BONE — Sorotan terhadap pengadaan seragam devile Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bone untuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Selatan belum mereda. Setelah sebelumnya nilai seragam sebesar Rp900 ribu per set menjadi perhatian, kini Sekretaris Umum KONI Bone, Mukhlis, membeberkan rincian harga setiap perlengkapan.
Rincian itu disampaikan Mukhlis melalui pesan WhatsApp setelah dimintai penjelasan mengenai harga masing-masing barang dalam pengadaan seragam yang menuai pertanyaan publik.
Dalam keterangannya, Mukhlis menyebut harga tersebut mengacu pada proposal penyedia barang. Totalnya mencapai Rp900 ribu per set, dengan delapan kelompok harga yang mencakup sembilan item perlengkapan.
“Iye maaf baru sempat balas, sibuk persiapan bahan presentasi pertemuan Chief De Mission Meeting (CDM) Porprov, pertemuan semua ketua kontingen kabupaten kota, besok untuk kesiapan Bone sebagai tuan rumah Porprov,” tulis Mukhlis melalui WhatsApp, sebelum menyampaikan rincian harga.
Berikut rincian harga seragam devile yang disampaikan Mukhlis:
- Jaket dan celana training: Rp200.000
- Sepatu: Rp180.000
- Topi: Rp30.000
- Kaos kaki: Rp15.000
- Tas punggung: Rp150.000
- Handuk kecil: Rp30.000
- Baju kaos/jersey: Rp115.000
- Tas travel: Rp180.000
Jika dijumlahkan, seluruh komponen tersebut mencapai Rp900 ribu per set. Jaket dan celana training dihitung sebagai satu kelompok harga, meski terdiri atas dua barang.
Mukhlis juga menegaskan bahwa harga tersebut sudah memperhitungkan pajak yang menjadi tanggungan penyedia.
“Itu sudah termasuk pajak. Pajak sudah ditanggung oleh pihak penyedia barang,” jelasnya.
Harga Rp900 Ribu Masih Jadi Sorotan
Meski rincian harga telah disampaikan, pertanyaan mengenai kewajaran nilai pengadaan belum sepenuhnya terjawab. Rincian dalam proposal memberikan gambaran harga setiap komponen, tetapi belum dengan sendirinya menjelaskan kesesuaian harga tersebut dengan spesifikasi, merek, bahan, dan kualitas barang yang diterima.
Sebelumnya, Ketua KONI Bone, Asiswa Karim, mengakui pengadaan seragam devile dilakukan lebih dahulu sebelum anggaran tersedia. Keputusan tersebut, menurut dia, didasarkan pada kepercayaan kepada penyedia yang bersedia memenuhi kebutuhan kontingen.
“Atas dasar kepercayaan dengan penyedia, pengadaannya lebih duluan daripada anggarannya. Karena kalau mau tunggu anggaran dulu, maka tidak bakal bisa dipakai devile,” ungkap Asiswa dalam keterangannya sebelumnya.
Asiswa juga menyebut terdapat beberapa penyedia yang mengajukan penawaran. Namun, berdasarkan kesepakatan, KONI Bone memilih penyedia yang bersedia menanggung pajak.
Di sisi lain, seorang penerima seragam sebelumnya mengungkapkan perkiraan harga yang berbeda berdasarkan pengecekan harga pasar secara pribadi. Menurutnya, jika perlengkapan tersebut dibeli satuan, totalnya diperkirakan berada di kisaran Rp500 ribuan. Pembelian dalam jumlah besar, menurut dia, berpotensi membuat harga lebih rendah.
“Kalau kita beli satuan, sekitar 500-an harganya itu. Kalau partai banyak mungkin bisa lebih murah,” ujarnya.
Perbedaan perkiraan harga tersebut menjadi salah satu hal yang membuat pengadaan seragam devile KONI Bone menarik perhatian. Namun, perbandingan harga secara objektif tetap memerlukan pemeriksaan terhadap kesamaan spesifikasi, merek, kualitas, jumlah pembelian, serta komponen biaya yang diperhitungkan.
Dengan rincian harga yang kini telah disampaikan, perhatian berikutnya tertuju pada kesesuaian antara nilai pengadaan dan barang yang diterima. Transparansi dokumen pengadaan serta spesifikasi setiap perlengkapan menjadi penting agar publik memperoleh gambaran yang utuh mengenai penggunaan anggaran untuk kebutuhan kontingen Porprov Bone.(45r)








