PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • 6.472 PPPK Paruh Waktu Makassar Diperpanjang, 135 Pegawai Tak Masuk Usulan • KAHMI Sulsel Mulai Galang Dukungan Pembangunan Graha Hijau Hitam di Talasalapang • Distaru Makassar Sosialisasikan SLF, Tekankan Legalitas dan Keselamatan Bangunan Gedung • Krisis Biosolar Makassar, Sampai Kapan? • Menaker Minta BPVP Ukur Keberhasilan dari Alumni yang Bekerja • Mencari Nama Larompong • PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • 6.472 PPPK Paruh Waktu Makassar Diperpanjang, 135 Pegawai Tak Masuk Usulan • KAHMI Sulsel Mulai Galang Dukungan Pembangunan Graha Hijau Hitam di Talasalapang • Distaru Makassar Sosialisasikan SLF, Tekankan Legalitas dan Keselamatan Bangunan Gedung • Krisis Biosolar Makassar, Sampai Kapan? • Menaker Minta BPVP Ukur Keberhasilan dari Alumni yang Bekerja • Mencari Nama Larompong •
Opini

Mencari Nama Larompong

51
×

Mencari Nama Larompong

Sebarkan artikel ini
Mencari Nama Larompong
Epi Aresi Tansal (Pengelola Latansa Bimbel Belopa Luwu)

OPINI—Aruna yang indah perlahan tiba di pesisir selatan Luwu. Kabut yang biasa turun dari lereng Latimojong mengikuti alur sungai, menyelimuti hamparan sawah dan ladang. “Dirahmatilah tanah ini,” seolah demikian doa yang dilangitkan kabut dengan lembut dan santun kepada Dewata Seuwae.

Kabut bergerak melintasi daratan Luwu, lalu perlahan menghilang di antara semburat biru anggana Teluk Bone yang tenang. Dari kejauhan, perahu-perahu nelayan terlihat meninggalkan pantai. Hari pun dimulai, seperti hari-hari sibuk sebelumnya.

Tidak ada yang berubah. Tanah ini masih menyandang nama yang sama. Namun, tulisan ini bukan semata-mata tentang asal-usul sebuah nama.

Larompong, nama yang banyak dipertanyakan, merupakan salah satu wilayah di tanah Luwu yang menjadi nadi temporal bagi imperium bisnis PT HM Sampoerna Tbk.

Nama itu telah akrab di telinga masyarakat Luwu dari masa ke masa. Dari Larompong, lahir generasi-generasi yang berani merantau, meninggalkan tanah kelahiran untuk mencari kehidupan di negeri orang.

Mereka adalah generasi Sinbad yang berlayar mengikuti hembusan angin dan arus samudra, melintasi negeri-negeri jauh, menyibak cakrawala, hingga jejak pelayaran mereka menjangkau jalur Arab dan Eropa.

Namun, perjalanan panjang itu menyisakan satu pertanyaan yang tak pernah benar-benar terjawab. Ketika rekan-rekan seperjuangan di perantauan bertanya tentang tanah kelahiran para Sinbad, dari mana nama Larompong berasal dan seperti apa sesungguhnya kampung halaman mereka?

Jawabannya justru berhadapan dengan kesunyian. Tidak banyak arsip yang tersisa, tidak ada buku yang secara utuh menuturkan kisahnya, dan hanya sedikit catatan tertulis yang menggambarkan Larompong sebagaimana ia hidup dari masa ke masa.

Seolah-olah sejarah Larompong tidak ditulis dengan tinta. Ia diwariskan melalui ingatan, tuturan para leluhur, serta jejak langkah mereka yang pernah pergi dan kembali.

Mungkin, di sanalah kisah itu harus dimulai: mencari kembali sebuah nama, sebuah tanah kelahiran, dan cerita yang nyaris tenggelam di antara perjalanan ruang dan waktu.

Dokumen-dokumen pemerintahan hanya menyebut Larompong sebagai sebuah wilayah. Lontaraq lebih banyak mencatat silsilah raja, peperangan, dan perjalanan Kedatuan Luwu. Tak satu pun memberikan jawaban yang benar-benar memuaskan mengenai asal-usul nama tersebut.

Maka, sejarah berhenti pada fakta. Selebihnya adalah ingatan.

Di banyak kampung tua, ketika sejarah kehilangan jejak, masyarakat menyimpan jawabannya dalam cerita. Bukan untuk menggantikan sejarah, melainkan untuk menjaga makna yang tak sempat dituliskan.

Begitulah legenda tentang Larompong hidup. Konon, jauh sebelum wilayah ini dikenal sebagai jalur penting di pesisir Luwu, berdirilah sebuah perkampungan kecil di antara gunung dan laut.

Tanahnya subur, sungainya jernih, dan lautnya kaya ikan. Masyarakat hidup dari sawah, kebun, serta perahu-perahu kayu yang setiap pagi berangkat menyambut matahari.

Di kampung itu tinggal seorang pemuda bernama La Rompo. Ia bukan pemimpin, bukan pula bangsawan.

Ketika tetangganya gagal panen, ia datang membawa benih. Saat nelayan pulang tanpa tangkapan, dapurnya terbuka untuk semua. Ia percaya bahwa rezeki tidak pernah habis hanya karena dibagi.

Kemudian, musim berubah. Hujan tak lagi turun. Sungai mengecil, sawah mengering, dan pohon-pohon kehilangan daun. Laut pun seolah menutup pintunya, sementara perahu-perahu kembali tanpa hasil.

Kelaparan datang perlahan, mula-mula sebagai kekhawatiran, lalu berubah menjadi ketakutan. Sebagian orang mulai menyimpan hasil panen yang tersisa. Sebagian lainnya memilih pergi meninggalkan kampung.

Persaudaraan yang selama ini terasa kokoh mulai retak oleh rasa cemas.

Pada suatu senja, La Rompo mengajak seluruh warga berkumpul di sebuah batu besar yang menghadap laut. Tidak ada pidato panjang. Ia hanya berkata, “Bumi selalu cukup untuk orang-orang yang mau berbagi. Yang membuatnya terasa sempit adalah ketakutan manusia.”

Kalimat itu sederhana, tetapi cukup membuat orang-orang berhenti saling mencurigai. Mereka kembali bekerja bersama, membuat saluran air dari lereng gunung, mengumpulkan bahan makanan yang tersisa, dan memasak dalam satu tungku.

Tidak ada lagi rumah yang makan sendiri.

Pada malam ketujuh, seorang lelaki tua datang dari arah pantai. Tak seorang pun mengenalnya. Ia meminta seteguk air, padahal air merupakan barang paling berharga pada musim itu.

La Rompo memberikan tempayan terakhir yang dimilikinya. Lelaki tua itu hanya tersenyum.

Keesokan harinya, langit berubah. Awan bergulung dari timur. Hujan turun selama berhari-hari. Sungai kembali penuh, sawah menghijau, dan laut kembali menghadiahkan ikan kepada para nelayan.

Orang-orang percaya bahwa tamu malam itu bukan manusia biasa. Ia datang untuk melihat apakah kampung tersebut masih menyimpan rasa kemanusiaan.

Sebagai penanda syukur, nama La Rompo kemudian diabadikan. Dari mulut ke mulut, dari satu generasi ke generasi berikutnya, penyebutannya berubah perlahan: La Rompo, Larompo, hingga Larompong.

Tak ada yang tahu apakah kisah itu pernah benar-benar terjadi. Sejarah tak mencatatnya. Namun, legenda sering kali tidak lahir untuk menjelaskan apa yang pernah berlangsung, melainkan untuk mewariskan nilai yang dianggap berharga.

Barangkali itulah sebabnya cerita ini tetap bertahan. Bagi masyarakat, Larompong bukan sekadar nama sebuah wilayah di pesisir Luwu. Ia adalah pengingat bahwa sebuah kampung tidak dibangun hanya oleh tanah yang subur atau laut yang kaya.

Sebuah kampung tumbuh karena orang-orangnya memilih untuk saling menjaga, terutama ketika musim paling sulit datang.

Dan mungkin, seperti angin yang setiap pagi turun dari Latimojong menuju Teluk Bone, cerita itu akan terus berulang. Bukan karena semua orang mempercayainya, melainkan karena setiap generasi selalu membutuhkan alasan untuk mencintai tanah kelahirannya. (*)


Penulis:
Epi Aresi Tansal
(Pengelola Latansa Bimbel Belopa Luwu)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Kirim Komentar

📢 Mohon utamakan adab, etika, dan sopan santun dalam berkomentar. Semua komentar akan melewati proses moderasi sebelum diterbitkan.

Konten dilindungi © Mediasulsel.com