SELAYAR—Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Tahun Anggaran 2026 di Kabupaten Kepulauan Selayar langsung menunjukkan progres cepat. Baru memasuki hari kedua pelaksanaan, Kamis (23/4/2026), rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH) di Kelurahan Batangmata Sapo, Kecamatan Bontomatene, sudah mencapai 40 persen pengerjaan.
Program yang resmi dibuka sehari sebelumnya itu menjadi salah satu fokus utama TMMD Kodim 1415/Selayar dalam mempercepat pembangunan berbasis kebutuhan masyarakat desa. Sasaran RTLH kali ini menyasar rumah milik Andi Panawang (57), seorang petani asal Selayar yang selama ini tinggal di hunian dengan kondisi kurang layak.
Percepatan progres pembangunan tak lepas dari kolaborasi lintas sektor. Pekerjaan melibatkan 3 personel Kodim 1415/Selayar, 10 personel Satgas TMMD, 4 anggota Polres Selayar, serta dukungan 7 warga setempat yang ikut bergotong royong di lokasi.
Tahapan pekerjaan yang telah dilakukan meliputi pembersihan area rumah, pembongkaran dapur, hingga persiapan material seperti tiang dan balok untuk proses pembangunan lanjutan. Sinergi antara aparat dan masyarakat menjadi modal utama agar target penyelesaian dapat tercapai tepat waktu.
TMMD ke-128 resmi dibuka pada Rabu (22/4/2026) di Lapangan Kelurahan Batangmata Sapo. Pembukaan ditandai dengan penyerahan alat kerja dan pemasangan pita oleh Wakil Bupati Kepulauan Selayar, disaksikan unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, dan warga setempat.
Komandan Kodim 1415/Selayar sekaligus Dansatgas TMMD, Letkol Czi Yudo Haryanto, menegaskan TMMD tidak hanya fokus pada pembangunan fisik seperti jalan, jembatan, dan rumah warga, tetapi juga mencakup pemberdayaan masyarakat melalui edukasi dan penyuluhan.
Menurutnya, TMMD menjadi instrumen strategis untuk memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat sekaligus membantu pemerintah daerah mempercepat pemerataan pembangunan di wilayah pedesaan.
Program TMMD ke-128 di Selayar dijadwalkan berlangsung hingga 22 Mei 2026. Dengan progres cepat sejak hari pertama, program ini dinilai menjadi sinyal kuat bahwa pembangunan desa tak lagi sekadar seremoni, melainkan kerja nyata yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. (Ag4ys)












