Beranda » Opini » Dengan Jari Tanpa Sadar Membantu Terorisme
Opini

Dengan Jari Tanpa Sadar Membantu Terorisme

SEBELUM memasuki bulan suci ramadhan, kita di kagetkan dengan peristiwa bom bunuh diri di kampung melayu, Jakarta. Kepolisian mengklaim bahwa peledakan bom bunuh diri ini adalah kelompok terorisme ISIS, kelompok teroris yang paling giat meneror negeri ini dan beberapa negara lainnya. Presiden RI langsung terjung kelapangan meninjau peledakan bom di kampung Melayu, dalam sambutan beliau akan berusaha sekuat tenaga untuk memberantas kejahatan terorisme di negeri ini, termasuk Undang–undang terorisme akan lebih di percepat revisinya.

Kejadian bom bunuh diri, begitu cepat tersebar di sosial media dengan berbagai jargon #KamiTidakTakut. Jargon “Kami Tidak Takut” Menggambarkan bahwa masyarakat indonesia tidak takut akan gerakan terorisme di Indonesia. Namun disisi lain ada hal membuat masyarakat indonesia terasa takut dengan postingan foto tempat kejadian perkara. Foto yang di upload di sosial media adalah potongan tubuh manusia di tempat kejadian tanpa di blur atau pun di sensor. Secara psikis baik orang dewasa terlebih kepada anak-anak membuat psikis mereka akan takut dengan tindakan terorisme apalagi bila di tambahkan di postingannya perilaku Islam Radikal ISIS, seakan menggambarkan Islam sebagai agama yang menakutkan.

Bahaya Jemari Tangan di Sosial Media

Perilaku postingan foto di sosial media merupakan teror bagi kita kepada masyarakat karena sifatnya menakuti. Perlu kita ketahui bahwa UNICEF dan Kementerian Komunikasi dan Informatika telah mengkalkulasi pengguna internet di indonesia saja ada 30 juta anak-anak. Tidakkah kita sadar akan hal tersebut bahwa diri kita sendiri meneror masyarakat termasuk anak-anak dan tanpa sadar kita telah membantu kaum teroris menyebarkan terornya.

Di era digital membuat kita begitu enteng, prematur, spekulatif, dan juga primitif (tanpa ke ilmuan maupun data) menduga dan menganlisis sendiri tempat kejadian perkara tanpa menunggu hasil kepolisian dari olah TKP- nya. Seyogyanya sebagai pengguna sosial media harusnya menshare hasil media berita yang terpecaya saat ini. Karena di media berita terpercaya pasti memblur foto korban sebab ada kode jurnalistik yang di dalamnya melarang foto korban di masukkan dalam media pemberitaan tanpa di blur atau di sensor.

Perilaku primitif ini yang langsung menjustis kejadian tanpa data, memicu ketersinggungan, kemarahan dan seterusnya. Termasuk, ini sering dan salah satu mengerikan dugaan hingga tuduhan bahwa aksi teror adalah pengalihan issu, sebagaimana kelompok intoleransi sering menganggap setiap kejadian terorisme adalah pengalihan issu tanpa ada bukti valid. Setiap penjelasannya pula terkadang tak bisa di buktikan kecuali logi konspiratif yang subjektif, ngawur dan cocok logi (teori mencocok-cocokkan)

Di dalam penyebaran berita kita di sosial media selalu terulang-ulang pertanyannya yang tidak tertuju kepada sasaran tempat kejadian melainkan kita membesarkan kejadian tersebut. Misalnya bom panci yang menelan korban pelaku bom bunuh diri tanpa ada korban lainnya, seakan postingan kita di sosial media membesarkan kejadian tersebut. Bukankah kita sebagai pengguna sosial media membahagiakan kelompok terorisme sebab inilah tujuan mereka membesarkan perilaku kebiadabannya dan menakuti masyarakat bahwa kami masih ada untuk menakuti kalian.

Perlunya Merevisi Kembali UU ITE

Tak ada Undang-Undang yang membahas begitu detail tentang penyebaran foto korban di tempat kejadian meskipun ada Undang-Undang ITE namun Kurang spesifiknya Undang-Undang ITE tentang penyebaran media berita terutama foto korban tanpa di blur membuat pengguna sosial media begitu enteng men-share foto korban tanpa di blur atau di sensor. Kementerian Komunikasi dan Informatika hanya sibuk menangani pemberitaan media hoax dan memblokir situs-situs intoleransi. Padahal di dunia sosial media banyak yang menyebarkan berita mengundang intoleransi termasuk penyebaran foto korban bom bunuh diri tanpa di blur.

Sebisa mungkin pemerintah berusaha memberikan arahan kepada masyarakat pengguna sosial media untuk tidak menyebarkan hasil foto korban di tempat kejadian tanpa di blur kepada masyarakat maupun sosial media dan internet, agar bisa mengurangi ketakutan masyarakat akan bahaya terorisme. Bila perlu direvisi kembali undang – undang ITE untuk menambahkan tentang pelarangan foto korban tanpa di blur karena foto seperti ini marak di sosial media, yang bukan hanya foto korban terorisme akan tetapi kejadian lainnya, seperti tabrakan dan kecelakan yang terkadang foto korban yang meninggal keluar isi perutnya tanpa di blur dan di sebarkan di sosial media.

Jika masyarakat sadar akan hal tersebut mungkin kita bisa meminimalisir ketakutan masyarakat kepada kelompok teroris. Sebenarnya teroris tidak mungkin ada jika indonesia tidak takut dan tidak tercengang dengan kejadian aksi bom bunuh diri mereka sebab tujuan utama mereka hanya untuk menakuti masyarakat. Semoga dalam tulisan kali ini dapat memberikan pencerahan bagi kita semua untuk berhati-hati memposting kejadian yang menelan korban termasuk pula akan media hoax yang tersebar media sosial untuk tidak lansung percaya perlu dalami dulu kejadian, kalau bermanfaat silahkan untuk di share, jika hanya memberikan ujaran kebencian lebih baik untuk tidak di share supaya dalam bersosial media tetap rukun dan damai. (Ikhlasul Amal Muslim)