PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Dilantik Jadi Menperin, Sarmuji Bawa Jejak Kepemimpinan KAUJE ke Kabinet Prabowo • KAHMI Sulsel Kenalkan Graha Hijau Hitam ke Wagub Fatmawati • Modifikasi Desil Demi Kesejahteraan? • Kabid Humas Polda Sulsel Serahkan Penghargaan, Polres Bone Borong Lima Prestasi • Pemkot Makassar Kaji Kantong Parkir, Balai Kota Jadi Lokasi Paling Mendesak • Bongkar Fakta Anak Indonesia Terjebak Dalam ‘Neraka’ Sekolah • PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Dilantik Jadi Menperin, Sarmuji Bawa Jejak Kepemimpinan KAUJE ke Kabinet Prabowo • KAHMI Sulsel Kenalkan Graha Hijau Hitam ke Wagub Fatmawati • Modifikasi Desil Demi Kesejahteraan? • Kabid Humas Polda Sulsel Serahkan Penghargaan, Polres Bone Borong Lima Prestasi • Pemkot Makassar Kaji Kantong Parkir, Balai Kota Jadi Lokasi Paling Mendesak • Bongkar Fakta Anak Indonesia Terjebak Dalam ‘Neraka’ Sekolah •
Opini

Bongkar Fakta Anak Indonesia Terjebak Dalam ‘Neraka’ Sekolah

10
×

Bongkar Fakta Anak Indonesia Terjebak Dalam ‘Neraka’ Sekolah

Sebarkan artikel ini
Nurfitrianti Vivi Saad, S.S., M.Pd.
Nurfitrianti Vivi Saad, S.S., M.Pd. (Pendidik Generasi Muslimah Barru)

OPINI—Setiap kali skor Programme for International Student Assessment (PISA) dirilis, publik kita biasanya langsung sibuk berdebat kusir soal naik-turunnya peringkat matematika, sains, atau kemampuan membaca anak-anak bangsa.

Namun, rilis PISA 2025 kali ini membawa tamparan yang jauh lebih keras bagi dunia pendidikan kita. Di balik angka-angka akademis yang stagnan, laporan tersebut menelanjangi satu fakta kelam yang mengerikan, yakni sebanyak 24 persen siswa di Indonesia mengaku mengalami tindakan perundungan (bullying) beberapa kali dalam kurun waktu satu bulan.

Angka kedaruratan ini resmi bertengger di atas rata-rata negara peserta OECD yang berada di kisaran 20 persen.

Secara statistik, rincian kasusnya pun membuat kita mengelus dada. Sebanyak 15,2 persen siswa dilaporkan kerap dijadikan bahan lelucon yang merendahkan martabat, 11,6 persen menjadi korban penyebaran rumor buruk, 7 persen terjebak dalam pusaran perundungan siber (cyberbullying), 5,6 persen mengalami kekerasan fisik berupa pukulan atau dorongan, dan 3,2 persen harus bertahan di bawah ancaman verbal siswa lain.

Ironisnya, realitas di lapangan justru jauh lebih ekstrem daripada sekadar angka di atas kertas. Publik baru saja dikejutkan oleh tragedi pilu di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, di mana tiga orang santri diduga kuat dibakar hidup-hidup oleh seniornya sendiri di dalam kamar kosong hanya karena melaporkan aksi perundungan.

Insiden sadistis tersebut mengakibatkan luka bakar parah hingga salah satu korban akhirnya meninggal dunia.

Jika kita mau jujur dan berpikir jernih, ledakan kasus perundungan yang semakin hari semakin brutal ini tidak boleh lagi dipandang sebagai kenakalan remaja biasa atau sebatas masalah kedisiplinan di ruang kelas.

Ini adalah potret kegagalan sistemis berskala makro. Akar masalah dari fenomena ini adalah penerapan sekularisme yang telah memisahkan nilai-nilai agama dari institusi kehidupan.

Ketika sekularisme diadopsi dalam dunia pendidikan, individu dan keluarga perlahan dijauhkan dari pemahaman Islam yang hakiki. Anak-anak tumbuh di dalam lingkungan yang hampa spiritual.

Mereka berkembang tanpa adanya benteng keimanan yang kokoh di dalam dadanya. Tanpa adanya kesadaran akan pengawasan vertikal dari Tuhan, tidak ada lagi rem internal yang mampu mencegah seorang anak untuk menyakiti atau merendahkan manusia lainnya.

Kondisi tersebut diperparah oleh rusaknya tatanan masyarakat yang terbentuk di bawah rahim sistem sekuler-kapitalis. Pola hidup kapitalistik melahirkan atmosfer sosial yang sangat permisif, individualistik, dan apatis.

Budaya bullying akhirnya mengalami normalisasi di tengah-tengah publik karena masyarakat mengidap penyakit egoisme akut. Frasa seperti “bukan urusan saya” atau “yang penting bukan anak dan keluarga saya yang jadi korban” menjadi tameng kemalasan sosial untuk peduli.

Akibatnya, kontrol sosial runtuh dan ruang-ruang publik berubah menjadi arena rimba yang tidak lagi ramah serta aman bagi tumbuh kembang anak.

Negara yang berlandaskan sekularisme-kapitalisme terbukti gagal total dalam mencetak generasi emas. Sistem pendidikan yang dijalankan saat ini hanya fokus mengejar target-target mekanis administratif dan hafalan akademis, tanpa pernah berhasil membentuk pola pikir (aqliyyah) dan pola sikap (nafsiyyah) yang mulia pada diri peserta didik.

Kegagalan sistemik ini disempurnakan oleh mandulnya penegakan hukum di negeri ini. Tidak adanya sanksi tegas yang memberikan efek jera membuat pelaku perundungan melenggang bebas tanpa rasa takut.

Berdalih pada perlindungan hak anak di bawah umur 17 tahun, para pelaku kejahatan siber maupun fisik dilindungi oleh hukum formal, sementara hak-hak psikologis dan fisik korban dibiarkan terbengkalai tanpa keadilan nyata.

Sebagai sebuah ideologi yang paripurna, Islam mengonstruksi solusi alternatif yang bersifat mendasar dan sistemis melalui tiga pilar pertahanan utamanya.

Pertama, Islam menempatkan akidah sebagai fondasi utama dalam pembentukan kepribadian individu dan keluarga sejak dini. Sistem pendidikan Islam akan mencetak anak-anak yang memiliki keimanan menghujam, di mana nilai ketakwaan dijadikan sebagai satu-satunya kendali mutlak dalam setiap ucapan dan perilakunya.

Seorang anak yang bertakwa akan memahami bahwa menyakiti saudaranya adalah dosa besar yang akan dihisab di akhirat kelak.

Kedua, Islam membangun ekosistem masyarakat yang aktif dan peduli melalui kewajiban amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran).

Masyarakat Islam didesain untuk tidak bersikap permisif terhadap segala bentuk kedzaliman. Ketika ada indikasi perundungan sekecil apa pun di hadapan mata mereka, masyarakat akan langsung bergerak melakukan intervensi dan pencegahan secara kolektif tanpa menunggu kasus tersebut menjadi viral terlebih dahulu.

Ketiga, institusi negara Islam (Khilafah) akan menerapkan sistem sanksi (uqubat) yang bersifat zawajir* (mencegah orang lain berbuat serupa) dan jawabir (penebus dosa bagi pelaku) secara adil.

Berdasarkan hukum peradilan Islam, tidak ada istilah wilayah abu-abu berdasarkan batas usia buatan manusia seperti angka 17 tahun. Batasan hukum dalam Islam adalah balig.

Setiap Muslim yang telah memasuki usia balig secara otomatis berstatus sebagai mukalaf yang wajib menanggung risiko hukum penuh atas segala perbuatan pidana yang dilakukannya, termasuk tindakan perundungan fisik maupun psikologis.

Rentetan kasus bullying yang marak hari ini adalah bukti empiris bahwa sistem pendidikan sekuler telah gagal total. Sudah saatnya kita beralih pada penerapan syariat Islam secara kaffah, demi mewujudkan lingkungan sekolah yang aman dan melahirkan generasi peradaban yang mulia. (*)


Penulis:
Nurfitrianti Vivi Saad, S.S., M.Pd.
(Pendidik Generasi Muslimah Barru)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Kirim Komentar

📢 Mohon utamakan adab, etika, dan sopan santun dalam berkomentar. Semua komentar akan melewati proses moderasi sebelum diterbitkan.

Konten dilindungi © Mediasulsel.com