Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Gen-Z di Persimpangan: Ekspresi Emosi atau Perubahan Nyata?

694
×

Gen-Z di Persimpangan: Ekspresi Emosi atau Perubahan Nyata?

Sebarkan artikel ini
Reskidayanti
Reskidayanti (Penulis)

OPINI—Gen Z ikut bergerak menyemarakkan suara mereka di media sosial dalam menyikapi aksi demonstrasi, namun mereka dengan ciri khasnya menyampaikan aspirasi lewat unggahan-unggahan meme, poster, dan estetiska visual lainnya. Hal ini mencerminkan cara Gen Z merespon tekanan yang sedang terjadi di sekitarnya (Kompas.com)

Fenomena ini pun dinilai ahli Psikologi Anak dan Remaja, Anastasia Satriyo sebagai karakter Gen Z dalam berbicara sebagai generasi digital native. Juga anggapan dari Psikolog Universitas Indonesia, Prof Rose Mini Agoes Salim yang menyoroti peningkatan jumlah anak di bawah umur yang ikut aksi demonstrasi. Meskipun ini bisa jadi ajang belajar bagi mereka dalam menyampaikan pendapat, tapi menurutnya remaja masih rentan terprovokasi karena kontrol diri mereka belum matang (Info Remaja.com)

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Emosi Tanpa Arah

Gen-Z adalah generasi yang unik, lahir di era ketika informasi mengalir begitu cepat dan hampir tanpa batas. Mereka memiliki akses pada lintasan informasi yang jauh lebih luas ketimbang generasi sebelumnya, dan hal ini membentuk pola pikir, perilaku sosial, serta gaya hidup mereka yang serba cepat dan instan.

Dalam proses pencarian jati diri — yang menurut para psikolog merupakan fase penting dalam perkembangan mereka — Gen-Z cenderung mencari informasi sendiri melalui internet, membentuk opini, dan mengekspresikan identitas secara mandiri di ruang digital.

Awalnya, dilakukan klasifikasi karakteristik Gen-Z oleh para psikolog untuk memahami cara berpikir dan bertindak mereka, agar pendidikan, komunikasi, dan lingkungan bisa lebih sesuai dengan kebutuhan generasi ini.

Namun, yang sering luput disadari adalah bahwa klasifikasi ini kemudian menjadi alat untuk mengarahkan perilaku mereka. Industri, media, bahkan sistem politik memanfaatkan pemahaman ini untuk menciptakan pesan dan produk yang menyentuh sisi emosional Gen-Z, membuat mereka lebih sibuk mengekspresikan diri daripada menantang sumber masalah yang mereka hadapi.

Di tengah sistem yang terus membentuk pola pikir mereka, Gen-Z didorong untuk merespons secara emosional dan cepat, bukan untuk berpikir mendalam. Media sosial pun memperkuat pola ini dengan mengutamakan konten yang memancing reaksi emosional — marah, terkejut, terharu — sehingga wajar jika aspirasi mereka seringkali lahir dari dorongan emosi.

Tetapi karena tidak disertai proses perenungan yang panjang, kemarahan itu kerap berhenti sebagai pelepasan emosi semata. Alih-alih menjadi langkah awal menuju perubahan sistemik, ia mereda begitu isu kehilangan momentum.

Karena itu, maraknya partisipasi Gen-Z dalam aksi demo atau aspirasi di media sosial seharusnya disadari bahwa energi ini harus diarahkan agar menjadi gerakan yang kritis, terorganisir, dan berstrategi. Jika tidak, semangat besar generasi ini hanya akan menjadi komoditas — dipakai untuk konten viral, mendongkrak rating media, atau bahkan dimanfaatkan untuk agenda politik jangka pendek — tanpa pernah benar-benar menyelesaikan persoalan dari akarnya.

Mengarahkah ke Perubahan Nyata

Kemarahan Gen-Z yang marak terlihat di jalanan dan media sosial sebetulnya mencerminkan sesuatu yang lebih dalam yaitu naluri manusia yang menolak ketidakadilan. Dalam pandangan Islam, manusia sejak awal penciptaannya memiliki naluri baqa — naluri untuk mempertahankan eksistensi, termasuk menolak kezaliman yang mengancam kelangsungan hidupnya. Maka wajar jika generasi muda bereaksi ketika melihat ketidakadilan, penindasan, atau kebijakan yang merugikan mereka.

Dan semestinya naluri baqa menuntut lebih dari sekadar pelampiasan. Naluri itu mendorong manusia untuk mencari solusi yang menghilangkan akar masalah, bukan hanya gejalanya. Karena itu, penting untuk mengarahkan semangat protes Gen-Z menjadi kesadaran kritis dan gerakan yang terorganisir.

Islam memberi arah agar emosi itu menghasilkan perubahan yang benar-benar menyingkirkan kezaliman. Islam bukan hanya mengatur akhlak personal, tetapi juga mekanisme muhasabah lil hukkām — kontrol terhadap penguasa — agar kezaliman tidak dibiarkan berlarut-larut. Allah berfirman dalam (QS. An-Nahl:125)

”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Dengan tuntunan ini, kemarahan Gen-Z tidak lagi menjadi pelampiasan sesaat, tetapi menjadi kekuatan yang diarahkan untuk taghyīr — perubahan yang hakiki. Sejak masa Rasulullah ﷺ, potensi pemuda selalu menjadi garda terdepan dalam perjuangan.

Para sahabat muda seperti Ali bin Abi Thalib, Mus’ab bin Umair, Usamah bin Zaid, dan lainnya menjadi contoh bagaimana energi, keberanian, dan idealisme pemuda dimanfaatkan untuk membawa risalah Islam dan mengubah masyarakat. Mereka bukan hanya marah terhadap kezaliman Quraisy, tetapi membawa solusi yang komprehensif: menerapkan Islam secara menyeluruh di tengah masyarakat. (*)

 

Penulis: Reskidayanti

 

 

***

 

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!