OPINI—Tidak ada yang membenarkan pembunuhan anak-anak,” tulis Philippe Lazzarini, kepala badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA), di X pada hari Sabtu (5/4/2025) dikutip dari Arab News. Ia mengatakan Israel mengubah wilayah yang dikepung menjadi “tanah terlarang” bagi anak-anak dan menyesalkan bahwa “nyawa anak-anak” “dipotong dalam perang yang bukan disebabkan oleh anak-anak”.
Sejak perang di Gaza dimulai, sekitar 1,9 juta orang – termasuk ribuan anak-anak – telah mengalami pengungsian paksa berulang kali di tengah pemboman,ketakutan, dan kehilangan. sekitar 39.384 anak Palestina telah kehilangan satu atau kedua orang tua mereka akibat lebih dari 500 hari pengeboman brutal—angka ini dirilis menjelang Hari Anak Palestina pada 5 April 2025.
Tanah Palestina sudah menjadi tanah penduduk Palestina sejak peristiwa israk Mikraj nabi muhammad saw. Anak anak Gaza lahir dan besar di Palestina, tidak ada yang berhak atas tanah kelahiran mereka selain anak anak Gaza. Kebrutalan Zionis sungguh tiada batas nya melanggar gencatan senjata berulang kali. Tanpa pandang bulu Membunuh anak kecil tak berdosa, membantai orang tua dan sanak saudara mereka, sehingga tak kuasa kita menyaksikan kekejaman Zionis laknatullah itu.
Saat ini Zionis Israel kembali membombardir Gaza baru sejenak penduduk mersuka ria kini kembali dengan duka, warga Gaza terus berada dalam teror genosida Yahudi. Anak anak dengan jumlah yang tak terhitung lagi menjadi target kekejaman tak manusiawi Zionis.
Berbagai negara yang telah menyerukan gencatan senjata untuk warga Gaza seolah hanya gurauan bagi Israel, fakta nya gencatan senjata hanya akan terus dilanggar dan di abaikan. Berbagai upaya pun solusi tak ada yang betul betul efektif demi kedamaian warga Gaza di tanah mereka sendiri, mengangkat tema Hak asasi juga tak mampu mencegah keganasan penjajah Israel, hak anak anak Palestina jangan kan Hak mereka di tanah mereka sendiri untuk hidup pun mereka harus banyak berkorban, kehilangan rumah, sekolah dan peribadatan dan orang tua sudah sangat membuat mereka sakit.
Siapakah yang akan menyelamatkan masa depan anak anak Palestina jika umat islam hanya berdiam diri membisu, mereka kelak akan menuntut kita di hadapan Allah SWT atas tanggung jawab kita terhadap saudara seiman kita.
Seharusnya para penguasa tidak hanya menyerukan kecaman brutal Zionis Yahudi tapi seharusnya bertindak krna mereka yang punya wewenang”bahasanya” Khususnya dunia penguasa Arab dan dunia islam terhadap kejahatan Zionis Yahudi di Gaza.
Namun sekat nasionalisme yang memisahkan kesatuan umat Muslim dunia menjadi salah satu akar terbentang nya rasa peduli terhadap kesulitan yang sedang melanda umat Rosululloh di Palestina.
Berbeda dalam islam ajaran nasionalisme takkan diadopsi umat Muslim manapun jika benar benar menerapkan syariat islam, krna hanya dengan menerapkan syariat islam secara kaffah lah seruan jihad takkan hanya sekedar seruan saja seperi saat ini akan tetapi ummat akan terjun untuk melindungi dan membela warga Palestina.
Sungguh miris para penguasa besar tak mampu menghentikan kekejaman Zionis penjajah, hanya bisa berkumpul membahas masalah Palestina tapi tidak bisa memberi solusi yang kuat untuk warga Gaza, mereka berkuasa tapi lemah dibawa antek barat mereka lebih menyukai menjadi boneka barat yang menyesatkan iman mereka. Lantas apa lagi yang akan membuat mereka bangga memimpin manusia sedangkan rasa kemanusian nya telah sirna krna kekuasaan semata sedangkan lebih dari 2 juta jiwa manusia sedang di bantai habis habisan.
Rasulullah telah berpesan kepada umat Muslim, “salah seorang diantara kalian tidaklah beriman(dengan sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. (HR al bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan penting nya rasa cinta kepada sesama Muslim. Bahkan Rosululloh menafikan kesempurnaan iman seseorang sampai terwujud rasa kasih sayang kepada saudara seiman. Wallahualam. (*)
Penulis: Ernawati (Pegiat Literasi)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.










