PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Pejabat ATR/BPN hingga Bos Summarecon Terjaring OTT KPK, Uang Ratusan Miliar DiamankanKuasa Hukum Pertanyakan Tindak Lanjut Dumas di Propam Polda SulselMulai Besok Pemkab Jeneponto Terapkan BBM Ganjil-Genap di Seluruh SPBULPG 3 Kg Langka di Makassar, Appi Desak Pertamina Investigasi Total PangkalanPrabowo Ganti Menkeu, Suahasil Nazara Kini Pegang Kendali Kebijakan FiskalUsulan Kuota BBM Sulsel Naik 30 Persen, Migrasi Konsumen Picu Antrean Makin PanjangPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Pejabat ATR/BPN hingga Bos Summarecon Terjaring OTT KPK, Uang Ratusan Miliar DiamankanKuasa Hukum Pertanyakan Tindak Lanjut Dumas di Propam Polda SulselMulai Besok Pemkab Jeneponto Terapkan BBM Ganjil-Genap di Seluruh SPBULPG 3 Kg Langka di Makassar, Appi Desak Pertamina Investigasi Total PangkalanPrabowo Ganti Menkeu, Suahasil Nazara Kini Pegang Kendali Kebijakan FiskalUsulan Kuota BBM Sulsel Naik 30 Persen, Migrasi Konsumen Picu Antrean Makin Panjang
Opini

Ketika Relasi Guru dan Murid telah Rusak

172
×

Ketika Relasi Guru dan Murid telah Rusak

Sebarkan artikel ini
Fitriani, S.Pd. (Praktisi Pendidikan)
Fitriani, S.Pd. (Praktisi Pendidikan)

OPINI—Sebuah video yang memperlihatkan keributan antara seorang guru SMK dan sejumlah siswa di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, viral di media sosial. Guru tersebut diketahui bernama Agus Saputra, pengajar di SMKN 3 Berbak. Rekaman menunjukkan aksi saling dorong hingga pukulan antara Agus dan para murid.

Keributan bermula saat Agus mengaku diejek dengan kata-kata kasar oleh seorang siswa. Ia bereaksi spontan dengan menampar murid tersebut. Tindakan itu memicu reaksi siswa lain hingga berujung pengeroyokan.

“Awalnya saya diejek dengan kata tak pantas. Saya refleks menampar murid tersebut, tindakan itu memicu reaksi siswa lain hingga berujung pengeroyokan,” ujar Agus, dikutip dari Tribunnews, Minggu (18-1-2026).

Versi berbeda disampaikan siswa berinisial MUF. Ia menyebut Agus dikenal keras dan kerap berbicara kasar kepada murid. “Sering ngomong kasar, menghina siswa dan orang tua, bilang bodoh dan miskin,” ujarnya.

Kasus ini kemudian dilaporkan Agus ke Polda Jambi sebagai dugaan penganiayaan.

Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menilai peristiwa tersebut bukan sekadar pelanggaran disiplin, melainkan pelanggaran hak anak atas lingkungan pendidikan yang aman dan bebas dari kekerasan.

“Ini adalah darurat perlindungan anak di lingkungan pendidikan. Anak-anak datang ke sekolah untuk belajar dan bertumbuh, bukan menjadi sasaran kekerasan,” ujarnya.

Peristiwa ini bukan sekadar konflik personal. Ia menjadi alarm bahwa relasi pendidikan tengah mengalami keretakan serius. Hubungan guru dan murid yang semestinya dibangun di atas penghormatan dan keteladanan berubah menjadi relasi yang rentan konflik.

Kasus Agus memperlihatkan rapuhnya posisi guru, baik secara sosial maupun hukum. Di sisi lain, murid tumbuh dalam lingkungan yang minim penanaman adab. Ketika disiplin mudah ditafsirkan sebagai kekerasan dan kewibawaan guru terus melemah, konflik menjadi tak terhindarkan.

Pengeroyokan terhadap guru bukan anomali, melainkan cermin dari persoalan yang terakumulasi. Selama pendidikan dipahami sebatas transfer pengetahuan, bukan pembentukan karakter, peristiwa serupa akan terus berulang.

Relasi guru dan murid kini menghadapi persoalan yang lebih kompleks dari sekadar benar atau salah. Ada murid yang kehilangan batas kesopanan, berbicara kasar, hingga melawan guru. Namun, realitas juga menunjukkan tidak semua konflik bermula dari murid. Sebagian praktik pengajaran masih diwarnai kata-kata merendahkan yang berpotensi melukai psikologis siswa.

Ketika ruang dialog dan empati hilang, relasi pendidikan bergeser menjadi relasi kuasa. Murid merasa tidak dihargai, guru merasa tidak dihormati. Sekolah pun berubah dari ruang aman menjadi ruang ketegangan.

Fenomena ini berulang di berbagai daerah dengan pola serupa. Guru dipukul, diancam, dilaporkan, bahkan dikeroyok. Namun, setiap kasus kerap diperlakukan sebagai insiden individual, bukan persoalan struktural.

Data JPPI menunjukkan lonjakan kekerasan di satuan pendidikan dari 91 kasus pada 2020 menjadi 641 kasus pada 2025. Relasi guru dan siswa mendominasi dengan 46,25 persen kasus. Pada 2025, sekitar 90 persen korban kekerasan adalah siswa, sementara 57 persen pelaku berasal dari kalangan pendidik dan tenaga kependidikan.

Kondisi ini berkaitan dengan arah sistem pendidikan yang lebih menekankan capaian akademik dibanding pembinaan karakter. Guru dibebani target administratif, sementara murid diposisikan sebagai penerima layanan. Relasi edukatif pun bergeser menjadi relasi transaksional.

Akibatnya, nilai adab kehilangan ruang. Murid tidak memahami penghormatan sebagai tanggung jawab moral, sementara sebagian guru kehilangan pijakan etik dalam mendidik.

Dalam perspektif Islam, pendidikan tidak sekadar mencetak kecerdasan intelektual, tetapi membentuk manusia beradab. Guru diposisikan sebagai pembimbing dan teladan, sedangkan murid sebagai amanah yang dibina.

Relasi dibangun atas dasar kasih sayang dan tanggung jawab, bukan ketakutan. Prinsip adab didahulukan sebelum ilmu menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan diukur dari kualitas sikap, bukan semata penguasaan pengetahuan.

Negara memiliki peran memastikan arah pendidikan tetap berorientasi pada pembentukan manusia berakhlak. Kurikulum, pembinaan guru, dan sistem evaluasi tidak hanya menilai aspek akademik, tetapi juga karakter.

Tanpa fondasi tersebut, konflik serupa akan terus berulang, dan relasi guru–murid semakin menjauh dari fungsi dasarnya sebagai ruang pembinaan manusia. Wallahua’lam. (*)


Penulis:
Fitriani, S.Pd
(Praktisi Pendidikan)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

 

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com