OPINI—Gen Z, yang lahir pada tahun 1997 hingga 2012 menjadi sorotan, setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap hampir 10 juta penduduk Indonesia di kalangan Gen Z menganggur atau tanpa kegiatan (not in employment, education, and training/NEET).
Jika diungkap lebih rinci, jumlah mereka yang menjadi pengangguran atau tidak memiliki kegiatan berdasarkan data BPS (2021-2022) mencapai 9.896.019 orang pada Agustus 2023. Dari jumlah itu, NEET Gen Z didominasi perempuan sebanyak 5,73 juta, diikuti 4,17 juta laki-laki. Angka itu setara dengan 22,25 persen dari total penduduk usia muda di Indonesia. Fenomena banyaknya pengangguran di kalangan Gen Z, menjadi ancaman serius bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.
Ida Fauziyah, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), mengungkapkan: “Mereka yang pengangguran kebanyakan adalah generasi Z. Dengan rentang usia 18-24 tahun, yang selesai lulus SMA, SMK atau mereka lulus perguruan tinggi,” beber Ida.
Ida Fauziyah juga menambahkan, angka pengangguran yang begitu banyak di kalangan Gen Z adalah akibat ketidaksesuaian antara pendidikan yang ditempuh dengan permintaan pasar tenaga kerja. Dikutip dari Kompas TV, Jumat (24/5/2024).
Tingginya angka pengangguran bisa terjadi ketika jumlah angkatan kerja lebih besar dibandingkan dengan jumlah lapangan kerja, seperti turunnya lapangan pekerjaan di sektor formal. Hal ini berdasarkan hasil olahan Tim Jurnalisme Data Harian Kompas terhadap data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Februari tahun 2009, 2014, 2019, dan 2024 yang menunjukkan adanya tren penurunan penciptaan lapangan kerja di sektor formal.
Inilah kondisi yang dihadapi oleh Gen Z, sehingga mendominasi angka pengangguran di negeri ini. Parahnya, hal ini terjadi ditengah kurangnya kesiapan mental mereka untuk terjun ke dunia kerja dengan kebiasaannya yang suka menikmati dan mencari kesenangan hidup.
Melihat persoalan ini, negara seharusnya bertanggung jawab penuh dalam menyelesaikan masalah pengangguran yang dihadapi oleh rakyat, khususnya kalangan Gen Z. Sebab jika persoalan ini terus terjadi, maka akan menjadi masalah besar di masa yang akan datang. Seperti tingginya angka kriminalitas dan bunuh diri akibat persoalan ekonomi yang terus mencekik rakyat, masa depan generasi terkubur dan negeri ini pun akan semakin jauh dari kata aman dan sejahterah.
Sayangnya, ditengah kondisi masa depan generasi yang memprihatinkan, negara yang seharusnya memberi solusi, justru abai dengan masalah pengangguran. Negara hanya terfokus pada peningkatan pendapatan Domestik Bruto (PDB), investasi dan ekspor. Dan tidak peduli dengan pengembangan industri padat karya yang bisa menyerap banyak tenaga kerja.
Sementara itu, SDA yang melimpah hanya dijadikan sebagai lahan bisnis dan memudahkan para korporasi menguasainya. Negara pun menarasikan seolah pihaknya telah menyediakan kesempatan kerja bagi rakyatnya. Padahal fakta membuktikan, tidak semua masyarakat yang berada pada industri diserap sebagai tenaga kerja. Mereka tetap saja harus bersaing dengan ribuan orang demi memperebutkan satu kursi.
Mirisnya, aturan negara juga turut memudahkan korporasi untuk menyerap tenaga kerja asing. Hingga gagal memahamkan Gen Z seputar kewajiban bekerja bagi laki-laki dan tujuan hidup hakiki manusia. Maka wajar jika saat ini terbentuk generasi yang materialistik dan menganggap bekerja sebagai beban yang berakibat pada tingginya angka pengangguran.
Hal ini tentu berbeda dalam sistem Islam. Di mana, negara akan bertanggung jawab penuh terhadap rakyatnya tanpa memandang dari segi bisnis atau sekedar peningkatan angka semu PDB negara. Semua itu karena negara menerapkan aturan berdasarkan syariat Islam, sehingga semua aturan berjalan sesuai perintah dan larangan-Nya. Kesejahteraan pun bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Hal itu karena sistem Islam, memiliki kebijakan untuk mencegah gelombang pengangguran di dalam negeri diantaranya sebagai berikut:
Pertama, memberikan pemahaman kepada rakyat, khususnya pada generasi seputar kewajiban laki-laki baligh untuk bekerja. Kebijakan ini akan menjadikan generasi paham dan siap bekerja sebagai pencari nafkah agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga yang menjadi tanggungannya. Namun, sebelum mereka terjun, negara akan menjadi support system dengan memberikan pendidikan dan skill yang memadai pada generasi.
Negara juga akan memastikan semua generasi merasakan dan menikmati pendidikan secara gratis dan mumpuni, hingga menjadi sarjana yang menguasai berbagai keilmuan yang dibutuhkan oleh umat. Selain itu, pendidikan Islam akan mencetak generasi yang berkepribadian Islam yang kuat dan siap menjalani kehidupan dengan tetap bersandar pada syariat Islam.
Kedua, negara akan menyediakan lapangan kerja yang halal dan melimpah, dengan cara menghidupkan sektor padat karya seperti pertanian, industri, perikanan, perkebunan, atau pertambangan. Sektor-sektor inilah yang akan dikembangkan secara merata berdasarkan potensi sumber daya alam di setiap wilayah, yang dilakukan tanpa campur tangan swasta atau asing.
Negara pun akan leluasa menyerap tenaga kerja dari rakyat. Dengan demikian, para sarjana tidak akan kesulitan dalam mencari pekerjaan sebagaimana yang terjadi dalam sistem kapitalisme saat ini.
Ketiga, Negara akan hadir memberikan bantuan modal bagi rakyat yang ingin berwirausaha, baik berupa uang, lahan, sarana prasarana, produksi, dan lain sebagainya. Adapun orang-orang yang lemah atau tidak mampu bekerja, maka negara akan memberikan santunan kepada mereka agar terjamin kebutuhannya.
Demikianlah persoalan pengangguran yang begitu mudah menemui titik terang dalam sistem Islam. Sehingga fakta seputar jutaan Gen Z menganggur, masa depan generasi terkubur, tak akan menjadi momok menakutkan lagi, sebab semua telah diatasi dan dimudahkan oleh negara yang menerapkan sistem Islam secara menyeluruh. Wallahu A’lam. (*)
Penulis: Munawwarah Rahman, S.Pd (Praktisi Pendidikan)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.











