MEDIASULSEL.COM—Di antara ribuan sahabat Nabi Muhammad SAW, ada satu nama yang justru tak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah. Namun keutamaannya disebut langsung oleh Nabi. Dialah Uwais Al-Qarni, seorang pemuda miskin dari Yaman yang mengabdikan hidupnya untuk merawat ibunya. Kisahnya menjadi salah satu teladan paling kuat tentang bakti kepada orang tua dalam sejarah Islam.
Di jazirah Yaman, berabad-abad lalu, hiduplah seorang pemuda sederhana bernama Uwais Al-Qarni. Ia bukan bangsawan, bukan pula orang terpandang. Hidupnya jauh dari kemewahan. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Uwais hanya bekerja sebagai penggembala.
Namun di balik kesederhanaannya, Uwais dikenal sebagai pribadi yang sangat saleh dan penuh kasih. Seluruh hidupnya ia dedikasikan untuk merawat ibunya yang telah renta dan mengalami kelumpuhan.
Ibunya adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki di dunia.
Rindu Bertemu Rasulullah
Ketika kabar tentang kerasulan Nabi Muhammad SAW sampai ke Yaman, hati Uwais bergetar. Ia menerima Islam dengan penuh keyakinan, meski belum pernah melihat Rasulullah.
Kerinduannya untuk bertemu Nabi begitu besar.
Suatu hari, Uwais memohon izin kepada ibunya untuk pergi ke Madinah. Ia ingin melihat langsung Rasulullah yang sangat ia cintai.
Ibunya mengizinkan dengan satu syarat.
Ia hanya boleh pergi sebentar, tidak boleh lama meninggalkan sang ibu yang sakit.
Uwais menerima syarat itu.
Dengan penuh harap, ia melakukan perjalanan panjang dari Yaman menuju Madinah. Perjalanan yang pada masa itu memakan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu.
Namun ketika ia tiba di Madinah, takdir berkata lain.
Rasulullah sedang tidak berada di rumah.
Karena terikat janji kepada ibunya untuk tidak lama pergi, Uwais akhirnya memutuskan kembali ke Yaman tanpa sempat bertemu Nabi.
Keputusan itu menjadi bukti besarnya bakti Uwais kepada ibunya.
Ia memilih menaati ibunya daripada menuruti kerinduannya kepada Rasulullah.
Nama yang Disebut Rasulullah
Meski tak pernah bertemu, Rasulullah justru mengetahui siapa Uwais.
Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad SAW berkata kepada para sahabatnya:
“Akan datang kepada kalian seorang laki-laki dari Yaman bernama Uwais Al-Qarni. Ia memiliki ibu yang sangat ia hormati. Dahulu ia menderita penyakit kulit lalu sembuh kecuali sebesar dirham. Jika kalian bertemu dengannya, mintalah ia memohonkan ampun untuk kalian.”
(HR. Muslim)
Hadis ini mengejutkan para sahabat.
Bagaimana mungkin seseorang yang tidak pernah bertemu Rasulullah justru dipuji sedemikian tinggi?
Jawabannya adalah karena ketulusan ibadah dan baktinya kepada ibunya.
Pertemuan dengan Umar dan Ali
Beberapa tahun setelah wafatnya Rasulullah, rombongan dari Yaman datang ke Madinah. Khalifah Umar bin Khattab bersama Ali bin Abi Thalib kemudian mencari sosok bernama Uwais Al-Qarni.
Setiap kali rombongan Yaman datang, Umar selalu bertanya.
“Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais Al-Qarni?”
Pada suatu kesempatan, mereka akhirnya menemukan sosok yang dimaksud.
Ia tampak sangat sederhana. Pakaiannya biasa saja, bahkan tampak lusuh.
Ketika Umar menanyakan apakah ia memiliki ibu yang masih hidup, Uwais menjawab iya.
Ketika ditanya apakah ia pernah menderita penyakit kulit, Uwais juga membenarkannya.
Saat itulah Umar dan Ali menyadari bahwa mereka sedang berdiri di hadapan orang yang disebut langsung oleh Rasulullah.
Umar kemudian berkata kepada Uwais:
“Mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk kami.”
Uwais terkejut.
Ia merasa dirinya bukan siapa-siapa. Namun Umar tetap memintanya berdoa.
Akhirnya Uwais berdoa memohonkan ampun bagi kedua sahabat besar tersebut.
Menolak Popularitas
Meski dipuji oleh Rasulullah dan dihormati para sahabat, Uwais tetap memilih hidup dalam kesederhanaan.
Ia tidak ingin dikenal.
Ia tidak mencari kedudukan.
Bahkan ia memilih meninggalkan Madinah dan kembali menjalani kehidupan biasa sebagai orang yang tidak dikenal.
Keikhlasan itu menjadi bagian dari keagungan pribadinya.
Gugur di Medan Perang
Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Uwais kemudian ikut dalam perjuangan kaum Muslimin pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib.
Ia gugur sebagai syahid dalam Perang Shiffin, sekitar tahun 657 M.
Meski hidupnya sederhana dan hampir tak dikenal manusia, namanya justru dikenal luas dalam sejarah Islam.
Pelajaran dari Kisah Uwais Al-Qarni
Kisah Uwais Al-Qarni menjadi pelajaran besar bagi umat Islam.
Bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari popularitas, jabatan, atau kekayaan.
Melainkan dari keikhlasan hati, ketaatan kepada Allah, dan bakti kepada orang tua.
Uwais tidak pernah bertemu Rasulullah.
Namun cintanya kepada Nabi dan baktinya kepada ibunya menjadikannya sosok yang dihormati para sahabat dan dikenang sepanjang sejarah.
Kisah ini juga menjadi pengingat bahwa doa orang yang tulus dan hidup dalam ketaatan memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah SWT.
Di tengah dunia yang sering mengukur nilai seseorang dari popularitas dan kekuasaan, kisah Uwais Al-Qarni justru menunjukkan bahwa kemuliaan sejati sering lahir dari kehidupan yang paling sederhana. (*)








