban

Sebarkan artikel ini
Erni (Aktivis Muslimah)
Erni (Aktivis Muslimah)

OPINI—Kasus kekerasan seksual di kota Makassar merupakan kasus tertinggi se- Sulsel sebagaimana dijelaskan oleh Kabid PPPA DP3ADaldukKB Sulsel, Meisy Papayungan. Hal ini dikarenakan Makassar adalah ibu kota provinsi yang jumlah populasinya lebih banyak sehingga menjadi pusat atau sentral sosial dari berbagai kabupaten lain.

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Makassar kembali memaparkan data kasus kekerasan di ‘kota Daeng’.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

DPPPA mengungkap data kekerasan terhadap anak di Makassar tahun 2025 mengalami peningkatan dibanding tahun 2024, mencapai 57% per April 2025.

Hal ini disampaikan pihak DPPPA secara terbuka pada kegiatan Advokasi Kebijakan Anak Memerlukan Perlindungan Khusus Tahap I, Selasa (15/4/2025) di hotel Ibis Style Makassar. (Edunews.id, 15/4/2025).

Kasus kekerasan seksual, terutama terhadap anak dibawah umur terus terjadi, bahkan terus meningkat.

Pelecehan seksual bukan hanya terjadi pada anak perempuan, akan tetapi anak laki-laki pun rentan menjadi korban pelecehan seksual dengan berbagai motif dan modus dalam menjerat korban.

Pemahaman Agama tak Menjadi Standar Maka Hawa Nafsu Menjadi Penentu

Berdasarkan fakta dan data tersebut, tidak dapat dimungkiri bahwa kondisi anak saat ini makin terancam. Kondisi ini mencerminkan kehidupan masyarakat yang rusak.

Pelaku pencabulan bisa jadi orang terdekat, baik itu teman, guru, bahkan orang tua sendiri. Sungguh miris, orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung dan penjaga, kini tidak bisa lagi diharapkan menjadi benteng perlindungan dan justru menjadi perusak dan pemangsa.

Seorang anak adalah benih generasi suatu bangsa di masa depan. Namun, maraknya pelecehan terhadap anak menciptakan trauma panjang bagi para calon tonggak penerus peradaban ini. Anak-anak tumbuh dalam bayangan kelam masa lalu.

Korban kekerasan seksual akan banyak mengalami masalah serius pada dirinya dikemudian hari apabila tidak segera mendapatkan penanganan yang benar, si anak akan mengalami trauma berat sehingga menjadi tidak percaya diri dan menjadi seorang yang pemurung dan tumbuh menjadi anak yang apatis. Bahkan bisa jadi kelak dirinya akan mempraktikkan hal serupa yang pernah menimpa dirinya sehingga menjadi seorang pedofil bagi anak laki-laki yang menjadi korban kekerasan seksual tersebut.

Akar Masalah

Berbagai macam keburukan yang menimpa anak-anak di negeri ini muncul sebagai akibat penerapan sistem hidup sekuler yang melahirkan nilai hidup yang salah di masyarakat. Kebebasan yang diagungkan-agungkan sistem ini menjadi racun mematikan bagi akal dan naluri manusia.

Apabila kita cermati, ada beberapa faktor yang menjadikan pelaku kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak, diantaranya, tidak adanya kontrol diri berupa akidah dan keimanan. Jauhnya umat dari pemahaman agama yang benar menjadikan hawa nafsu sebagai standar perbuatan.

Selain keimanan individu yang lemah, saat ini mental masyarakat semakin individualis. Hal ini mengakibatkan masyarakat tidak dapat dijadikan sebagai tempat untuk pengawasan ataupun pengontrolan lingkungan yang baik, sehingga pelaku predator anak semakin bebas melakukan tindakan kejahatannya.

Ditambah lagi, banyaknya pemicu/rangsangan, seperti konten-konten yang merusak akal manusia di sejumlah platform media sosial tanpa adanya kontrol yang berarti dari penguasa dalam menertibkan tayangan-tayangan yang beredar tersebut seolah menjadi legal di negeri ini.

Akhirnya, masyarakat tidak menjadikan standar perbuatan sesuai syariat melainkan hawa nafsu saja. Karena itu muncul perilaku liberal yang mendorong seseorang tega bertindak asusila terhadap anak dan tindakan yang dilakukan oleh pihak terkait terhadap predator anak hingga saat ini belum juga membuahkan hasil yang maksimal, sehingga hal yang sama terus terjadi.

Peran negara sangat minim dalam melindungi anak dalam berbagai aspek, baik dari sistem pendidikannya yang sekuler maupun sistem sanksi yang tidak menjerakan. Baik buruknya masyarakat, salah satu yang menjadi penentunya adalah aturan yang diterapkan negara dimana masyarakat itu tinggal. Maka sangatlah wajar jika masyarakat di negeri ini terpapar pemikiran sekuler.

Inilah kerusakan, kezaliman, dan bahaya penerapan sistem sekuler yang menjauhkan manusia dari fitrahnya sebagai hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dengan demikian, mustahil rasanya mengharapkan solusi pasti untuk mencegah dan menghentikan kasus kekerasan seksual terhadap anak maupun dewasa.

Islam Solusi Hakiki

Berbeda jika di dalam sistem Islam. Dalam Islam, negara adalah raa’in (pengurus) dan junnah (pelindung) bagi umat. Negara akan melakukan penjagaan dengan memastikan anak-anak mendapatkan kualitas hidup maupun lingkungan yang baik, menyelamatkannya dari segala bentuk bahaya, kekerasan dan ancaman. Mereka adalah bibit generasi penerus peradaban mulia Islam. Mereka harus dibina, dilidungi dan hidup sejahtera dalam naungan negara Islam.

Dalam kehidupan sosial, Islam pun mengatur interaksi antara laki-laki dan perempuan. Islam melarang pacaran, khalwat (berdua-duaan), dan ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan perempuan). Islam memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk menutup aurat dan menundukkan pandangan.

Islam mewajibkan negara mencegah terjadinya kerusakan generasi melalui berbagai aspek kehidupan sesuai dengan aturan Islam, diantaranya:

Pertama, dalam aspek pendidikan. Pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk siswa menjadi pribadi yang berakhlak mulia, beriman dan bertakwa sebagai hamba Allah yang harus senantiasa taat dengan aturan penciptanya.

Kedua, dari segi media. Media dalam Islam adalah media yang berperan sebagai penyampai informasi, edukasi dan dakwah amar makruf nahi munkar di tengah masyarakat. Negara akan mengatur apa yang boleh dan tidak boleh ditayangkan sebagai aturan syariat Islam.

Ketiga, negara akan memberikan sanksi yang memberikan efek jera bagi pelaku kejahatan. Islam sebagai agama dan sistem kehidupan bagi manusia telah memberikan pengaturan dengan lengkap tentang bagaimana sanksi yang akan diberikan kepada para pelaku kejahatan.

Oleh karenanya, hanya dengan Islam kita akan terhindar dari kekerasan seksual dan mendapat perlindungan hakiki. Wallahu a’lam bishawab. (*)

 

Penulis: Erni (Aktivis Muslimah)

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!