OPINI—Video pengeroyokan seorang guru oleh sejumlah siswa di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, yang viral di media sosial, kembali membuka luka lama dunia pendidikan kita. Peristiwa itu bermula ketika Agus Sunaryo, guru di sekolah tersebut, melintas di depan sebuah kelas saat jam pelajaran berlangsung.
Dari dalam kelas terdengar teriakan kata-kata tidak pantas yang memancing emosinya hingga ia menampar seorang siswa. Peristiwa tersebut kemudian berujung pada aksi pengeroyokan terhadap sang guru, sebagaimana dilansir Kompas.com (13 Januari 2026).
Kasus ini bukan peristiwa tunggal. Sepanjang tahun 2025, berbagai kasus kekerasan terhadap guru terjadi dengan pola yang hampir sama: siswa tidak terima ditegur, lalu meluapkan kemarahan dalam bentuk kekerasan, bahkan melibatkan siswa lain hingga menimbulkan luka fisik.
Ironisnya, semua itu terjadi di lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi ruang paling aman bagi guru dan murid untuk menjalankan amanah pendidikan.
Fenomena ini menunjukkan betapa wibawa dan marwah guru semakin tergerus. Guru yang seharusnya menjadi sosok pendidik dan teladan justru diposisikan sebagai pihak yang lemah dan rentan diserang.
Ini bukan hanya persoalan individu, melainkan cermin dari kerusakan sistemik dalam dunia pendidikan hari ini, sebuah sistem yang telah gagal menanamkan adab dan penghormatan kepada ilmu serta kepada mereka yang mengajarkannya.
Rusaknya ruang pergaulan di sekolah mencerminkan hilangnya peran nilai-nilai agama dalam membentuk kepribadian generasi muda. Pendidikan yang semestinya membina akhlak dan karakter justru direduksi menjadi sekadar proses mencetak tenaga kerja.
Padahal, guru bukan hanya pengajar mata pelajaran, melainkan pendidik yang membentuk kepribadian dan arah hidup peserta didik sebagai penerus peradaban.
Krisis moral ini juga tidak bisa dilepaskan dari peran negara. Berbagai regulasi yang mengatasnamakan perlindungan anak sering diterapkan secara kaku tanpa mempertimbangkan esensi pendidikan.
Guru berada dalam posisi serba salah: ketika bersikap tegas demi mendidik, ia berisiko dikriminalisasi; ketika memilih diam, ia dituduh lalai. Dalam situasi seperti ini, negara tampak gagal hadir sebagai pelindung guru sekaligus penjaga arah pendidikan.
Inilah potret dampak sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem semacam ini melahirkan masyarakat yang jauh dari nilai-nilai spiritual dan moral, sehingga generasi muda tumbuh dengan minim akhlakul karimah. Kerusakan itu menjalar hingga ke akar, merusak relasi antara murid dan guru, antara ilmu dan adab.
Sistem Pendidikan Islam sebagai Solusi
Islam memandang pendidikan sebagai ibadah dan amanah. Tujuannya bukan sekadar mencerdaskan akal, tetapi membentuk kepribadian yang tunduk kepada Allah SWT. Allah berfirman:
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādilah: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa ilmu dalam Islam selalu terikat dengan iman. Pendidikan Islam menjadikan akidah sebagai fondasi, sehingga ilmu melahirkan ketundukan, bukan kesombongan; kecerdasan, bukan kebrutalan.
Inilah keunggulan sistem pendidikan Islam: membentuk generasi yang cerdas secara intelektual sekaligus mulia dalam adab dan akhlak. Pendidikan tidak melahirkan manusia bebas nilai, melainkan manusia yang sadar batasan dan tanggung jawab. Ia tidak melahirkan generasi agresif, tetapi generasi pemimpin peradaban.
Karena itu, jika kekerasan di dunia pendidikan terus berulang, masalahnya bukan terletak pada lemahnya guru atau kurangnya aturan, melainkan pada sistem yang keliru. Sudah saatnya umat berani berpaling dari sistem pendidikan sekuler-kapitalis yang terbukti gagal, dan kembali kepada sistem pendidikan Islam yang telah teruji sejarah dalam membangun peradaban gemilang. (*)
Wallahu a‘lam.
Penulis:
Ernawati
(Pemerhati Sosial dan Masyarakat)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.
















