Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Algoritma: Rentenir Baru yang Mengincar Generasi Muda

775
×

Algoritma: Rentenir Baru yang Mengincar Generasi Muda

Sebarkan artikel ini
Algoritma: Rentenir Baru yang Mengincar Generasi Muda
Mansyuriah, S.S. (Aktivis Muslimah Makassar Urban Forum)

OPINI—Di tengah krisis ekonomi yang menggigit generasi muda, ada musuh baru yang bekerja jauh lebih halus dibanding rentenir zaman dulu: algoritma. Ia tak mengetuk pintu, tak mengancam dengan suara keras, tetapi memburu lewat layar ponsel dengan presisi yang hampir sempurna.

Anak muda yang hidup dengan ekonomi terbatas kini menjadi sasaran utama iklan judi online dan pinjaman online, bukan karena mereka lemah, tetapi karena sistem digital tahu persis kapan mereka rentan dan apa yang ingin mereka dengar.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Algoritma membaca gelisah mereka, menghitung pola pencarian, lalu menayangkan “solusi instan” tepat ketika mereka sedang butuh uang atau hiburan murah.

Lebih mengkhawatirkan lagi, data menunjukkan bahwa jebakan ini bekerja. Dilansir dari Kompas.com (28-11-2025) Riset Fakultas Ekonomi Unpar menemukan bahwa sebanyak 58% Gen Z menggunakan pinjol bukan untuk kebutuhan darurat, tetapi untuk gaya hidup dan hiburan.

Mulai dari membeli gadget terbaru, nongkrong, sampai top-up game. Ini bukan semata pilihan individual, ini adalah hasil dari lingkungan digital yang secara agresif mempromosikan konsumsi instan sebagai simbol kelayakan sosial. Ketika standar hidup dibentuk oleh konten-konten glossy di media sosial, pinjol menjadi akses jalan pintas yang tampak “normal”.

Tak heran, angka pinjaman pemuda melonjak tajam, sebagaimana dicatat OJK. Ada 80 persen Gen Z mempertimbangkan kemudahan mendapatkan uang ketika dia butuh sesuatu.

Rekening pinjaman usia muda naik dari tahun ke tahun, menandakan bahwa generasi yang seharusnya sedang membangun masa depan justru terperangkap dalam siklus utang sejak dini.

Kita sedang menyaksikan fenomena sistemik: algoritma, tekanan sosial, dan industri kapitalis bergabung menciptakan perangkap yang menghantui masa depan anak muda Indonesia.

Judol dan Pinjol Jadi Perangkap Sistemik

Krisis yang menjerat generasi muda hari ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia adalah hasil dari himpitan ekonomi yang lahir dari sistem Kapitalisme, sistem yang menjadikan kelayakan hidup sebagai komoditas dan membuka ruang kesenjangan sedemikian lebar.

Bagi banyak anak muda yang tumbuh dalam kondisi ekonomi terbatas, godaan jalan pintas seperti judi online dan pinjaman online menjadi ilusi solusi cepat. Ketika akses terhadap pekerjaan layak semakin sempit, sementara tuntutan sosial terus meningkat, opsi instan seperti judol dan pinjol tampak sebagai “pelarian rasional”, padahal sesungguhnya perangkap yang disiapkan dengan sangat sistematis.

Namun akar persoalan ini lebih dalam dari sekadar ekonomi. Negara telah gagal membentengi generasi dari nilai-nilai sekuler dan materialistik yang mendominasi sistem pendidikan dan ruang sosial.

Anak muda dididik untuk mengejar capaian materi, tetapi tidak dibekali landasan moral yang kokoh untuk menilai risiko, menahan diri, atau memahami dampak spekulasi finansial.

Akibatnya, mereka tumbuh dalam lingkungan yang mendorong pencapaian instan, gaya hidup konsumtif, dan pandangan dunia yang sempit: bahwa nilai seseorang ditentukan oleh apa yang ia miliki, bukan siapa ia sebagai manusia.

Di saat yang sama, ruang digital yang menjadi tempat hidup generasi ini dikuasai oleh logika Kapitalisme yang dingin: platform hanya peduli pada engagement, bukan keselamatan pengguna.

Algoritma bekerja memetakan kebiasaan dan kelemahan psikologis, lalu menyodorkan iklan atau konten yang memaksimalkan keuntungan perusahaan, sekalipun itu berarti mempercepat kehancuran finansial dan mental anak muda.

Dengan demikian, generasi bukan hanya menjadi korban, tetapi juga menjadi pasar objek yang dieksploitasi tanpa perlindungan yang memadai dari negara maupun sistem nilai yang ada.

Fenomena ini membuktikan bahwa krisis generasi bukan sekadar kesalahan individu, melainkan hasil dari sistem yang salah arah sejak fondasinya.

Konstruksi Islam

Di tengah kegagalan sistem Kapitalisme merawat generasi, Islam menawarkan konstruksi peradaban yang berbeda secara mendasar, baik pada aspek ekonomi, pendidikan, maupun tata kelola ruang digital.

Dalam sistem ekonomi Islam, kesejahteraan bukanlah produk kompetisi bebas atau permainan pasar, tetapi tanggung jawab negara yang wajib dipenuhi secara langsung kepada setiap individu.

Mekanisme distribusi kepemilikan, pengelolaan sumber daya alam, serta larangan riba dan spekulasi menjadi pagar kokoh yang mencegah masyarakat terjerumus pada krisis struktural seperti yang terjadi hari ini. Dengan demikian, generasi tidak perlu mencari jalan pintas seperti pinjol atau judol, karena kebutuhan dasar mereka terjamin dalam sistem yang adil dan stabil.

Lebih jauh, pendidikan Islam membentuk generasi dengan kepribadian Islam yakni cara berpikir dan cara bersikap yang berlandaskan halal dan haram, bukan sekadar manfaat materi.

Pendidikan tidak sebatas mencetak tenaga kerja bagi pasar, tetapi membangun manusia yang sadar tujuan hidup, mampu menahan hawa nafsu, dan memiliki standar moral yang kuat dalam mengambil keputusan. Generasi dengan karakter seperti ini tidak mudah tergoda oleh iming-iming kekayaan instan atau perilaku spekulatif.

Pada level teknologi, Negasa Islam akan membangun infrastruktur digital berdasarkan paradigma Islam. Artinya, ruang digital bukan dibiarkan dikuasai logika komersial yang mengutamakan engagement, tetapi dikontrol agar tetap menjadi sarana yang aman bagi masyarakat.

Konten merusak, normalisasi maksiat, eksploitasi seksual, perjudian, dan kriminalitas tidak diberi ruang untuk tumbuh. Algoritma dirancang bukan untuk “memanen perhatian” rakyat, tetapi menjaga kemaslahatan mereka.

Akhirnya, generasi Muslim harus menyadari identitasnya sebagai pembangun peradaban. Mereka perlu terlibat dalam pembinaan Islam, menguatkan tsaqafah, dan bergerak bersama kelompok dakwah Islam ideologis yang bekerja untuk menegakkan kembali sistem yang mampu melindungi dan mengangkat martabat mereka.

Hanya dengan konstruksi Islam, generasi dapat keluar dari perangkap sistemik Kapitalisme dan kembali berdiri sebagai pelopor perubahan. Wallahu a’lam. (*)


Penulis:
Mansyuriah, S.S.
(Aktivis Muslimah Makassar Urban Forum)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!