MAKASSAR – Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A Dalduk KB) Sulsel Dr Fitriah Zainuddin Membuka Workshop Kewirausahaan Bagi Perempuan Rentan Tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota Wilayah I dikabupaten Maros belum lama ini.

Kadis DP3A Dalduk KB Sulsel Mengatakan
Perempuan merupakan salah satu komponen penting yang bisa dilibatkan dalam proses pembangunan yang tentunya masih belum mendapat porsi yang wajar.

“Potensi kaum perempuan dalam kehidupan masyarakat masih belum mendapat porsi yang wajar.Ini perlu disikapi secara arif dan bijaksana oleh pemerintah mengingat kaum perempuan dari sisi kuantitas menempati urutan pertama dari komposisi warga masyarakat,”Ungkapnya.

Ia Menjelaskan Ketidak berdayaan perempuan pada aspek ekonomi, sosial dan budaya dikarenakan karena keterbatasan akses, peran, kontrol, dan partisipasi untuk mengolah potensi yang ada pada dirinya.

“Dalam Meningkatkan kwalitas SDM kaum. Perempuan dibutuhkan pemberdayaan perempuan sebagai rangkaian kegiatan dalam meningkatkan kemampuan baik berupa pengetahuan, keterampilan sikap dan hal-hal lain yang mampu meningkatkan peluang dan pemanfaatan potensi yang dimiliki perempuan di dalam masyarakat.”Jelasnya

Dr Fitriah Zainuddin juga Mengaku Berdasarkan data BPS 2019, di Sulawesi Selatan, jumlah Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) laki-laki jauh lebih tinggi dibandingkan dengan TPAK perempuan.

“Sesuai data BPS,TPAK tahun 2019 mencapai 80,41 persen sedangkan TPAK perempuan hanya sebesar 46,71 persen.Begitu pula dengan Tingkat pengangguran terbuka (TPT) berdasarkan jenis kelamin yang menunjukkan bahwa TPT perempuan cenderung lebih tinggi yakni 5,10% dibandingkan dengan TPT laki-laki, sebesar 4,89 %. Sedangkan untuk pekerja rentan seperti pekerja yang berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap/tidak dibayar, pekerja bebas dan pekerja keluarga ternyata di Sulawesi Selatan lebih banyak terjadi pada pekerja perempuan dibandingkan dengan pekerja laki-laki yaitu 61,64% (perempuan) begitu pula di pedesaan lebih banyak dibanding perkotaan yaitu 72,42% (di pedesaan).”Ucapnya.

Ia Menilai gambaran ini mengindikasikan bahwa masih ada kesenjangan peran antara laki-laki dan perempuan pada bidang ekonomi khususnya yang terkait dengan kontribusi pendapatan bagi keluarga.

“Kesejangan peran perempuan dan laki-laki diisebabkan beberapa hal diantaranya pengaruh budaya, status, tanggung jawab dan pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan yang belum sepenuhnya berimbang.”Pungkasnya.

Kadis DP3A Dalduk sulsel lebih jauh Mengaku rendahnya tingkat pendidikan dan pendapatan keluarga dapat berimplikasi pada permasalahan sosial yang dialami oleh perempuan dan keluarganya.

“Dampak dari rendahnya tingkat pendidikan dan pendapatan keluarga biasanya menjadi pemicu seperti kasus kekerasan dalam rumah tangga, perdagangan orang, kekerasan seksual, perkawinan anak, penelantaran anak, putus sekolah dan banyak lagi kasus-kasus yang menjadi permasalahan sosial ditengah masyarakat.”Sebutnya.

Ia Menambahkan dalam persoalan terhadap perempuan dan anak membutuhkan sinergisitas dengan semua unsur yang ada dimasyarakat.

“Sinergitas dengan semua pihak sangat diharapkan dalam mengatasi dan mengantisipasi persoalan terhadap perempuan dan anak.Tambahnya.

“Say berharap melalui kegiatan ini, selain melakukan transfer kompetensi dari para pelatih kepada peserta, juga diharapkan terbangun komitmen antara Pemerintah, Lembaga Non Pemerintah, Lembaga Masyarakat, dunia usaha, media massa untuk bersinergi mendorong pembangunan bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di Kabupaten Maros, khususnya pada penguatan dan pemberdayaan ekonomi perempuan.Tutupnya.

Pada kesempatan itu Kadis DP3A Dalduk KB sulsel juga menyerahkan bantuan alat usaha agar kaum perempuan bisa semakin maju dan mandiri. [*]