MARYLAND, AS – Sekolah-sekolah negeri di negara bagian Maryland, AS, mulai tahun 2021 akan tutup pada hari raya Idul Fitri, sebuah perubahan besar yang membahagiakan banyak keluarga Muslim di Amerika. Perubahan yang terkesan ringan ini berhasil diwujudkan lewat perjuangan panjang para aktivis Muslim di AS.

“Kalau hari raya Idul Fitri jatuh pada hari sekolah, saya terpaksa bolos, dan catatan absen itu muncul di buka rapor. Saya tidak suka itu.” Hal tersebut diungkapkan seorang pelajar Muslim kelas empat SD di Montgomery, Maryland, yang bernama Musa Siddiqi.

Namun kini pelajar yang mengaku tidak pernah bolos ini tak perlu mengkhawatirkan hal itu lagi. Paling tidak, mulai tahun depan, tahun 2021, sekolahnya akan libur pada hari raya Idul Fitri.

Montgomery County Board of Education -semacam Dewan Pendidikan Montgomery- memutuskan bahwa pada kalender pendidikan tahun 2020-2021, sekolah akan ditutup pada hari Idul Fitri yang jatuh pada tanggal 13 Mei 2021. Keputusan yang diambil pada pada Desember 2019 itu diperkirakan akan berlaku juga pada tahun-tahun berikutnya.

Tidak hanya itu. Dewan Pendidikan itu juga memutuskan, sekolah-sekolah negeri yang berada dalam sistem sekolah di daerah Montgomery akan tutup pada Tahun Baru Imlek, yang jatuh pada tanggal 12 Februari 2021. Tahun baru Imlek dirayakan banyak keluarga Asia di Amerika.

Aktivis Muslim Zeinab Chaudry menyambut keputusan itu, namun menyesalkan keputusan itu baru akan berlaku pada tahun depan, bukan tahun ini. Ia mengatakan, meskipun ketidakhadiran pelajar Muslim di kelas pada hari besar Muslim dimaklumi, keputusan sekolah untuk tetap buka merugikan pelajar Muslim.

“Kelas tetap berjalan. Guru tetap mengajar. Pelajar Muslim yang absen terpaksa ketinggalan pelajaran. Kalau ujian kebetulan jatuh pada hari besar Muslim, mereka juga akan terpaksa mencari hari pengganti ujian,” kata Chaudry .

Chaudry mengatakan, hal tersebut memang sebuah kemajuan. Selama ini, sekolah-sekolah di Montgomery tidak pernah libur pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha -dua hari besar dalam kalender Islam. Namun, menurutnya, keputusan ini dirasa kurang adil mengingat sekolah-sekolah tutup pada dua hari besar Yahudi dan selama beberapa hari pada Natal dan Paskah.

Charles Haynes, pakar agama dan pendidikan di Religious Freedom Center di Washington, mengatakan ia sependapat dengan Chaudry.

“Amerika Serikat saat ini adalah salah satu negara di dunia dengan agama yang paling beragam. Semakin banyak minoritas agama angkat bicara dan mengatakan, ‘hey kami ada di sini juga. Anda mengakomodasi kebutuhan orang-orang Kristen dan Yahudi dalam kalender pendidikan. Bagaimana dengan kami?” kata Haynes.

Pengertian sekolah tutup di sini sebetulnya juga tidak sepenuhnya benar. Pada hari Idul Fitri dan Tahun Baru Imlek, para pelajar memang diliburkan, namun para staf sekolah tetap harus bekerja seperti biasanya. Dewan Pendidikan menyebut hari itu sebagai hari pengembangan profesional, di mana para guru dan staf lain membahas berbagai hal untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan karir mereka.

Usaha untuk meliburkan sekolah pada Idul Fitri sudah berlangsung sejak tahun 2014, namun menghadapi berbagai kendala. Tahun 2017, Dewan Pendidikan Montgomery bahkan sempat menghapus semua hari besar agama dari daftar hari libur sekolah karena banyaknya tuntutan akan perlakuan yang sama terhadap agama-agama lain. Namun kemudian mereka merevisinya. Pada tahun 2019, mereka mulai mempertimbangkan Idul Fitri sebagai hari libur sekolah.

Derek Turner, juru bicara Asosiasi Sekolah-sekolah Negeri di Montgomery mengatakan, keputusan Dewan Pendidikan Kabupaten Montgomery mencerminkan guru-guru dan pihak berwenang dunia pendidikan menginginkan agar semua pelajar merasa aman, diterima dan dihormati di sekolah mereka masing-masing. [voa]