OPINI—Dunia saat ini dihebohkan dengan konflik yang terjadi antara Rusia-Ukraina. Badan pengungsi PBB menyatakan, 1 juta orang kini telah meninggalkan Ukraina sejak invasi Rusia dimulai kurang dari seminggu yang lalu.
Jika kita menarik mundur, konflik antara Rusia dan Ukraina telah memiliki kronologi yang panjang sejak tahun 1991. Pada momentum tersebut, Uni Soviet runtuh dan negara-negara yang tergabung di sana memisahkan diri.
Ukraina merupakan salah satu negara dari 15 negara yang kemudian segera mendeklarasikan kedaulatannya pada 4 Agustus 1991. Walaupun demikian, Rusia masih tetap ingin menguasainya, sedangkan Ukraina sendiri lebih memilih mendekat ke Uni Eropa.
Melalui pidatonya di sebuah stasiun TV pada 21 Februari 2022, Putin menyebut Ukraina sebagai bagian integral dari sejarah Rusia. Ia juga mengatakan, Ukraina dipimpin oleh rezim ‘boneka’ dengan kekuatan asing di baliknya. Putin memerintahkan ‘pasukan penjaga perdamaian’ menuju dua wilayah yang memisahkan diri di timur Ukraina yakni Luhansk dan Donetsk, usai mengakui dua wilayah tersebut sebagai wilayah yang merdeka.
Para pemimpin separatis yang didukung Rusia kemudian meminta bantuan Rusia untuk menangkis agresi dari tentara Ukraina pada 23 Februari. Sehari setelahnya, Putin pun mengizinkan perlakuan ‘operasi militer khusus’ di Ukraina. Pasukan Rusia memulai serangan rudal dan artileri hingga menyerang kota-kota besar Ukraina termasuk Kyiv.
Hingga pada 26 Februari, pihak Sekutu Barat merespons hal ini dan menjatuhkan sanksi baru kepada Rusia. Termasuk pembatasan bank sentral Rusia dan mengeluarkan Rusia dari sistem transaksi antar bank global atau SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication).
Sanksi kepada Rusia ini pun terus berlanjut hingga 27 Februari. Pasukan Rusia kemudian mulai maju menuju tiga kota besar Ukraina yakni, Kyiv, Kharkiv dan Kherson.
Pada 28 Februari, Ukraina mengajukan diri untuk bergabung dengan Uni Eropa. Pihak Rusia dan Ukraina pun sepakat untuk mengadakan perundingan pertama di perbatasan Belarusia. Perundingan pun selesai setelah lima jam tanpa ada kesepakatan.
Selama perundingan berlangsung, Rusia tidak berhenti menghentikan serangannya, terutama di Kharkiv, kota terbesar kedua di Ukraina. Namun, Perwakilan Tetap Rusia untuk Dewan Keamanan PBB menyangkal pasukan Rusia menargetkan warga sipil. Majelis Umum PBB menyebut, lebih dari 500 ribu orang Ukraina telah meninggalkan negara itu.
Pasukan Rusia berkumpul di sepanjang 65 km pinggiran Kyiv. Serangan juga meningkat di Kharkiv dan Mariupol di timur, serta Kherson di bagian selatan Ukraina. Presiden Zelenskyy kemudian meminta negara-negara Barat memberlakukan zona larangan terbang bagi pesawat Rusia.
Namun, AS menolak dengan alasan hal itu dapat menyeret Washington dalam konflik langsung dengan Moskow, menurut Sekretaris Pers Gedung Putih Jen Psaki.
Terbaru, pada 2 Maret kemarin, Majelis Umum PBB menyetujui resolusi tidak mengikat yang mengutuk Rusia atas invasinya ke Ukraina dan menuntut mereka untuk menarik pasukannya dari sana. Resolusi tersebut didukung oleh 141 dari 193 negara anggota majelis PBB. Tiga puluh lima negara anggota, termasuk China memilih abstain.
Ketika kita perlahan belajar menelaah rentetan sejarah panjang konflik panjang antara Rusia dan Ukraina ini memunculkan pertanyaan sederhana yang paling mendasar, mengapa Rusia begitu berambisi dengan invasi wilayahnya ke Ukraina dan melakukan klaim sepihak atas kepenguasaannya dihadapan publik?
Dilansir dari businesstoday.in, dinyatakan bahwa kekayaan sumberdaya alam yang terkandung di Ukraina menjadi salah satu alasan utama. Ukraina di masa depan adalah hotspot sumber daya alam yang belum tersentuh dan belum dimanfaatkan secara maksimal.
Sumber lain dari laman website britannica.com dan ukraineinvest.gov.ua menampilkan data bahwa Ukraina memiliki sumber daya mineral yang sangat kaya dan saling melengkapi dalam konsentrasi tinggi dan berdekatan satu sama lain.

















