Masalah Mesin Diduga Penyebab Jatuhnya Pesawat Lion Air JT610
Salah satu pesawat milik maskapai penerbangan Lion Air, saat lepas landas dari bandara internasional Juanda, Surabaya, 12 Mei 2012. (Foto: dok).

MAKASSAR—Peristiwa jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air 9 Januari 2021 rute Jakarta – Pontianak, mengingatkan kembali detik- detik paling menegangkan di atas pesawat Lion Air rute Makasar – Bali dua tahun silam.

Sekitar 10 menit setelah lepas landas pesawat Lion Air yang tumpangi Darman Banredu, Jurnalis Mediasulsel.com terpaksa kembali mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar Sulsel.

Sebulan kemudian pesawat Lion Air tersebut mengalami kecelakaan jatuh di Perairan Tanjung Karawan

Ketika itu, Darman bersama lima pengurus PDIP dari Ranting dan Cabang Kota Makassar. Salah seorang diantara mereka adalah anggota DPRD Kota Makassar, HM. Munir Mangkana, SH selaku pimpinan rombongan.

Siang itu 26 September 2018, ia berenam menempati kursi agak depan menikmati ayunan pesawat yang sedikit demi sedikit mulai terangkat melepaskan cengkraman rodanya dari aspal landasan menuju angkasa.

Perasaan was-was mulai muncul  sesaat setelah lepas landas akibat posisi pesawat menanjak dengan kekuatan penuh melawan gaya gravitasi bumi, sehingga pesawat yang tadinya di landasan terasa berada dalam kecepatan penuh, tiba-tiba terasa seakan akan tidak bergerak.

Namun, ketika pesawat berada pada ketinggian yang bisa terbang datar maka perasaan saya mulai legah dan tenang.

Hanya saja sekitar 10 menit setelah lepas landas, terdengar pengumuman dari crew pesawat memerintahkan supaya seat belt dikencangkan karena cuaca tidak bersahabat. Iapun langsung tengok keluar melalui jendela tapi langit masih tampak cerah walaupun terlihat gumpalan-gumpalan awan tipis sehingga langit masih kelihatan biru.

Saya tetap penasaran dan diam sambil berdoa meminta keselamatan dan perlindungan kepada Allah SWT. Dalam benak saya biasanya kalau cuaca buruk pasti terjadi goncangan pesawat sedangkan ini tidak ada goncangan,” imbuhnya.

Sesaat kemudian, kata Darman, terdengar lagi informasi dari sumber yang sama bahwa akibat ada masalah maka pesawat segera kembali mendarat ke Bandara Sultan Hasanuddin.

Dalam penerbangan pesawat menuju pendaratan, ia menengok kanan, kiri dan belakang tampaknya para penumpang tegang. Jantung ini berdebar-debar sambil berdoa dan menantikan pendaratan yang selamat dari musibah.

Atas Kuasa Allah Yang Maha Esa, maka pilot handal itu sukses mendaratkan pesawat yang sedang bermasalah tersebut,” kisahnya.

Ratusan penumpang turun menuju gedung sambil menunggu pesawat lain alias terjadi pergantian pesawat. Karena pesawat yang terpaksa kembali mendarat itu diduga ada kendali pesawat yang tidak berfungsi dengan baik sehingga perlu pemeliharaan.

“Dalam situasi yang cukup menegangkan itu ternyata ada salah seorang teman saya yang masih sempat bercanda. Begitu entengnya telepon sang istri. Halo mama, kamu hampir kaya karena seandainya pesawat yang saya tumpangi jatuh maka kamu dapat uang duka satu miliar,” ungkapnya menirukan.

Satu bulan dua hari kemudian, tepatnya 29 Oktober 2018, pesawat Lion Air tersebut rute Jakarta – Pangkal Pinang mengalami kecelakaan jatuh di Perairan Tanjung Karawan.

Ketika itu ia sempat merenungkan bahwa seandainya pilot tidak segera mendaratkan pesawat kembali ke Bandara Sultan Hasnuddin waktu itu, berarti pesawat tersebut akan jatu juga.

Satu tahun kemudian, 25 Oktober 2019, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melaporkan hasil temuannya bahwa Pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta – Pangkal Pinang mengalami kecelakaan akibat adanya kendali pesawat bermasalah.

Artinya mirip permasalahan dengan pesawat Lion Air yang ia pernah tumpangi. Jadi pesawat bisa mengalami kecelakaan karena alam (cuaca buruk) dan human error. (*)