MAKASSAR—Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Sulsel bekerjasama dengan TVRI melaksanakan Gerakan Pangan Murah (GPM) dalam rangka menyambut HUT TVRI ke-62 Tahun, di halaman Kantor TVRI Jalan Pajonga Dg Ngalle, Sabtu, 3 Agustus 2024.
GPM ini dibuka oleh Pj. Gubernur Sulawesi Selatan yang diwakili oleh Asisten 2 Bidang Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Sulawesi Selatan Dr. H. M. Ichsan Mustari, M.H.M serta dihadiri Ketua DPRD Provinsi Selatan Andi Ina Kartika Sari, SH., M.Si
Mewakili Kepala Dinas Ketapang Sulsel, Kemal Redindo Syahrul Putra, mengatakan, amanat undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan Pasal 46 Bahwa Pemerintah Daerah berwenang untuk melakukan penyediaan dan penyaluran pangan pokok atau pangan lainnya sesuai dengan kebutuhan daerah Provinsi dakam rangka stabilisasi pasokan pangan dan harga pangan.
“Stabilitas ini dimaksudkan untuk melindungi produsen (Petani, peternak dan kelompok tani, distributoe, pelaku usaha pangan yang memproduksi atau menyediakan komoditas pangan pokok) serta menjaga ke terjangkauan konsumen terhadap pangan,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu kunci terkendalinya Inflasi Nasional khususnya di Sulsel dengan menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan.
“Saat ini, Pemerintah sedang melakukan langkah-langkah strategis dalam pegendalian inflasi diseluruh wilayah khusunya dalam menjaga stabilitas harga pangan, Dimana sangat diperlukan adanya dukungan dan sinergi seluruh pihak khususnya Pemerintah Daerah untuk mengendalikan tingkat inflasu di wulayah masing-masing. GPM ini dilaksanakan agar masyarakat dapat mengakses pangan dengan harga terjangkau terkhusus pada saat in beberapa komoditas pangan meningkat harganya,” katanya.
Kegiatan GPM menyediakam komoditas pangan dan pangan olahan dengan harga dibawah pasar dengan sebanyak kurang lebih 23 vendor.
“Yaitu Kanwil Perum Bulog Sulselbar, Disketapang Sulsel, Distributor sayur Malino, UMKM Kedai Aisyah, UMKM Balla Ratea, Dinas Peternakan dan Keswan Sulsel, Depo telur Pasar Terong serta lainnya,” sebutnya.
Lebih jauh, Kemal menyebutkan bahwa komoditas pangan di Indonesia umumnya di produksi pada wilayah tertentu dan bersifat musiman, sementara konsumsi tersebar merata diseluruh daerah dan relatif konstan sepanjang tahun.

“Pola panen yang berbeda menyebabkan variasi pasokan dan harga pangan antar waktu serta wilayah. Pada saat terjadu panen raya pasokan akan meningkat sedangkan disisi lain pada periode paceklik pasokan akan berkurang,” tukasnya.
“Adanya kesenjangan harga antara produsen dan konsumen disebabkan oleh berbagai faktor yang menghambat distribusi pangan diantaranya hambatan pasokan, cuaca, biaya pengangkutan yang tinggi, kualitas infrastruktur, perilaku pedangang serta pegelolaan stok,” lanjutnya.
Dia menambahkan, kondisi tersebut seringkali menimbulkan terjadinya fluktuasi pasokan dan harga panganpangan yang berakibat ketidakpastian harga pangan baik ditingkat produsen maupun konsumen, Dimana dalam ekskalasi lebih luas akan mempengaruhi inflasi.
“Sekali lagi GPM ini merupakan bagian penting dari upaya kita merespon permasalahan dan tantangan pembangunan ketahanan pangan terutama dalam memantapkan tersedianya kebutuhan pangan dalam jumlah yang cukup dan dengan harga yang terjangkau serta aman di komsumsi masyarakat,” pungkasnya. (*/4dv)


















