JAKARTA – Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak seperti ITB, LIPI dan BPPT.
Ada dua penyebab tsunami setinggi 0,5 meter-6 meter yang terjadi di Kota Palu dan Kabupaten Donggala tersebut.
Pertama dikarenakan adanya longsoran sedimen dasar laut di kedalaman 200-300 meter di Teluk Palu.
“Jadi banyak sungai-sungai yang bermuara ke Teluk Palu, membawa sedimen, di endapkan di dasar laut, namun belum terkonsolidasi dengan kuat, ketika di guncang gempa, 7,4 SR, akhirnya runtuh, longsor dan membangkitkan tsunami,”jelasnya.
Yang kedua, penyebab tsunami tersebut adalah disebabkan oleh gempa lokal, meskipun tinggi tsunami tidak sebesar akibat longsoran bawah laut.
Sutopo menambahkan bahwa memang daerah Palu dan Donggala Sulawesi Tengah ini merupakan daerah rawan tinggi terjadinya gempa bumi dan tsunami karena barada pada jalur sesar Palukoro.
Dia menjelaskan dalam sejarahnya daerah tersebut pernah mengalami gempa-gempa yang mematikan diikuti oleh tsunami dan menimbulkan korban. Yaitu pada tahun 1927, 1968 dan sebagainya. [VOA/shar]













