MAKASSAR—Ketua Bidang Kebijakan Strategi KNPI Kota Makassar, Syahrullah Sanusi, melontarkan sindiran keras terhadap sosok yang kerap mengkritik Pemerintah Kota Makassar tanpa memberikan solusi nyata. Ia menyebutnya sebagai “oknum ketua abal-abal” yang hanya mencari sensasi.
Dalam wawancaranya, Senin (16/6/2025), Syahrullah mengutip pemikiran Émile Zola, sastrawan asal Prancis, yang mengatakan bahwa manusia ibarat buku. “Ada yang hanya dibaca sampulnya, ada yang hanya dibaca pendahuluannya, ada pula yang tidak dibaca namun dipercaya hanya dari kritik orang lain. Hanya sedikit yang benar-benar dibaca dan dipahami,” ujar Syahrullah.
Menurutnya, analogi tersebut sangat relevan untuk menggambarkan sosok yang mengaku sebagai ketua, namun hanya sibuk mengkritik tanpa dasar jelas dan solusi. “Masyarakat Makassar mungkin tak banyak yang kenal namanya, apalagi wajahnya. Tapi sebagian justru percaya pada kritiknya tanpa tahu apa motif di baliknya,” jelasnya.
Ia menegaskan, hanya segelintir orang yang benar-benar mengenal pola pikir dan motivasi di balik tindakan sosok tersebut. “Dugaan saya, dia ini hanya pencari amplop, sosok gadungan yang coba membesarkan diri lewat kritik kosong,” tegas Syahrullah.
Sementara itu, langkah Pemerintah Kota Makassar di bawah kepemimpinan Wali Kota Munafri Arifuddin (Appi) menghapus iuran retribusi sampah bagi warga miskin ekstrem mendapat apresiasi luas. Kebijakan ini dianggap sebagai wujud nyata keberpihakan kepada masyarakat kecil.
“Ini bukan hanya soal penghapusan biaya. Ini bentuk kehadiran pemerintah untuk rakyatnya yang paling rentan,” ujar Syahrullah dalam pernyataan terpisah.
Ia menilai, keputusan ini menegaskan arah kebijakan yang menyentuh langsung masyarakat bawah. “Keadilan sosial bukan berarti semua orang membayar sama. Tapi semua membayar sesuai kemampuan. Yang kuat bantu yang lemah. Yang mampu topang yang tak berdaya,” ungkapnya.
Menurutnya, kebijakan sosial tak selalu soal anggaran besar, melainkan keberanian politik untuk menyentuh titik paling lemah dari masyarakat. “Mereka bukan tidak mau bayar, tapi memang tidak seharusnya dibebani,” pungkasnya. (Cr/Ag4ys)
Citizen Reporter: Yusril













