OPINI—Ribuan warga Gaza yang menderita kelaparan mengonfirmasi bahwa kaum muslim saat ini semakin terpuruk dan tak berdaya. Umat Islam tak punya kekuatan untuk melawan kekejaman para zionis. Para penguasa dunia Islam terbelenggu oleh kecintaan terhadap dunia sehingga tidak heran akses bantuan terhadap Gaza semakin sulit.
Mereka yang seharusnya memiliki power, namun justru melakukan penghianatan besar terhadap Islam dan kaum muslim. Hal ini adalah sikap yang paling dibenci oleh Allah SWT dan akan dimintai pertanggungjawaban di yaumil akhir kelak.
Abainya umat Islam yang berkepanjangan, menciptakan ruang yang lebih besar akan kebengisan zionis dalam menghancurleburkan Gaza. Setelah kekuatan militer yang memporakprandakan wilayah Gaza yang menelan ribuan korban jiwa dan hancurnya berbagai infrastruktur.
Hingga kini, entitas Yahudi memblokade seluruh bantuan logistik (berisi bahan makanan, obat-obatan dan kebutuhan hidup) dengan blokade penuh pada maret 2025. Sehingga, krisis kelaparan dan malnutrisi menjadi bencana yang tak mampu dibendung.
Para pejabat Israel menuduh Hamas dan kelompok bersenjata lainnya menimbun pasokan dan menyerang warga sipil di titik-titik distribusi. Sehingga, dengan alasan keamanan Zionis dan Amerika Serikat mengusulkan distribusi bantuan baru melalui sebuah lembaga bernama Gaza Humanitarian Foundation (GHF).
Dengan klaim demikian, mereka justru menjadi leluasa untuk mengontrol penyaluran bantuan karangka tujuan politik dan militer yang lebih besar.
Masyarakat hanya bergantung pada pembagian bantuan Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) dukungan AS dan Israel yang kontroversial. Sehingga, malnutrisi dan kelaparan semakin memperlebar tingkat kematian di Gaza.
Dan lebih mirisnya, “Lebih dari 1.000 warga Palestina kini telah dibunuh oleh militer Israel saat mencoba mendapatkan makanan di Gaza sejak Yayasan Kemanusiaan Gaza [GHF] mulai beroperasi pada 27 Mei, dan berlanjut “Hingga 21 Juli, kami mencatat 1.054 orang tewas di Gaza saat berusaha mendapatkan makanan; 766 di antara mereka tewas di sekitar lokasi GHF dan 288 di dekat konvoi bantuan PBB dan organisasi kemanusiaan lainnya, “kata Thameen Al-Kheetan, juru bicara Kantor Hak Asasi Manusia PBB” (bbcnewsindonesia.com, 23/07/25).
Kebiadaban entitas zionis laknatullah menyebabkan sekitar 2 juta jiwa harus merasakan kelaparan hebat dan terpaksa harus bertahan dengan apa yang ada disekitar mereka termasuk pakan ternak, rerumputan, hingga air limbah pembuangan. Sementara itu, antrian barisan untuk mendapatkan bantuan justru semakin mendekatkan mereka kepada kematian.
Bukannya, menjadikan warga Gaza bisa bertahan hidup setelah berhari-hari menahan lapar dengan tubuh yang sudah begitu lemas, kering kerontang, dan sisa energi yang sedikit namun justru ditempat itu menjadi titik penembakan pasukan Israel yang menewaskan ribuan warga Gaza. Sungguh, kejadian brutal yang begitu mengerikan sepanjang zaman.
Sikap Penguasa Dunia dan Muslim
Kepentingan politik telah menjadi benteng penghalang bagi para pemimpin Dunia dan muslim untuk turut andil memberikan bantuan militer atas genosida yang menimpa Gaza. Sementara untuk membebaskan Gaza dari kekejaman yang membabi buta, tidaklah cukup dengan bantuan logistik dan two state solution. Namun, butuh aksi militer sebagai bentuk perlawanan yang setimpal.
Dunia tampak mengutuk Israel namun tak ada tindakan berarti untuk betul-betul mengembalikan kemerdekaan warga Gaza yang telah direbut oleh para zionis laknatullah.
Bahkan mayoritas penguasa di dunia baik secara terang-terangan maupun tertutup ikut mendukung Zionis dan Amerika. Dunia berkoar-koar menginginkan Palestina-Gaza merdeka namun para pemimpin mereka terkungkung oleh perjanjian-perjanjian internasional yang jika dilanggar akan sangat beresiko bagi wilayahnya.
Namun, tentu saja hal tersebut tidak bisa dijadikan pembelaan sebab Israel telah merebut tanah Palestina-Gaza dan melakukan genosida terburuk sepanjang abad. Lembaga dunia dan negara-negara besar khususnya Amerika justru membiarkan dan memberi sokongan terhadap kebrutalan Israel.
Para pemimpin dunia sedang dimabuk kekuasaan dan sibuk menjaga eksistensi Amerika sebagai negara adidaya. Posisi PBB juga tak ada pengaruhnya sebab disetir oleh Amerika sendiri sehingga hanya mampu membenarkan bahwa Zionis telah melakukan kejahatan perang.
Sehingga, wajar pula jika tak ada timbal balik kelanjutan hukum penangkapan Benyamin Netanyahu walaupun Mahkamah Internasional telah ikut andil melaporkannya atas nama hukum Internasional. Sandiwara-sandiwara terus dimainkan sementara perlakuan ketidakadilan dan kezaliman begitu nampak di depan mata.
Demikian halnya para penguasa muslim, seharusnya dengan potensi sumber daya Umat Islam yang besar, mereka mampu mengirimkan tentara-tentara dan alat militernya untuk memusnahkan kejahatan terhadap Palestina-Gaza namun faktanya bagai buih di lautan. Mereka tidak memiliki kekuatan untuk mengembalikan apa yang menjadi hak Palestina.
Bahkan negara-negara tetangga di Timur Tengah enggan memberikan aksi nyatanya melainkan menjadi kaki tangannya Zionis untuk melancarkan genosida.
Aksi “March to Gaza” mengonfirmasi bahwa Mesir tidak pernah berpihak terhadap Gaza justru semakin mendukung Zionis dalam menghalangi pintu Rafah terbuka padahal bantuan melalui jalur tersebut begitu mendesak bagi keberlangsungan hidup warga Gaza.
Begitupun para penguasa muslim lainnya, usulan-usulan solusi yang digaungkan tak pernah menyentuh akar persoalan. Sehingga, para pemimpin Gaza muak dengan sikap mereka yang penuh dengan kebiadaban dan pengkhianatan.
Mentalitas Gaza dan Persatuan Kaum Muslim
Dibalik genosida yang dialami warga Gaza tak sedikitpun menggoyahkan keyakinan dan rela menggadaikan akidah mereka. Keteguhan dan kekuatan iman dalam menghadapi para Zionis dan sekutunya menjadi bukti bahwa Gaza adalah umat terbaik.
Berbagai video beredar, saat mereka menyaksikan jenazah anggota keluarga atau warga Palestina lainnya setelah pemboman penjajah, berulang kali mengatakan; حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ atau “Hasbun Allāhu wa Ni’mal Wakīl”.
Konsistensi meninggikan kalimat Sang Khaliq tidaklah mudah, hal demikan harus ditopang oleh akidah yang kuat. Manusia yang cinta dunia dan takut mati tak akan mampu menghadapi hal demikian, hanya orang-orang yang memiliki high level ketakwaan.
Kepribadian ummat di Gaza menjadi teladan bagi kaum muslim. Seharusnya, hal tersebut juga menjadi tamparan keras bagi ummat Islam di seluruh penjuru dunia bahwa konsekuensi keimanan ialah seseorang senantiasa menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai sandaran.
Hal itu juga termasuk dalam menjadikan syariat Islam sebagai standar hidup. Penerapan ajaran Islam secara kaffah akan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Jaminan keamanan dan kesejahteraan bukanlah hal yang sulit, dalam naungan Daulah Islam perkara tersebut merupakan hak dasar bagi setiap umat.
Oleh karena itu, ketika para musuh-musuh Allah SWT menyerang kaum muslim maka Institusi Daulah Islam tidak akan membiarkannya begitu saja. Dan terbukti, sebelum kekuasaan Islam runtuh secara resmi pada tahun 1924 (Pada Masa Kekhalifahan Utsmaniyah).
Islam pernah menjadi negara adidaya yang tak tertandingi selama 1400 tahun lamanya. Islam tidak tanggung-tanggung untuk mengerahkan tentaranya hanya untuk membela satu muslimah yang tersingkap auratnya oleh Yahudi begitupun pertanggungjawaban terhadap darah kaum muslim.
Hanya demi menyelamatkan satu orang, namun pasukan yang diutus jauh lebih banyak. Saat ini justru amat begitu memilukan, walau sudah ribuan umat yang menjadi korban penjajahan namun tidak ada perlindungan berarti bagi mereka.
Hal tersebut tentu saja karena Islam tidak memiliki perisai penjaga. Solusi jihad dan mendirikan Daulah Islam belum mampu diterapkan secara penuh. Oleh karena itu, urgensi kelompok dakwah Islam kaffah untuk memahamkan umat agar penegakkan Islam sebagai Mabda segera terwujud dalam naungan institusi.
Sikap demikian, sebagai bentuk upaya dalam menolong saudara seakidah di Gaza sebab tak ada pilihan solusi solutif yang mampu menghentikan kekejaman Zionis secara tuntas selain memobilisasi seluruh kekuatan umat dan mengomando jihad fii sabilillah. Wallahu a’lam bi shawab. (*)
Penulis: Andi Sriwahyuni (Aktivis Muslimah)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.














