OPINI—Walau momentum Hari Sumpah Pemuda sudah berlalu beberapa pekan lalu. Namun, momen yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober menjadi salah satu rutinitas ceremonial yang tidak pernah dilewatkan pemuda.
Beraneka cara dilakukan demi mengaktualisasikan diri, tetapi sangat miris meneropong kondisi pemuda hari ini. Di tengah kemajuan teknologi dan tsunami informasi, berbagai kerusakan terus terpampang di depan mata. Ke mana sebenarnya arah pergerakan dan perubahan pemuda yang ingin digapai?
Salah satu agenda yang kerap dilakukan pemuda adalah melakukan aksi di jalanan. Hal ini menjadi dilema, sebab aksi tersebut seakan tidak mempresentasikan sebagai seorang pemuda intelek. Walau banyak dari peserta aksi adalah mahasiswa dan atau komunitas Islam.
Bahkan beberapa dari organisasi kemahasiswaan, yang notabene seorang intelektual dengan basic pergerakan. Dimana mereka adalah cerminan figur pemuda masa kini. Dari sana terlihat, betapa pemuda saat ini miskin visi sekaligus gagap misi.
Seperti dikutip dari news.republika.co.id (29/10/2023), tujuh mahasiswa diamankan petugas kepolisian saat menggelar aksi memperingati Hari Sumpah 28 Oktober 2023. Mereka dianggap melebihi batas waktu penyampaian aspirasi dan dinilai telah mengganggu ketertiban serta arus lalu-lintas di bawah fly over Makassar, Sulawesi Selatan.
Jika ruhnya adalah aktualisasi diri dalam rangka memprotes berbagai kebijakan penguasa yang keliru dan menyengsarakan rakyat, tetapi tidak dilandasi dengan metode dan uslub yang benar, maka akan didapati kesia-siaan. Bahkan banyak pihak yang akan mencemooh karena beberapa kepentingan orang banyak menjadi terganggu. Inilah jika sebuah aktivitas tidak berasaskan dengan ide dasar (akidah) dan metode (thoriqoh) yang benar.
Pemuda Hari Ini
Apa kabar pemuda hari ini? Hampir semua lini didapati kerusakan, dimana dominan aktornya adalah pemuda. Banyaknya kasus bunuh diri dengan beraneka motif mengindikasikan bahwa pemuda hari ini sudah sampai pada taraf yang sangat mengkhawatirkan sekaligus menyedihkan. Sosok pemuda yang dianalogikan sebagai generasi stroberi sangat relate dengan kondisi generasi saat ini. Dirilis dari berbagai sumber, diantaranya (makassar.kompas.com, 16/7/2023).
Belum terkait kriminalitas. Di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Makassar begitu banyak terjadi kerusakan. Angka yang dirilis di berbagai platform, menunjukkan kondisi pemuda sedang sakit parah. Pemuda yang terjerat narkoba, begal, bullying, pembunuhan, pemerkosaan, dan segudang kerusakan terus disorot dalam berbagai media.
Padahal, masa depan sebuah peradaban ditentukan oleh pemuda hari ini. Jika demikian faktanya, rasanya harapan untuk perubahan ke arah yang benar seakan sangat jauh. Beragam fenomena kerusakan pemuda terus menggelayut.
Media online dipenuhi dengan konten-konten hoax dan spam. Pun realitas di dunia nyata tidak berbeda jauh. Pemuda seperti kehilangan visi besarnya sebagai agent of change berasaskan aturan Ilahi. Lalu, dengan sistem apa perubahan bisa diwujudkan?
Sistem yang Mampu Mencetak Pemuda Unggul
Sejarah peradaban Islam mencetak pemuda-pemuda tangguh. Selama kurun waktu sekitar 1300 tahun lamanya, terlahir pemuda-pemuda yang menjadi garda terdepan dalam perubahan hakiki. Sebutlah Ali bin Abi Thalib, pemuda cerdas yang menjadi khalifah ke-4.
Ada pula Harun Ar Rasyid, di usia 15 tahun sudah memimpin puluhan ribu pasukan muslimin untuk membebaskan Benteng Samalou yang dimiliki Romawi. Setelah itu beliau dipercaya menjadi Gubernur Azerbaijan dan Armenia.
Siapa tak mengenal nama Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, yang lebih masyhur dengan sebutan Imam Syafi’i. Usia 7 tahun, beliau sudah menghapal Al-Qur’an dan usia 10 tahun sudah menghapal kitab Hadis Al Muwatho’ karya Imam Malik. Di usia 15 tahun, oleh Ulama besar Makkah beliau diizinkan memberi fatwa kepada masyarakat. Masyaallah! Pertanyaanya adalah bagaimana instrumen negara dalam mencetak generasi unggul sekaliber Imam Syafi’i dkk.?
Islam sebagai sebuah sistem kehidupan, bukan sekadar agama ritualitas belaka. Sebagai sebuah sistem, Islam sangat sempurna mengatur semua hal. Mulai dari urusan individu rakyat hingga perkara politik luar negeri. Diatur berlandaskan akidah Islam. Menyandarkan semua hal pada hukum buatan Sang Pencipta, meniscayakan kesempurnaan dan menciptakan kesejahteraan.
Komprehensif-nya sistem Islam terlihat pada semua lini kehidupan. Misal dalam aspek pendidikan. Di antara hal yang harus mendapat perhatian ekstra adalah konstruksi kurikulum, selain support system sarana dan prasarana yang mumpuni.
Pun visi pendidikan Islam yang didesain berasaskan akidah Islam, melahirkan generasi berpola pikir dan berpola sikap islami. Tidak dikenal dikotomi pendidikan, yakni terpisahnya pendidikan sains dan agama seperti dalam sistem saat ini.
Paling urgen dan asasi adalah peran negara dalam memastikan seluruh individu rakyat terpenuhi kebutuhan pokok individu dan publiknya secara layak. Syariat memberi amanah kepada kepala negara (khalifah/amirul mukminin) untuk melaksanakan kewajiban tersebut. Konsekuensi hukum wajib dalam sistem Islam adalah berdosa ketika tidak terlaksana dan atau abai.
Inilah kolaborasi apik sistem Islam dalam menjalankan seluruh aturan Allah Swt., termasuk sistem pendidikan yang hakikatnya sebagai mesin pencetak generasi. Jika ingin pemuda hari ini menjadi pemuda tangguh dan bervisi akhirat sebagaimana saat Islam diterapkan dalam sebuah negara, maka solusi satu-satunya adalah menjadikan Islam sebagai way of life. Di mana negara hadir untuk mengatur seluruh aspek kehidupan dengan aturan dari Sang Pemilik Kehidupan, Allah ‘Azza wa Jalla. (*)
Wallahualam bis Showab.
Penulis
Dr. Suryani Syahrir, S.T., M.T.
(Dosen Teknik Sipil dan Pemerhati Generasi)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.















