MEDAN—Universitas HKBP Nommensen menunjukkan komitmen kuat dalam upaya pemberantasan penyalahgunaan narkotika di lingkungan kampus. Salah satu langkah tegas yang diambil adalah mewajibkan seluruh calon mahasiswa baru serta mahasiswa yang hendak diwisuda untuk menjalani dan lolos tes urine bebas narkoba.
Sesuai keterangan Pers yang diterima mediasulsel.com Senin (30/6/2025), kebijakan ini disampaikan langsung oleh Wakil Rektor IV Universitas HKBP Nommensen, Dr. Erika Pardede, MSc, dalam Diskusi Publik Hari Anti Narkoba Internasional bertajuk “Bahaya Narkoba pada Generasi Muda dalam Perspektif Pendidikan”, yang digelar Dewan Pimpinan Daerah (DPD) GAMKI Sumut, Kamis 26 Juni baru lalu, di Aula Fakultas Kedokteran kampus tersebut.
“Kami ingin memastikan lingkungan akademik benar-benar bersih dari narkoba. Bukan hanya saat masuk, tapi juga ketika menamatkan pendidikan. Ini bentuk tanggung jawab institusi dalam melahirkan lulusan yang sehat secara jasmani dan rohani,” tegas Erika.
Tak hanya itu, universitas juga membatasi aktivitas kampus hingga pukul 18.00 WIB, dari sebelumnya pukul 21.00 WIB. Kebijakan ini diambil untuk meminimalkan ruang gerak penyalahgunaan narkotika di luar jam produktif kampus.
“Khusus unit kegiatan mahasiswa tetap diberi ruang, namun tetap dalam pengawasan ketat,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua DPD GAMKI Sumut, Swangro Lumbanbatu, mengatakan kegiatan diskusi ini merupakan bagian dari program GAMKI Sumut Goes to Campus, dengan tujuan membentengi generasi muda dari ancaman narkoba.
“Mahasiswa adalah agen perubahan, dan kami ingin mereka bebas dari jerat narkoba. Kami pun memberi contoh di internal GAMKI dengan mewajibkan tes urine bagi seluruh pengurus dari tingkat DPC hingga DPD,” tegas Swangro.
Diskusi yang dihadiri sekitar 500 peserta ini turut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai institusi. Kabid Pemberantasan BNN Sumut, Kombes Pol Josua Tampubolon, mengingatkan bahwa penyalahgunaan narkoba bisa menimpa siapa saja, tanpa melihat status atau latar belakang.
“Tak ada kelompok yang kebal terhadap narkoba. Semua punya potensi terpapar jika tidak waspada,” ujarnya.
Wadir Narkoba Poldasu, AKBP Diari Estetika, menyoroti perlunya peran masyarakat dalam pengawasan wilayah pantai timur Sumut yang kerap dijadikan jalur masuk narkotika.
“Perahu-perahu yang digunakan itu milik masyarakat. Kalau mereka sadar dan tidak tergiur, maka celah ini bisa tertutup,” katanya.
Anggota DPRD Sumut, Aripay Tambunan, dalam paparannya menegaskan pentingnya tiga pilar strategi dalam penanggulangan narkoba: edukasi dan pencegahan, penegakan hukum yang tegas, serta rehabilitasi dengan pendampingan sosial-ekonomi.
Dari perspektif pendidikan, Kabid Pembinaan SMA Disdik Sumut, M. Basir Hasibuan, menilai usia sekolah dan mahasiswa adalah masa paling rentan.
“Di usia ini, arus materialisme dan hedonisme memicu hilangnya semangat kebangsaan, dan itu berbahaya,” ujarnya.
Dengan kebijakan tegas dari Universitas HKBP Nommensen serta dukungan dari ormas, aparat, dan tokoh pendidikan, langkah nyata untuk membentengi generasi muda dari narkoba kini makin masif dan terstruktur. Semangat ini menjadi cerminan harapan bersama agar kampus dan dunia pendidikan menjadi zona bebas narkoba. (Cr/Ag4ys)
Citizen Reporter: Rizky Zulianda









