MAKASSAR—Nama Andi Riska Respati tak sekadar muncul sebagai mahasiswa berprestasi. Ia tampil sebagai representasi generasi muda yang melesat cepat—mengunci capaian akademik, menembus forum internasional, hingga menutup studinya dengan nyaris tanpa celah.
Mahasiswi Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin ini resmi menyabet Juara 1 Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) kategori paripurna tingkat fakultas tahun 2026. Capaian ini bukan sekadar gelar, melainkan akumulasi dari konsistensi performa akademik dan rekam jejak prestasi yang solid.
Riska mencatatkan Capaian Unggulan (CU) tertinggi, menempatkannya di posisi puncak setelah melewati serangkaian seleksi ketat. Mulai dari penilaian portofolio prestasi, penyusunan dan presentasi gagasan kreatif, hingga uji kemampuan bahasa Inggris melalui wawancara langsung.
Dari puluhan peserta, hanya delapan orang yang lolos hingga tahap akhir untuk mewakili FISIP di tingkat universitas. Riska berdiri paling depan.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung Dekan FISIP, Prof. Dr. Phil Sukri, M.Si., Selasa (7/4/2026). Namun, capaian Riska tak berhenti di level lokal.
Di panggung internasional, ia tampil menonjol dengan meraih predikat Best Speaker dalam ajang Youth Inter-action and Exploration (YIAE) #3 yang digelar lintas negara—Malaysia, Singapura, dan Thailand. Penghargaan ini menjadi penegas kapasitasnya dalam komunikasi, ketajaman berpikir, dan daya saing di forum global.
Tak hanya itu, pada tahun 2025, Riska juga terpilih sebagai Duta Bahasa Berbakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, serta Duta Literasi Universitas Hasanuddin. Dua peran ini memperlihatkan komitmennya dalam menguatkan literasi dan menjaga eksistensi bahasa sebagai identitas bangsa.
Di ruang akademik, Riska menutup studinya dengan capaian nyaris sempurna. Ia lulus dengan predikat cum laude dengan IPK 3,96—bahkan menyelesaikan ujian skripsi tanpa revisi, sebuah capaian langka di kalangan mahasiswa, dan ia resmi diwisuda pada 1 April 2026 lalu.
Pengalaman internasionalnya juga tak berhenti pada forum kompetisi. Riska aktif sebagai presenter dalam International Student Symposium dan terlibat langsung dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Malaysia.
Menariknya, pengalaman lapangan tersebut ia tarik menjadi pijakan akademik. Skripsinya mengangkat isu pemenuhan hak pendidikan anak Indonesia di Malaysia—menghubungkan realitas sosial dengan kajian ilmiah yang relevan dan kontekstual.
Di luar kampus, Riska dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan pemberdayaan. Ia terlibat sebagai fasilitator, relawan, hingga penggerak program edukasi, khususnya bagi anak-anak dan pelajar.
Rangkaian capaian ini menegaskan satu hal: Riska bukan hanya tentang prestasi di atas kertas. Ia adalah potret mahasiswa yang bergerak, berdampak, dan mampu menjembatani ruang akademik dengan realitas sosial—dari Makassar hingga panggung dunia. (Ag4ys)













