JAKARTA—Peluncuran buku Teladan Sang Menteri di Masjid Istiqlal, Senin (6/4/2026), tak sekadar menjadi agenda seremonial. Momentum ini dibaca sebagai upaya mengonsolidasikan gagasan kepemimpinan publik berbasis nilai di tengah menguatnya kebutuhan akan figur teladan nasional.
Buku yang mengangkat sosok Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, itu ditulis tim akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan diluncurkan melalui kolaborasi dengan Pendidikan Kader Ulama (PKU) Masjid Istiqlal. Kolaborasi ini menandai pertemuan antara dunia kampus dan lembaga kaderisasi ulama dalam membangun wacana kepemimpinan berbasis keislaman moderat.
Tak berhenti pada narasi biografis, buku tersebut menawarkan refleksi lebih dalam tentang dimensi kepemimpinan, integritas, serta etika publik dalam perspektif keislaman dan kebangsaan. Di tengah sorotan terhadap krisis keteladanan di ruang publik, kehadiran buku ini menjadi relevan sebagai upaya menghadirkan model kepemimpinan yang berakar pada nilai moral dan spiritual.
Penulis utama, Mujiburrahman, menegaskan bahwa karya ini lahir dari perenungan panjang terhadap praktik kepemimpinan yang tidak hanya efektif secara administratif, tetapi juga kuat secara etis.
“Buku ini kami hadirkan bukan sekadar biografi, melainkan refleksi kepemimpinan yang bisa menjadi rujukan bagi masa depan bangsa,” ujarnya.
Ia berharap buku tersebut dapat menjadi pegangan bagi generasi muda, akademisi, hingga para pengambil kebijakan dalam membangun tata kelola pemerintahan yang berintegritas.
Sementara itu, Direktur PKU Masjid Istiqlal, Ahmad Thib Raya, menyebut peluncuran ini sebagai bagian dari penguatan tradisi intelektual Islam yang kontekstual.
“Ini bukan sekadar launching, tetapi ruang dialektika keilmuan. Kami ingin menghadirkan literasi kepemimpinan yang moderat dan relevan dengan tantangan zaman,” katanya.
Diskusi ilmiah yang menyertai peluncuran buku dijadwalkan menghadirkan akademisi, tokoh agama, dan publik intelektual, menjadikan forum ini sebagai ruang pertukaran gagasan lintas kalangan.
Lebih jauh, kegiatan ini menunjukkan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga keagamaan dalam memperkuat arah kepemimpinan nasional yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berakar pada nilai keislaman dan keindonesiaan.
Dengan dibukanya acara untuk berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa hingga tokoh masyarakat, peluncuran buku ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya diskursus baru tentang kepemimpinan publik yang lebih beretika, inklusif, dan berorientasi pada nilai. (Cr/Ag4ys)
Citizen Reporter: Muh Aras Prabowo
Artikel ini ditulis oleh Citizen Reporter. Isi dan gaya penulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi hanya melakukan penyuntingan seperlunya tanpa mengubah substansi.













