Kedua, berbasis kapitalistik. Paradigma pembangunan di negeri ini berdasar atas kepentingan kapitalis. Apa yang kita saksikan hari ini sudah sangat tergambar jelas, bagaimana pembangunan di semua aspek kehidupan seolah hanya menguntungkan para kapital.
Jikapun ada hal yang bisa mendatangkan manfaat untuk rakyat marginal, tetapi sejatinya hanyalah lip service para kapital untuk memuluskan kepentingan besarnya. Terbukti fakta yang dirasakan rakyat adalah derita berkepanjangan dari setiap aktivitas pembangunan tersebut.
Ketiga, dominan masyarakat buta politik. Akibat asas yang keliru tadi, membuat masalah demi masalah terus berdatangan. Kerusakan di hampir semua lini kehidupan, tak bisa dielakkan.
Diperparah dengan kemunduran taraf berpikir politik, sehingga membuat rakyat seolah amnesia. Lupa akan bahaya yang menghadang di setiap aktivitas pembangunan yang tidak memperhatikan tata ruang dan tata uang, sehingga hanya akan mendapatkan residu pembangunan.
Keempat, masyarakat sudah jumud oleh beragamnya kerusakan. Permasalahan hidup yang seakan tak pernah berhenti, membuat rakyat hanya disibukkan untuk memenuhi hajat hidup primernya.
Tak lagi bisa membagi pikiran dan waktu di luar kebutuhan pokok tersebut. Walaupun masih ada segelintir orang yang tampil ke publik untuk menyuarakan kebenaran/kebaikan, tetapi cengkeraman sistem sekuler kapitalis begitu kuat karena ditopang oleh negara.
Kembalikan Fungsi Ruang Air
Air sebagai salah satu sumber daya alam yang melimpah di negeri ini, seyogianya menjadi rahmat bagi seluruh alam. Bukan malah menjadi bencana, seperti yang dirasakan masyarakat Makassar dan sekitarnya saat ini.
Sebenarnya bukan kali ini saja dan bukan hanya di Makassar saja. Namun, fenomena banjir terus berulang di hampir semua wilayah Indonesia.
Jika dicermati secara cerdas, akan terlihat bahwa bencana banjir di atas bukan hanya perkara teknis, tetapi sistemik. Mengapa demikian?
Sebab, jika hanya perkara teknis, Indonesia memiliki banyak pakar dalam bidang hidrologi, tata ruang, dan yang terkait dengan hal tersebut.
Pun, fenomena banjir tersebut tidak akan terus berulang karena akan dikaji dan dievaluasi oleh para ahlinya. Namun, realitanya tidak demikian. Bahkan terjadi dalam skala yang lebih luas dan intensitas yang makin tinggi.












