OPINI—Hampir tiga tahun sejak serangan pada 7 Oktober 2023, situasi kemanusiaan di Palestina masih menjadi sorotan dunia. Rentetan serangan yang terus berlangsung menimbulkan dampak besar bagi warga sipil, tanpa mengenal waktu maupun tempat.
Aktivitas sehari-hari seperti beribadah, mengantre makanan dan minuman, hingga sekadar berjalan, kerap dibayangi rasa takut. Kondisi ini bahkan dirasakan pada momen sakral, termasuk bulan Ramadan dan Idulfitri.
Pada Jumat, 20 Maret 2026, warga Palestina tetap melaksanakan salat Idulfitri di tengah keterbatasan. Mereka beribadah di antara reruntuhan masjid dan kamp-kamp pengungsian, bahkan di atas tanah yang menjadi tempat jasad orang-orang terkasih mereka terkubur tanpa pemakaman yang layak.
Berbeda dengan suasana Idulfitri di berbagai belahan dunia, perayaan di Palestina berlangsung dalam kesederhanaan dan keprihatinan. Namun, semangat spiritual masyarakat tidak surut. Lebih dari 2,4 juta warga di Jalur Gaza tetap merayakan hari raya dengan gema takbir yang mencerminkan keteguhan iman di tengah situasi sulit.
Secara geografis, Palestina berada di kawasan yang dikelilingi negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Kondisi ini kerap menumbuhkan harapan akan kuatnya solidaritas berbasis persamaan keyakinan. Namun, realitas yang terjadi justru berbanding terbalik.
Harapan akan hadirnya dukungan dan perlindungan dari sesama justru kerap berbenturan dengan kepentingan politik dan ekonomi. Kekecewaan pun mencuat ketika sejumlah inisiatif yang diklaim sebagai upaya perdamaian dinilai tidak sepenuhnya berpihak pada keadilan bagi rakyat Palestina.
Dalam catatan sejarah, Palestina pernah berada di bawah kepemimpinan tokoh-tokoh besar seperti Khalifah Umar bin Khattab dan Salahuddin al-Ayyubi. Keduanya dikenal menunjukkan kesungguhan dalam membebaskan wilayah tersebut melalui strategi, perjuangan, dan kepemimpinan yang kuat.
Sejarah itu menjadi pengingat bahwa pembebasan tidak cukup dengan retorika. Diperlukan langkah nyata yang terarah, yang tidak justru menguntungkan pihak penjajah atau memperparah penderitaan rakyat Gaza.
Jika umat mendambakan hadirnya kembali kepemimpinan seperti pada masa itu, maka penting memahami landasan yang melatarbelakanginya, yakni keteguhan iman dalam menjalankan perintah Tuhan.
Di masa kini, mungkin masih ada individu atau kelompok yang memiliki tekad serupa. Namun, upaya tersebut kerap terhambat oleh situasi dan kepentingan negara, termasuk pertimbangan ekonomi serta relasi dengan kekuatan global.
Allah SWT berfirman:
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dizalimi. Dan sungguh, Allah Mahakuasa untuk menolong mereka.” (QS Al-Hajj: 39).
Pada titik ini, muncul pertanyaan mendasar: mengapa penderitaan yang dialami satu bagian umat tidak sepenuhnya dirasakan oleh bagian lainnya?
Jika umat diibaratkan sebagai satu tubuh, maka luka di satu sisi seharusnya menghadirkan rasa sakit yang sama di sisi lainnya. Namun realitas menunjukkan, kebahagiaan dan penderitaan belum sepenuhnya dirasakan bersama.
Karena itu, diperlukan kesadaran kolektif bahwa persatuan tidak cukup dimaknai sebagai ikatan emosional atau spiritual semata. Lebih dari itu, dibutuhkan kesatuan visi, arah, dan langkah yang mampu menghadirkan perlindungan nyata bagi seluruh umat.
Wallahu a’lam.
Penulis:
Nirwana Delfianti
(Aktivis Dakwah)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.








