OPINI—Penggalan lirik lagu anak-anak diatas sangat terkenal di zamannya. Walaupun sudah lama, namun faktanya masih ada disekitar kita. Namun, bukan hanya anak-anak yang mendamba baju baru. Ternyata, orang dewasa pun tak mau kalah. Bila benar, itu tak masalah selagi diperoleh dengan uang sendiri dengan cara halal.

Heboh, anggaran baju dinas DPRD  yang fantastis membuat masyarakat meringis. Miris mendengarnya, kala masyarakat sedang berjuang bertahan hidup di masa pandemi. Tersiar berita anggaran baju dinas wakil rakyat yang fantastis.

Sebelumnya, heboh anggaran baju dinas dengan bahan ternama, Louis Vuitton untuk anggota DPRD Kota Tangerang. Kini, berita datang dari anggaran baju dinas anggota DPRD Sulawesi Selatan hampir Rp1 miliar.
Seperti dikutip dari Suara.com (16/8/2021)  Sekretaris DPRD Sulsel, Muhammad Jabir mengatakan, anggaran untuk pengadaan baju dinas 85 anggota dewan mencapai Rp935 juta.

Fantastis, nilai yang sangat tinggi bagi masyarakat menengah keatas apalagi kebawah. Walau sebagian anggota DPRD Sulsel menilai suatu kewajaran.

Berbeda dengan Peneliti senior Lembaga Pemantauan Legislatif (Kopel) Indonesia, Herman mengomentari anggaran fantastis itu.

Ia menyayangkan pengadaan baju dinas DPRD Sulsel mencapai Rp1 miliar di tengah pandemi Covid-19. Padahal menurutnya, masyarakat sedang dihadapkan berbagai masalah dampak pandemi, (Suara.Com,16/8/2021). Memilukan, inilah fakta dari kesekian, yang belum terungkap membuat mungkin lebih banyak lagi.

Hidup Mewah Ala Demokrasi

Demokrasi yang diagungkan-agungkan sebagai sistem pemerintahan yang adil dan beradab perlu dikaji ulang. Demokrasi telah mengatur hak-hak segelintir ‘rakyat‘ saja. Menghasilkan penguasa yang ‘kepekaannya’ rendah.

Hati nurani yang semestinya digunakan untuk melayani rakyat. Justru, berbalik arah. Terlebih, disaat sulit seperti ini. Tidak membuat hati mereka tersentuh dengan masih berseliwerannya  rakyat mencari makan ditengah masih tingginya pandemi.

Demokrasi lahir dari ide barat, kapitalis-sekuler. Ide dasar inilah yang terus membayangi demokrasi menjadi sistem kehidupan. Melindungi segala hak-hak rakyat dengan kekuatan hukum. Jika persoalan menyentuh segelintir ‘rakyat’, maka digunakan untuk melindungi hak-hak individunya. Ketika menyentuh persoalan rakyat secara menyeluruh, ia kehilangan eksistensi.

Pengadaan baju dinas DPRD Sulsel menjadi salah satu fakta yang tak terbantahkan. Nampaknya, kepentingan rakyat merupakan nomor kesekian.

Rakyat telah memberi kepercayaan kepada wakil rakyat untuk mengurusinya. Sepertinya, hanya tinggal impian sulit untuk direalisasikan. Mengapa? sebab harga yang harus dibayar untuk menjadi seorang anggota DPRD tidaklah murah. Sulit untuk mengedepankan kepentingan rakyat, dikala belum kembali modal. Jadinya, hanya sibuk dengan program-program mensejahterakan rakyat, tetapi belum ada ada realisasi yang signifikan.

Ide kapitalis-sekuler telah tertancap kuat di tengah-tengah masyarakat. Telah diemban setiap individu bahkan negara. Ide dasar yang mengedepankan keuntungan semata tanpa memandang norma agama. Akar masalah yang tak berujung ini. Mengajarkan hidup mewah (hedonis) hanya untuk memperoleh kesenangan semata.

Pemimpin hasil demokrasi sangat banyak di tengah-tengah masyarakat. Tour liburan ke luar negeri dan koleksi barang-barang branded mengisi laman-laman berita. Bukan suatu yang aneh lagi, menjadi tren dikalangan elit yang mempunyai jabatan.

Sekali lagi, itu merupakan hal yang wajar sebab harga untuk menjadi seorang anggota wakil rakyat sangat mahal. Hasilnya muncul  mental-mental ‘oknum’ pemimpin yang tujuannya hanya untuk memperoleh kesenangan hidup, mewah.

Pemimpin Dalam Pandangan Syariah
Rasulullah SAW bersabda, ‘Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.’
(HR Ibnu Asakir, Abu Nu’aim).

Hadist diatas menjelaskan posisi pemimpin. Pemimpin tak ubahnya pelayan, melayani rakyatnya. Tidak menyusahkan apalagi mendzoliminya. Pemimpin mencintai rakyatnya, sebaliknya rakyat mencintai pemimpinnya. Mereka sama-sama ridho satu sama lain. Merasakan lapar sebelum rakyat merasakannya. Begitulah kisah Amirul Mukminin Umar bin Khattab ketika memimpin rakyatnya. Kisah itu telah masyhur di tengah masyarakat,  tatkala pada malam hari ketika berpatroli mengontrol wilayahnya. Beliau Mendengar tangisan dua anak  menangis tanpa henti di sebuah pondok sederhana. Setelah ditelisik, hal itu sebabkan rasa lapar yang dirasakan mereka.

Singkatnya, Sang Khalifah tak kuasa menahan rasa takut kepada Allah SWT akan kelalaiannya sebagai pemimpin. Kemudian, dengan tangannya mengantarkan bahan makanan ke pondok keluarga yang kelaparan. Kisah selengkapnya dapat dibaca dalam buku ‘The Khalifah’ karya Abdul Latip Thalib.

Hal yang mustahil, mendapati pemimpin layaknya Umar bin Khattab dan para pemimpin muslim di masa kini. Sebab, arah pandang yang sangat jauh berbeda dalam memandang kehidupan. Pemimpin yang penuh tanggungjawab dan takut hanya kepada Allah SWT hanya didapati dalam sistem Islam yang menerapkan Islam secara kaffah. Output pemimpin dalam sistem Islam sangat jauh berbeda dengan output pemimpin demokrasi yang penuh intrik.

Maka, jelas lahirnya pemimpin yang baik sebab adanya sistem yang baik. Begitupun sebaliknya lahirnya pemimpin yang buruk, sebab adanya sistem yang buruk. Oleh sebab itu, berharap kebaikan pada negeri tentunya tidak berhenti pada pemimpin yang baik. Tetapi, lebih dari itu berupaya untuk menghadirkan sistem yang baik.

Dengan demikian, pemimpin dambaan umat segera terwujud. Menjadi pembela rakyat ketika merasa tertindas. Menjadi pelayan yang penuh kelembutan dan tanggungjawab terhadap semua rakyat.

Patut direnungkan pesan yang mendalam dari baginda Rasulullah SAW bagi para pemimpin saat ini. Rasulullah SAW bersabda:

Sungguh, manusia yang paling dicintai Allah pada Hari Kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah ialah pemimpin yang adil. Orang yang paling dibenci Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah pemimpin yang zalim” (HR Tirmidzi).

Semoga Allah SWT segera menghadirkan pemimpin dambaan umat seperti para pemimpin kaum Muslim terdahulu. Dengan segera menerapkan Islam secara kaffah. Wallahu’alam bish-shawwab. (*)

Penulis: Nurmia Yasin Limpo, S.S (Pemerhati Sosial Masyarakat)

***

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.