MAKASSAR—Badan Informasi Geospasial (BIG) sedang sibuk merampungkan proyek ambisius yang akan mengubah cara Indonesia memetakan dirinya sendiri. Tahun ini, BIG berfokus menyelesaikan peta resolusi tinggi skala 1:5000 untuk seluruh Pulau Sulawesi. Setelah itu, giliran Sumatera, Maluku, Jawa, Nusa Tenggara, dan Papua yang akan digarap.
“Indonesia ini luas banget, daratannya saja 1,9 juta kilometer persegi. Ada enam wilayah lagi yang harus diselesaikan,” kata Kepala BIG, Prof. Dr. rer. nat. Muh Aris Marfai, saat berkunjung ke Lanud Hasanuddin, Maros, Kamis (5/12/2024).
Dalam kunjungan tersebut, Prof. Aris mengecek langsung pesawat milik Intermap, perusahaan yang bertugas mengambil citra bumi dari udara. Pesawat kecil ini, meski hanya bisa membawa tiga awak, dilengkapi teknologi SAR (Synthetic-aperture radar) yang mampu menembus awan dan tetap berfungsi meski cuaca buruk.
Proyek ini tak hanya diikuti oleh BIG. Deputi Kerawanan dan Keamanan Siber BSSN serta Plh Kadis Kominfo Sulsel, Sultan Rakib, juga ikut mendukung proses pemantauan tersebut.
Pemerintah serius mempercepat Kebijakan Satu Peta atau One Map Policy (OMP). Tujuannya sederhana: menciptakan peta yang seragam, akurat, dan mudah diakses. Semua itu diatur melalui Perpres Nomor 23 Tahun 2021, yang menyempurnakan aturan sebelumnya.
OMP diharapkan menjadi fondasi kuat dalam pembangunan, baik untuk proyek strategis nasional (PSN) maupun kawasan ekonomi khusus (KEK). Dengan peta ini, kebijakan berbasis spasial bisa dirancang lebih presisi dan berdampak besar untuk pembangunan jangka panjang hingga 2045.
“Kalau ini terwujud, kita punya kedaulatan data peta sendiri. Nggak perlu bergantung sama Google Maps atau yang lain. Kita punya peta sendiri—One Map Indonesia,” tegas Sultan Rakib.
Proyek besar ini membawa Indonesia selangkah lebih dekat menuju kemandirian geospasial, memastikan data yang akurat dan dapat diandalkan untuk masa depan. (*/4dv)


















