OPINI—Sewaktu membaca buku engineers of happy land ditulis oleh Rudolf Mr Azek dengan narasi menggambarkan peran insinyur di Indonesia, pertama kali mengetahui bahwa insinyur adalah orang terlibat dalam pembangunan. Menaruh spirit, pikiran, tenaga bahkan air mata dan darah. Mr Rudolf berkisah insinyur bekerja dipaksa untuk membuat jalan transportasi jauh puluhan kilometer.
Gambaran insinyur itu sebagai pekerja kaum buruh. Merujuk pada seorang filsuf kontemporer Karl Marx mengungkapkan insinyur adalah sistem kaum buruh unggul. Insinyur dibekali berbagai pemahaman kompetensi, teknik, geologis, ekonomis, politik dll.
Hal itu menjadi nilai unggul dari insinyur ketimbang pekerja pada umumnya. Namun, Karl Marx mengatakan sistem terbangun dalam kekuasaan itu mengalami ketimpangan bila jarak antara keadilan dan kesejahteraan dimiliki sepihak oleh kaum pemodal (borjuis).
Insinyur semestinya memiliki kesejahteraan dalam satu sistem kekuasaan tersebut. Pada kontemporer engineer/ insinyur adalah seorang profesional bergelut dalam dunia industri menerapkan ilmu-ilmu science atau teknik dalam rekayasa pembangunan. Sebuah perkembangan baru diperhadapkan terhadap engineer ialah perubahan fase modernisasi menuju keterbukaan suatu jejaring luas.
Konsekuensi logis pengaturan model etika engineer berupa pendayagunaan sumber daya terhadap kekuasaan pasar bebas atau kekuasaan pemodal. Pada gilirannya insinyur terus-menerus meningkatkan kompetensi, persaingan siap digunakan.
Apa diungkapkan Karl Marx insinyur adalah sistem kaum buruh unggul telah meletakkan cara pandang baru insinyur sebagai jejaring kapitalisme selalu mendukung keterbukaan pembangunan, eksploitasi dan produksi.
Suatu produktivitas tinggi dapat dilakukan dengan perencanaan efektivitas dan efisiensi semua merupakan pertimbangan ekonomis untuk memperoleh keuntungan. Benih-benih kapitalisme tumbuh secara luas itu menjadi peradaban.
Dalam milineal ketiga transformasi kekuasaan adikuasa dari kapitalisme Amerika Serikat menuju kapitalisme Jepang. Berarti Jepang adalah negara menghasilkan ragam hasil teknologis mumpuni. Dan manajemen industri modern. Sebuah transformasi kekuasaan selaras peradaban, Jepang adalah Negara adidaya kekuatan di Asia untuk stabilitas politik dan ekonomi.
Kemajuan peradaban identik penguasaan hasil teknologis, perubahan itu menandai titik balik (turning point) peran insinyur dalam menghadapi kapitalisme. Benturan kekuatan asia masing-masing antara Jepang dan China menyatu menjadi pelaku kapitalisme baru meskipun benih-benih komunisme masih tumbuh berkembang di China. Dalam konteks Indonesia, insinyur merupakan kaum buruh unggul di dominasi kapitalisme semenjak abad 19.
Sebagaimana kisah tak terlupakan jalan raya pos deandles telah digunakan di Hindia Belanda menembus pulau utama Jawa dari barat ke timur. Proses pembangunan jalan itu dibangun pada 1808 dan 1811 untuk pertahanan melawan invasi Inggris. Dan merupakan proyek terbesar kecepatan 18 hingga 20 km/ jam. Jalan dikerjakan oleh berbagai pekerja secara inklusif terdapat berbagai insinyur. (*)













