OPINI—Etika pikir pada dasarnya adalah pertautan logika dan matematik untuk suatu cara berpikir tepat (logis). Matematika merupakan tools menjembatani kemajuan menggunakan rasio secara benar. Maka, matematika identik dengan pikiran atau kerja-kerja akal dalam mengabstrasikan kehidupan dalam ragam angka-angka.

Berpikir tanpa pijakan matematika hanyalah menduga-duga, berpikir logis sebenarnya korespondensi berpikir logis dan matematis.

Menurut Jujun S. Suriasumantri setiap orang seyogyanya harus dibekali kemampuan pemahaman matematis dengan itu seseorang mampu membangun pola pikir autentik terukur. Etika adalah rangkaian dari istilah logika yakni logos dan etika.

Logos adalah ilmu (science) atau pengetahuan (knowledge) sedangkan etika adalah tindakan. Etika dapat dibedakan dengan moral tendensi etika berdasarkan pertimbangan-pertimbangan pikiran terkait benar atau salah sedangkan moral ialah perilaku terjadi setelah putusan hasil etika.

Bilamana putusan hasil etika adalah benar maka moral benar pula. Hal inilah disebut korespondensi ide dan realitas. Sebaliknya, putusan etika salah maka berdampak pada moral salah pula. Istilah seringkali diketemukan ketidaksesuaian antara ide dan realitas. Ide sebagai etika dan realitas (reality) sebagai moral.

Dalam kehidupan engineering sarat tindakan konstruktif utamanya suatu upaya menumbuhkan pembangunan proyek-proyek diperhadapkan dengan nilai-nilai etika sebagaimana etika engineering. Pembangunan dilaksanakan berdasar pertimbangan etika maka diperoleh nilai suatu kebenaran untuk mencegah dampak-dampak tak diinginkan.

Salah satunya ialah kemampuan berpikir secara logik dan matematik. Ilmu eksakta merupakan ilmu pengetahuan berdasar cara pandang induktif dan deduktif.

Kedua cara pandang itu kerapkali menjadi pertimbangan pelaksanaan suatu proyek misal dalam perencanaan suatu bangunan berlantai atau pembukaan lahan (leand clearing) berdasar perhitungan matematis agar sesuai perencanaan. Struktur bangunan dalam ukuran ruang atau waktu merupakan nilai-nilai angka terukur.

Hal itu dapat dilakukan apabila kemampuan abstraksi perhitungan selaras dengan dalil-dalil logis (logika). Banyak kasus menunjukan terjadinya ambrukan pembangunan baik jembatan, gedung dll selain faktor geologis ialah perencanaan tak sesuai asas perhitungan biaya maupun sumber daya manusia.

Peran engineer tak hanya sebagai sistem kaum buruh unggul peran engineer merupakan pilar pembangunan berarti. Peran engineer dalam etika tertentu mengedepankan aspek perubahan berarti menuntut adanya inovasi dalam kemajuan mengisi pembangunan.

Engineer memiliki spirit to be terlebih seorang engineer muslim dengan spirit Islam yang telah disebutkan di atas sehingga kecenderungannya menjadi inovator atau seorang inovator memiliki keunggulan daripada kreator (Andi Aladin, 2018).

Negara-negara menyongsong pembangunan selalu berorientasi terhadap perubahan atau inovasi sebagaimana di Jepang atau Amerika Serikat, perubahan fundamental tentu memiliki struktur pola integratif atas politik dan ekonomi.

Inovasi bagi negara maju menunjukan kepercayaan (trust) diantaranya masyarakat (civil society), pemerintah (goverment). Dan korporasi (corporate). Pada gilirannya upaya pembaharuan suatu peradaban berkemajuan, engineer sebagai lokomotif perubahan mempunyai andil penting dalam memformulasikan suatu kemajuan peradaban memiliki nilai-nilai etis. (*)

Penulis: Ahlan Mukhtari Soamole (Mahasiswa Pascasarjana UMI Makassar)