Beras Ketan Langka Dipasar, Pedagang Kue Tradisional Menjerit

MEDIASULSEL.com – Meski Puasa masih kurang lebih 27 hari lagi, namun beras ketan utuh yang biasanya dijadikan bahan dasar pembuatan kue-kue tradisional mulai sulit didapatkan di pasar-pasar. Kalaupun ada, biasanya harganya mulai merangkak naik dan sudah banyak dicampur dengan beras biasa.

Hal itu diakui oleh Hj. Marlina, seorang penjual kue tradisional asal kota Pare-pare, yang harus rela berburu beras ketan utuh hingga kota Makassar, sabtu, (29/4/2017).

“Saya sengaja ke Makassar untuk mencari beras ketan utuh sebagai bahan untuk membuat kue yang akan saya jual di bulan puasa nanti. Tetapi sampai sini (Makassar-red) keadaannya sama saja dengan di Parepare. Kalupun didapat selain harganya sudah naik, barangnya juga tidak bagus,” ucap Hj. Lina kepada mediasulsel.com.

Sementara itu menurut, Direktur PT. Liva Tetra, sebuah perusahaan yang biasanya memasok kebutuhan beras ketan utuh di wailayah Indonesia Timur, Sujana Saputra, SH, MH, situasi jelang Ramadhan saat ini. Kebutuhan beras ketan hitam untuk wilayah Indonesia Timur tidak mampu dia penuhi sebagaimana biasanya.

“Jelang ramadhan tahun ini, memang kita kesulitan untuk memperoleh beras ketan hitam utuh. Sehingga perusahaan kami tidak lagi mampu memasok secara penuh kebutuhan beras ketan itu untuk Indonesia Timur,” terang Sujana melalui saluran telepon.

Berita Lainnya

Di sisi lain menurut Sujana, kelangkaan beras ketan utuh itu, sebetulnya sudah diprediksi jauh-jauh hari, karena lanjut Sujana, pada umumnya petani enggan menanam beras jenis ini. Karena dianggap tidak menguntungkan.

Selain itu masih menurut Sujana, lahan pertanian di hampir seluruh wilayah Indonesia yang sudah banyak yang beralih fungsi, juga menjadi salah satu penyebab kurangnya pasokan beras ketan hitam utuh itu.

Lihat Juga:  Jajanan Kuliner Pasar Cidu Diduga Pemicu Keramaian

“Kelangkaan ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya banyaknya lahan pertanian yang sudah beralih fungsi, hampir di seluruh wilayah Indonesia. Dan juga karena petani pada umunya enggan menanam padi jenis ini, karena dianggap tidak menguntungkan,” terang nya.

Lebih lanjut Sijana mengkhawatirkan kelak keberadaan penganan tradisional yang berbahan baku beras ketan utuh ini akan hilang. Karena para pelaku industri makanan tradisional kesulitan memperoleh bahan baku, dan selanjutnya masyarakat terpaksa hanya menikmati kue-kue pabrikan yang berbahan non ketan utuh.

“Saya khawatir suatu saat kita tidak lagi bisa menikmati kue tradisional, karena sulitnya bahan baku. Olehnya itu, pemerintah harus kembali menggalakan produksi beras ketan seiring dengan itu membuka keran import beras ketan utuh ini. Lalu setiap importer diwajibkan misalnya harus membeli produksi petani 10 hingga 15 % dari total koutanya,” imbuh Sujana.

Dengan cara itu Sujana yakin, kelangkaan bisa diatasi, daya serap produksi petani juga meningkat. Sehingga petani jadi terangsang kembali untuk menanam beras ketan utuh itu. Industri penganan tradisional yang lumayan menyerap tenaga kerja itu dapat berkembang kembali.

“Kalo kelangkaan dapat diatasi dengan cara itu, saya yakin petani akan bergairah kembali menanm beras ketan. Lantas seiring dengan itu industri kue tradisional akan ikut bergairah, yang artinya selain kita menyelamatkan kue-kue tradisional untuk tetap eksis. Secara otomatis akan juga membuka lapangan kerja yang tidak sedikit,” pungkas Sujana. (464YS)

Berita terkait