TANA TORAJA — Gangguan kesehatan yang dialami sejumlah siswa SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Makale setelah mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum menemukan titik terang. Hingga Jumat (4/9/2026), sejumlah siswa masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Pantauan di RS Lakipadada, beberapa siswa masih mendapat penanganan medis di ruang Krisan 1, Krisan 2, Bugenvil dan Matahari. Dalam salah satu kamar, tiga siswa terlihat masih menjalani perawatan.
Salah seorang siswa SMP Negeri 1 Makale mengaku mengalami mual, sakit kepala dan diare beberapa jam setelah menyantap makanan MBG pada Rabu (2/9) siang. Keluhan berlanjut hingga subuh dan kondisinya semakin lemas pada keesokan harinya, disertai muntah dan diare.
Keluhan tersebut kemudian disampaikan melalui UKS sekolah. Sejumlah siswa dan guru yang mengalami gangguan kesehatan selanjutnya dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan.
Kejadian itu juga membuat sebagian siswa trauma. Salah seorang siswa bahkan mengaku takut kembali mengonsumsi makanan MBG.
Kekhawatiran serupa disampaikan orang tua siswa. Salah seorang orang tua mengaku untuk sementara tidak akan memberikan MBG kepada anaknya setelah sembuh. Jika program tetap berjalan, ia berharap pemerintah menyiapkan mekanisme penyaluran lain yang tetap menjamin manfaat bagi siswa.
Penanganan medis bahkan masih berlangsung hingga Jumat sore. Seorang siswi SMP Negeri 1 Makale baru dibawa orang tuanya ke UGD RS Fatimah setelah kondisinya semakin lemas.
Menurut orang tuanya, siswi tersebut telah mengalami muntaber sejak sehari sebelumnya. Saat sejumlah temannya lebih dulu mendapat perawatan di rumah sakit, ia masih berada di rumah.
Kondisinya yang terus melemah membuat orang tua akhirnya membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
DPRD Minta MBG Sementara Ditangguhkan

Persoalan ini kemudian dibahas dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPRD Tana Toraja bersama pemerintah daerah, pengelola KSPP/SPPG MBG, ahli gizi, pengawas area Tana Toraja, pihak sekolah, orang tua siswa dan media.
Rapat yang dipimpin pimpinan DPRD Tana Toraja bersama Sekretaris Daerah Tana Toraja tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi.
DPRD meminta pelaksanaan MBG pada Dapur SPPG Batupapan untuk sementara ditangguhkan sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel yang telah dikirim.
DPRD juga mendorong evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG, mulai dari pengadaan bahan makanan, proses pengolahan, pemeriksaan makanan hingga distribusi kepada penerima manfaat.
Pemeriksaan sampel makanan dan sampel dari siswa yang mengalami gangguan kesehatan juga diminta dipercepat guna membantu mengungkap penyebab kejadian.
DPRD turut mengusulkan pembentukan pos pengaduan atau layanan di sekolah agar orang tua dapat menyampaikan keluhan terkait pelaksanaan MBG secara langsung.
KPPG Tunggu Hasil Laboratorium

Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG)Kendari, Mulyadi, S.KM., M.Si., mengatakan pengawasan terhadap SPPG dilakukan secara berkala untuk memastikan seluruh persyaratan dan standar pelaksanaan program terpenuhi.
Pengawasan mencakup kompetensi pengelola dapur dan relawan, termasuk pelatihan serta penerapan standar operasional prosedur (SOP).
Menurutnya, apabila ditemukan ketidaksesuaian, KPPG dapat mengusulkan penghentian sementara agar pengelola melakukan perbaikan.
Terkait kejadian di Tana Toraja, Mulyadi mengatakan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Setelah hasil keluar, pengecekan terhadap SPPG yang berkaitan dengan kejadian tersebut akan dilakukan.
Mulyadi juga menyatakan akan memberikan dukungan kepada siswa terdampak, termasuk membantu penanganan biaya yang tidak ditanggung BPJS serta melakukan pemantauan langsung terhadap kondisi siswa di rumah sakit.
Hingga kini, belum ada kesimpulan resmi mengenai penyebab gangguan kesehatan tersebut. Karena hasil pemeriksaan laboratorium masih ditunggu, kejadian ini belum dapat dipastikan sebagai keracunan akibat makanan MBG.
Namun, persoalan ini menjadi alarm penting bagi pelaksanaan program MBG. Makanan yang diberikan kepada siswa bukan hanya harus bergizi, tetapi juga wajib dipastikan aman dikonsumsi. (4nny)













