Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Tren “Wellness Tourism”: Mampukah Menyolusi Kesehatan Mental?

801
×

Tren “Wellness Tourism”: Mampukah Menyolusi Kesehatan Mental?

Sebarkan artikel ini
Tren Wellness Tourism: Mampukah Menyolusi Kesehatan Mental?
Mansyuriah, S. S (Pemerhati Sosial)

OPINI—Dinas Pariwisata Kota Makassar dan beberapa pihak terkait melakukan beberapa kolaborasi dalam rangka pengembangan Tren Wellness Tourism, yakni sebuah tren wisata yang bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan keseimbangan tubuh, pikiran, dan jiwa.

Pemerintah kota Makassar sepertinya terus berupaya menunjukkan eksistensi dirinya sebagai kota dunia dengan membuat beberapa terobosan dalam dunia Pariwisata.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Kerja sama ini terjalin antara Dinas Pariwisata kota Makassar dan Tim Morula IVF sebagai pihak yang siap mengembangkan program Fertility Tourism (wisata kesuburan) dan PT citilink yang dianggap sebagai maskapai dengan biaya low cost carrier.

Dengan mendapat dukungan penuh dari Dinas Pariwisata Makassar, sektor medis yang berkualitas, jaringan transportasi yang memadai, serta promosi yang gencar, maka program ini kelak diharapkan dapat menjadikan Makassar sebagai kota siap untuk bersaing di panggung internasional dan menjadi Kota destinasi unggulan wisata kesehatan terdepan terutama pada sektor Wellnes dan Fertility Tourism di Indonesia yang tidak hanya menawarkan keindahan alam dan budaya, tetapi juga layanan medis berkualitas tinggi. (Metrotimur.com, 27/09/2024).

Gaya Hidup Masyarakat

Gaya hidup masyarakat saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, urbanisasi, dan globalisasi. Cenderung ada peningkatan kesadaran akan pentingnya kesehatan dan kebugaran. Masyarakat semakin peduli terhadap pola makan sehat, olahraga, serta menjaga kesehatan mentalnya.

Sisi lain, pada masyarakat juga berkembang gaya hidup konsumeristik yang didorong oleh iklan dan pengaruh media sosial. Banyak orang cenderung membeli barang-barang yang tidak selalu mereka butuhkan, demi gaya hidup atau kepuasan sementara.

Belum lagi dengan adanya tekanan interaksi sosial dalam kehidupan masyarakat. Banyak orang merasa perlu menampilkan citra diri yang sempurna terlebih di media sosial, belum lagi beban kerja dan tekanan ekonomi, kebutuhan hidup yang mahal dan terus meingkat, semua itu bisa memicu tekanan mental, stres bahkan depresi.

Inilah efek nyata hidup dalam era sekularisme-kapitalisme, semakin stres dan tertekannya masyarakat, semakin tinggi tuntutan untuk berwisata sebagai bentuk self-healing.

Ternyata peluang ini ditangkap oleh kapitalisme, mereka senantiasa mengambil manfaat yang besar dari kerusakan yang diciptakannya, apalagi umat hari ini masih mengambil kapitalisme sebagai solusi atas problematika hidupnya.

Dengan fakta di atas, maka dibuatlah konsep wellness dan fertility tourism dengan mengolaborasikan kesehatan dan keindahan alam yang menyajikan suasana tenang yang dapat mendukung pemulihan fisik dan mental (jiwa).

Idealnya, semakin banyak tempat wisata yang dibuka, maka keuntungan materi yang didapatkan semakin besar pula, target global dari sektor pariwisata ini sendiri bernilai $651 miliar per tahun dan memiliki perkiraan pertumbuhan pengeluaran tahunan rata-rata sebesar 16,6% hingga tahun 2027 (globalwellnessinstitute.org), tentu sebuah keuntungan yang sangat besar dan sejalan dengan cita cita kapitalisme.

Pandangan Islam

Islam sebagai sistem kehidupan yang sempurna telah mengatur bagimana harusnya seorang muslim menjaga kesehatan diri dan mentalnya agar tidak mudah putus asa dan depresi.

Maka sudah seharusnya kita banyak mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak tobat dan istigfar, melakukan amal perbuatan sesuai kemampuan dan hukum syara’, melangitkan doa untuk dimudahkan dalam setiap urusan, serta diberikan kesehatan dan umur yang berkah.

Dalam pandangan Islam, melakukan wisata boleh saja selama kegiatan yang dilakukan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Menjaga kesehatan tubuh, pikiran, dan spiritualitas sangat ditekankan dalam Islam, sebagaimana Rasulullah Saw. menganjurkan umatnya untuk menjaga kesehatan fisik dan mental.

Bagi seorang muslim, berwisata tidak hanya untuk sekadar melepas penat dari rutinitas keseharian, tapi harus bernilai ibadah serta sebagai sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Islam telah mengatur sektor wisata dengan sangat terperinci. Misalnya saja untuk membangun kompleks wisata alam dengan tidak merusak alam atau menggusur kepemilikan individu secara semena mena.

Di sinilah pentingnya kita untuk mengkaji kembali pandangan Islam tentang pariwisata, juga praktik atau penyelenggaraan pariwisata saat aturan Allah diterapkan secara sempurna. Semua ini perlu kita kaji untuk dijadikan sebagai pijakan agar apa pun yang direncanakan akan membawa kebaikan bagi umat Islam sehingga membawa pada keberkahan

Satu hal yang perlu ditekankan juga adalah sistem yang mengikat masyarakat saat ini masih sistem kapitalis sekuler, padahal ini perkara yang paling fundamental harus diubah.

Oleh karena itu sangat ironis ketika mereka selalu dituntut mindfull, sementara sistem yang mengatur mereka masih sistem “rusak”. Jadi selama sistem yang mengatur dan mengikat mereka adalah kapitalis-sekuler, maka selama itu juga masyarakat rentan terkena penyakit mental/ mental illness.

Sistem dan negara sekuler telah menabung kesalahan besar karena aturan kehidupannya menghasilkan borok dan berbagai kebusukan yang menjadi atmosfer negatif sehingga memicu mental health yang rendah.

Kapitalisme telah gagal memberikan kebahagiaan sejati bagi orang-orang yang bernaung padanya, alih-alih kesejahteraan hakiki.

Sungguh, hanya Allah tempat berlindung. Keberadaan sistem Islam dalam mengantur masyarakat menjadi sangat penting kita perjuangkan dan kita tegakkan secara kafah dalam setiap sendi kehidupan. Wallahualam bissawab. (*)

 

Penulis: Mansyuriah, S. S (Pemerhati Sosial)

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!