PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Pria Paruh Baya Dianiaya di SPBU Labuaja BoneSetahun Butuh 2.200 Kantong Darah, PMI Toraja Utara Serukan Gerakan Donor TetapDugaan “Peternak Siluman” di Rombongan Bupati Bone, Pemkab Diminta Buka DataLahir di RSUD Jeneponto, Akta Kelahiran Tak Lagi Harus Antre di DukcapilAntrean BBM Padat, Pertamina Tambah 16 SPBU 24 Jam di MakassarBBM-LPG Sulsel Bikin Warga Menjerit, JMSI Sebut Terparah Sepanjang Indonesia MerdekaPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Pria Paruh Baya Dianiaya di SPBU Labuaja BoneSetahun Butuh 2.200 Kantong Darah, PMI Toraja Utara Serukan Gerakan Donor TetapDugaan “Peternak Siluman” di Rombongan Bupati Bone, Pemkab Diminta Buka DataLahir di RSUD Jeneponto, Akta Kelahiran Tak Lagi Harus Antre di DukcapilAntrean BBM Padat, Pertamina Tambah 16 SPBU 24 Jam di MakassarBBM-LPG Sulsel Bikin Warga Menjerit, JMSI Sebut Terparah Sepanjang Indonesia Merdeka
Opini

Derita Sunyi Anak Gaza: Luka yang Harus Diakhiri, Bukan Hanya Diobati

117
×

Derita Sunyi Anak Gaza: Luka yang Harus Diakhiri, Bukan Hanya Diobati

Sebarkan artikel ini
Ernawati (Pegiat Literasi)
Ernawati (Pegiat Literasi)

OPINI—Anak-anak adalah harapan masa depan, simbol kepolosan, dan makhluk yang seharusnya tumbuh dalam kasih sayang, kedamaian, dan keamanan. Namun, hal itu hanyalah mimpi yang jauh dari kenyataan bagi lebih dari satu juta anak yang tinggal di Jalur Gaza.

Di bawah bayang-bayang serangan yang tak henti-henti, masa kanak-kanak mereka direnggut secara paksa, digantikan oleh ketakutan, kehancuran, dan trauma yang mendalam.

Psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, dalam pernyataannya kepada BBC menegaskan satu fakta yang memilukan: setiap anak di Gaza kini hidup membawa beban trauma, bahkan sebagian besar di antaranya menderita dampak psikologis yang sangat parah.

Yang paling menyayat hati, banyak dari mereka hingga kehilangan kemampuan untuk berbicara—seolah suara kepolosan mereka telah dibungkam oleh rasa sakit yang terlalu besar untuk diungkapkan dengan kata-kata.

Kondisi menyedihkan yang dialami anak-anak Gaza ini bukanlah kejadian alami atau nasib yang harus mereka terima begitu saja. Derita sunyi yang mereka rasakan, hingga hilangnya kemampuan berkomunikasi, adalah dampak nyata dari serangan, pembunuhan, dan kehancuran yang terus dilakukan oleh entitas Zionis di atas tanah Palestina.

Tindakan yang terjadi di hadapan mata dunia ini bukan sekadar konflik biasa, melainkan sebuah skenario genosida yang disusun secara terencana, yang bertujuan tidak hanya menghancurkan fisik rakyat Palestina, tetapi juga mematikan mental, semangat, dan harapan mereka untuk bangkit kembali.

Anak-anak yang seharusnya belajar, bermain, dan bermimpi, kini tumbuh dengan ingatan akan ledakan, kehilangan orang terkasih, dan ketakutan yang tak pernah hilang dari hati dan pikiran mereka.

Yang lebih menyedihkan, kemanusiaan dunia seolah lumpuh di hadapan kejahatan ini. Berbagai organisasi internasional, negara-negara besar, dan pihak yang mengaku menjunjung tinggi keadilan hanya bisa memberikan bantuan kemanusiaan yang jumlahnya sangat sedikit dan tidak cukup untuk mengubah keadaan.

Mereka tidak berdaya, atau bahkan memilih diam, untuk menghentikan kekejaman yang terjadi setiap hari di Gaza. Hal ini semakin diperparah dengan sikap sebagian penguasa negara-negara Muslim yang justru melakukan tindakan pengkhianatan terhadap perjuangan saudara seiman mereka di Palestina.

Alih-alih berdiri tegak membela hak dan kehormatan sesama umat Islam, mereka lebih memilih kepentingan pribadi dan hubungan politik yang mengabaikan derita rakyat Palestina.

Hal ini menjadi bukti nyata bahwa umat Islam saat ini telah kehilangan perisai terkuat yang pernah melindungi hak, kehormatan, dan tanah air mereka, yaitu keberadaan institusi Khilafah Islam yang mampu menyatukan kekuatan, bersuara lantang, dan bertindak tegas demi kebenaran.

Melihat kenyataan pahit ini, kita harus menyadari bahwa derita anak-anak Palestina tidak bisa diakhiri hanya dengan memberikan terapi psikologis, bantuan obat-obatan, atau bantuan makanan saja. Hal-hal itu hanyalah pertolongan sesaat yang tidak akan menghapus luka asli yang ada di hati dan tubuh mereka.

Satu-satunya cara yang benar untuk mengembalikan senyum dan masa depan anak-anak Gaza adalah dengan membebaskan tanah air mereka sepenuhnya dari penjajahan dan kekuasaan entitas Zionis.

Kejahatan yang telah dan terus dilakukan harus dilawan dan diluruskan dengan perjuangan yang sungguh-sungguh, yaitu jihad fi sabilillah yang dilakukan untuk membela agama, tanah air, dan sesama manusia yang tertindas.

Namun, perjuangan besar ini tidak akan bisa berjalan dengan kuat, teratur, dan mencapai tujuan yang diinginkan jika tidak didukung oleh kekuatan institusi yang sah dan berdaulat. Di sinilah pentingnya peran Khilafah Islam.

Institusi inilah yang nantinya akan mampu mengumpulkan kekuatan seluruh umat Islam, menyusun langkah yang tepat, hingga mengirimkan kekuatan militer untuk membebaskan Palestina dari cengkeraman penjajah.

Oleh karena itu, menumbuhkan kesadaran untuk berjuang menegakkan kembali Khilafah Islam bukanlah hal yang sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak. Hal ini bukan hanya demi pembebasan tanah Palestina, tetapi juga demi menyatukan kembali hati, kekuatan, dan langkah seluruh umat Islam di seluruh dunia, agar tidak ada lagi saudara seiman yang tertindas, disakiti, dan menderita dalam kebisuan.

Anak-anak Gaza sudah terlalu lama menderita dalam diam. Suara mereka yang hilang adalah suara kebenaran yang menuntut keadilan. Sudah saatnya kita tidak hanya melihat, mendengar, dan bersedih, tetapi bergerak untuk mewujudkan kebebasan, persatuan, dan perlindungan yang sesungguhnya, agar luka di tanah suci Palestina akhirnya bisa kering dan sembuh sepenuhnya. (*)


Penulis:
Ernawati
(Pegiat Literasi)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com