Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Gaza Berdarah, Kaum Muslim Harus Bersatu Melawan Para Penjajah

977
×

Gaza Berdarah, Kaum Muslim Harus Bersatu Melawan Para Penjajah

Sebarkan artikel ini
Munawwarah Rahman, S.Pd (Praktisi Pendidikan)
Munawwarah Rahman, S.Pd (Praktisi Pendidikan)

OPINI—Idulfitri beberapa waktu yang lalu telah menyisakan luka yang mendalam bagi warga Gaza. Betapa tidak, di hari kemenangan kaum muslimin yang disambut dengan penuh sukacita berubah menjadi tragedi berdarah. Demi menguasai wilayah yang diklaim sebagai tanah mereka.

Serangan pun dilancarkan di kamp pengungsi Khan Younis di Gaza selatan hingga di Kota Gaza dan kamp pengungsi Jabalia di Gaza utara pada 30-03-2025 (cnnindonesia.com).

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Serangan brutal ini kembali menambah jumlah korban jiwa. Kita tentu melihat di berbagai sosial media, bagaimana para korban jiwa telah mati secara mengenaskan, bagian tubuh satu dengan yang lain terlihat di udara seolah burung camar yang sedang beterbangan. Padahal itu adalah potongan tubuh saudara-saudara muslimin kita. Maka, tidakkah hati kita merasa sakit melihat kondisi mereka?

Zionis Yahudi Semakin Brutal

Media Aljazeera telah mengungkap kekejaman Zionis Yahudi. Mereka telah melancarkan serangan tepat di hari raya Idulfitri hingga menewaskan sembilan orang termasuk didalamnya adalah anak-anak. Ini bukanlah serangan pertama, melainkan serangan lanjutan sejak Oktober 2023 lalu. Selama operasi itu, 50.200 tewas. 164.000 luka-luka, dan 14.000 orang dinyatakan hilang. Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.

Hingga kini korban semakin banyak berjatuhan, bahkan di sosial media tak henti-hentinya mereka meminta pembelaan dari seluruh saudara-saudara muslim di berbagai belahan bumi. Namun, pertolongan dalam bentuk militer belum juga mereka dapatkan.

Penderitaan semakin bertubi-tubi dirasakan oleh warga Gaza Palestina. Karena gencatan senjata yang telah disepakati telah dilanggar oleh Zionis Yahudi yang memicu serangan secara terus-menerus. Akibatnya, sekitar 2,4 juta warga Gaza yang masih tersisa berada dalam ancaman seperti:

Pertama, pada awal bulan Maret para Zionis secara terang-terangan memblokade Gaza yang berdampak pada sulitnya bantuan masuk berupa 600 truk bahan pangan dan obat-obatan, serta 50 truk bahan bakar.

Kedua, Ancaman kelaparan. Dalam sebuah artikel disebutkan bahwa banyaknya dapur umum yang mulai tutup karena adanya krisis tepung akibat bantuan yang semakin sulit menjangkau mereka. Padahal stok makanan bisa habis dalam waktu 10 hari berdasarkan peringatan dari PBB.

Ketiga, ancaman pengusiran. Beberapa media menyebutkan bahwa pihak Zionis bahkan memaksa sekitar 20% warga asli Palestina meninggalkan wilayah Gaza, termasuk di wilayah-wilayah yang selama ini dikenal sebagai zona kemanusiaan dan masih banyak lagi ancaman lainnya.

Sepertinya rencana Trump yang ingin merekonstruksi Gaza bertajuk proyek Riviera Timur Tengah benar-benar akan diwujudkan. Semua itu dilakukan agar wilayah tersebut bersih dari warga asli Palestina. Inilah buah penerapan sistem sekuler kapitalisme, menjadikan kaum muslimin terus berada dalam ancaman dan kesengsaraan.

Sementara pemimpin dunia tak mampu memberikan pembelaan sedikitpun selain mengecam. Padahal warga Gaza adalah saudara kita. Seharusnya kepiluan mereka mampu dirasakan oleh seluruh kaum muslimin termasuk kepada para pemimpin dunia.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh sakit maka seluruh tubuhnya ikut merasakan tidak bisa tidur dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Muslim).

Namun, adanya sekat-sekat Nasionalisme telah membungkam para pemimpin dunia hanya karena mereka bukan bagian dari negara kita dan sederet alasan-alasan lainnya.

Demikianlah Idulfitri berdarah yang penuh kesedihan bagi muslim Palestina. Realita ini menunjukkan bahwa kebahagiaan umat belumlah sempurna, karena sebagian umat Islam khususnya Palestina dalam kesengsaraan bahkan terancam nyawanya. Sejak jauh sebelum bulan Ramadan tiba, selama bulan Ramadan, memasuki bulan Syawal, bahkan setelah Syawal, para Zionis terus melancarkan serangannya meski sebelumnya telah ada kesepakatan gencatan senjata.

Kaum muslimin Harus Terus Berjuang

Penderitaan yang dialami kaum muslimin khususnya bagi warga Gaza cukuplah menjadi bukti urgensi kekuatan besar untuk bisa mengalahkan musuh seperti negara-negara Barat yang licik dan penuh tipu daya.

Sementara Hamas yang merupakan sebuah pergerakan atau milisi bersenjata, meski segenap upaya dan keikhlasan sudah dilakukan demi melindungi kaum muslimin di Gaza Palestina, tetap saja akan sulit mengambil keputusan-keputusan independen dalam level negara, jika tanpa campur tangan negara.

Sebab mereka sama Yaman dan Hizbullah di Lebanon yang kedudukannya ada di bawah kekuatan negara. Dari sinilah kekuatan besar itu dibutuhkan yakni tegaknya sistem Islam kehidupan ini. Sebab inilah yang paling ditakutkan oleh dunia Barat terutama Amerika.

Dahulu, sistem Islam yang disebut Khilafah pernah menjadi negara adidaya yang ditakuti oleh negara-negara sekutu. Bahkan meski Rasulullah saw. wafat kekuatannya tetap menaungi umat Islam. Keberadaannya pun menjaga umat hingga predikat umat terbaik tetap melekat pada kaum muslim dan mampu memimpin peradaban dunia sampai runtuh pada 1924 atas konspirasi Barat.

Runtuhnya Khilafah menjadi sebab munculnya berbagai persoalan dalam kehidupan ini seperti: penderitaan, kehinaan, dan perpecahan umat Islam, termasuk munculnya problem penjajahan di Palestina.

Untuk itu, kaum muslim harus sadar dengan kondisi saat ini, bahwa umat sedang tidak baik-baik saja. Gaza terus berdarah, maka kaum Muslim Harus Bersatu Melawan Para Penjajah. Sebagaimana persatuan kaum muslim pada masa Rasulullah saw. dan para sahabat. Terwujudnya persatuan umat melalui kelompok dakwah ideologis akan menyelesaikan seluruh persoalan umat termasuk di wilayah Gaza Palestina. Wallahu A’lam. (*)

 

Penulis: Munawwarah Rahman, S.Pd (Praktisi Pendidikan)

 

***

 

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!