Oleh karenanya, problem banjir harus diselesaikan dengan paradigma baru. Paradigma pembangunan yang melibatkan keseluruhan kerjasama sistem.
Sistem terbaik yang telah terbukti mampu menyelesaikan seluruh permasalahan hidup, baik teknis maupun nonteknis. Berbasis ketakwaan kepada Sang Khalik, meniscayakan mampu menyolusi fenomena banjir dan permasalahan hidup lainnya.
Sudah menjadi pemahaman bersama bahwa air diturunkan Allah Swt. ke muka bumi sebagai rahmat bagi seluruh alam. Namun, karena tata kelola yang keliru membuat air hujan yang mengguyur bumi menjadi bencana. Padahal sudah sangat jelas peringatan itu dalam firman-Nya.
Sebagaimana dalam QS. An-Nahl ayat 65, yang artinya:
“Allah menurunkan air (hujan) dari langit dan dengannya (air itu) Allah menghidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mendengarkan (pelajaran dengan perhatian dan penghayatan).”
Maka, solusi atas permasalahan banjir akibat pembangunan yang berasaskan sekuler kapitalis adalah mengembalikan fungsi air sesuai kodratnya. Dimana fungsi itu hanya akan bisa berjalan jika menggunakan sistem yang berasal dari Sang Pencipta manusia dan seluruh isi semesta.
Sistem Islam yang diterapkan secara paripurna oleh negara. Dimana sudah terbukti dalam sejarah panjang selama 1300 tahun mampu menyejahterakan rakyat dalam semua aspek kehidupan, tanpa diskriminasi. Wallahualam bis Showab. (*)
Penulis: Dr. Suryani Syahrir, ST, MT (Dosen Teknik Sipil dan Pemerhati Sosial)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.












