MAKASSAR – Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya. Sekaitan dengan itu, para dai dan mubalig dipandang penting meningkatkan kualitas keilmuan terkait manajemen tahfizul (menghafal) Quran. Program tahfiz pada intinya bukan hanya mengajak menghafal, tetapi juga mengajak umat Islam memahami kandungan Alquran.
Menurut pengajar manajemen tahfizul Quran Ustaz Abdul Aziz Ridwan Lc, membaca Alquran adalah langkah membersihkan hati. Sebab hati manusia juga bisa berkarat seperti berkaratnya besi.
“Bersihkanlah hati dengan jalan membaca Alquran dan selalu ingat mati,” tuturnya saat menyampaikan materi dalam acara training of trainers (ToT) manajemen tahfizul Quran sistem halaqah di Masjid Raodhatul Jannah, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (21/9/2017).
Selain dari Sulawesi Selatan, peserta pelatihan merupakan utusan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Sulawesi Tenggara, LDII Sulawesi Tengah, LDII Sulawesi Barat, dan LDII Gorontalo.
Pelatihan yang dihadiri 600-an peserta ini digelar atas kerjasama Majelis Taujih wal Irsyad DPP LDII, DPW LDII Sulawesi Selatan, dan Pondok Pesantren Roudhotul Jannah Makassar.
Alumni Ma’had Haram Mekah ini mengemukakan, bila Alquran diibaratkan hidangan, maka hati adalah tempat menerima hidangan tersebut. Hati yang siap menerima hidangan Alquran hanyalah hatinya orang yang beriman. Jika
hati mati, maka ia tidak bisa menerima Alquran.
“Sebab itu, program tahfizul Quran adalah program menyiapkan diri kita dan generasi penerus siap menjadi wadah penerima hidangan Alquran. Dengan menghafal Alquran, kita bisa maksimal mempelajarinya,” tutur Ustaz Aziz Ridwan.

Alquran mengingatkan tentang lima hal
Pertama, Alquran mengingatkan tentang akidah dan keimanan, yaitu beriman pada Allah SWT, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan qadar.
Kedua, Quran mengingatkan ibadah yaitu shalat, zakat, puasa, dan haji. Ihwal ibadah, orang yang teledor dalam beribadah disebabkan karena ia kurang mengaji Alquran dan Hadis.
Ketiga, Alquran mengingatkan tentang muamalah. “Yaitu interaksi antara seseorang dengan orang lain. Misalnya, hubungan dengan tetangga, proses jual beli, dan tata cara pernikahan,” ujar Wakil Ketua Majelis Taujih wal Irsyad DPP LDII ini.
Keempat, Alquran mengingatkan tentang akhlak orang yang beriman. Alquran menjelaskan sifat-sifat yang baik. Jika seorang hamba dekat dengan Alquran, maka pasti ia menjadi orang baik. “Namun, jika seseorang jauh dari Alquran, maka pasti sifatnya jelek, sebab setan menjadi teman akrabnya,” sebut Pengajar Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri ini.
Kelima, Alquran mengingatkan tentang adab atau perilaku keseharian. Quran mengatur adab manusia sejak bangun tidur hingga tidur lagi. “Misanya, agar orang yang beriman banyak beribadah di waktu malam. Jika berjalan,
janganlah berjalan dengan sombong. Bersihkan hati dari penyakit hati,” imbuhnya.
Siapkan hati untuk menerima Alquran. “Meskipun anak-anak kita masih kecil, ajak mereka membaca dan menghafal Quran agar hati mereka bersih. Mobil kita, penuhi dengan lantunan ayat suci Alquran,” katanya.
Peserta DPD LDII Kabupaten Mamuju Utara, Ustaz Muhammad Tojin mengatakan, program tot manajemen tahfizul Quran adalah langkah menumbuhkan generasi Islam yang alim.
“Bagi saya, tot ini merupakan salah satu program yang menumbuhkan akhlakul karimah. Jika hafal Alquran, anak-anak kita akan mencontoh akhlak Alquran. Secara pribadi, Alquran akan mengarahkan dirinya tertib dalam beribadah. Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, akan terbentuk sifat jujur, amanah, rukun, kompak, dan bekerja sama yang baik,” imbuh Tojin yang juga pengurus biro pendidikan dan dakwah LDII Sulawesi Barat ini.
LDII Kabupaten Mamuju Utara mengutus 20 mubalig. Rinciannya, 15 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Adapun LDII Kabupaten Poso mengutus enam dai.
Peserta dari Kabupaten Poso Sulawesi Tengah, Ahmad Sanusi Abdillah, menguraikan, setelah mengikuti pelatihan, pihaknya akan menggiatkan program penghafal Alquran di Poso.
“Setelah saya mengikuti pelatihan, saya jadi tahu bahwa menghafal Quran tidak harus di madrasah. Di rumah pun bisa. Asalkan punya program yang jelas dan dukungan moril dan materil dari berbagai pihak,” ucapnya.
Pelatihan digelar sejak Selasa, 19 September 2017. Setelah tiga hari berlangsung, pelatihan resmi ditutup pada Kamis, 21 September 2017 malam. Penutupan ditandai pemberian sertifikat secara simbolis kepada perwakilan peserta. (*/shar)














