OPINI—Kasus HIV/AIDS masih menjadi persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius. Di Sulawesi Selatan, Makassar mencatat data HIV tertinggi sebanyak 445 kasus ditemukan. Data tersebut disampaikan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) Sulsel, Muharram Sahude (Makassarinfo.com, 17/9/2026).
Persoalan HIV/AIDS bukan sekadar persoalan kesehatan individu, tetapi juga berkaitan dengan perilaku dan kondisi sosial masyarakat. HIV tidak muncul begitu saja. Penularannya dapat terjadi melalui hubungan seksual berisiko, penggunaan jarum suntik yang tidak aman, serta dari ibu kepada anak.
Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya dilakukan ketika seseorang telah terinfeksi. Pencegahan perlu menyentuh faktor yang mendorong munculnya perilaku berisiko, terutama di kalangan generasi muda.
Generasi muda saat ini hidup dalam lingkungan yang memungkinkan berbagai informasi dan gaya hidup tersebar dengan cepat. Media digital pun memiliki pengaruh besar sebagai sarana penyebaran konten seksual, pornografi, normalisasi perilaku menyimpang, dan berbagai bentuk pergaulan bebas.
Ketika batas-batas pergaulan semakin longgar dan perilaku seksual yang menyimpang semakin dinormalisasi, masyarakat mengalami pergeseran nilai. Perilaku yang dianggap tabu dan seharusnya dihindari perlahan dianggap sebagai bagian dari hak asasi manusia.
Kondisi tersebut tidak lepas dari cara pandang yang memisahkan kehidupan dari agama. Ketika agama hanya ditempatkan sebagai urusan pribadi dan tidak lagi menjadi landasan dalam mengatur perilaku, standar benar dan salah bergeser mengikuti perubahan budaya, tren, atau kebebasan individu.
Inilah yang kemudian menjadi persoalan lebih besar. HIV/AIDS bukan hanya mengenai pengobatan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat dan negara mampu melindungi generasi dari perilaku yang menyebabkan risiko terjadinya penularan.
Berbagai upaya pemerintah seperti skrining, deteksi dini, dan terapi antiretroviral dilakukan untuk menekan HIV. Namun, langkah tersebut hanya sebatas penanganan bagi yang berisiko atau pengobatan ketika infeksi sudah terjadi.
Jika persoalan hanya berfokus pada upaya kuratif (pengobatan), sementara tidak ada upaya preventif (pencegahan) terhadap faktor yang mendorong perilaku menyimpang atau berisiko, masalah HIV/AIDS akan terus muncul.
Islam tidak hanya memberikan aturan mengenai pengobatan ketika seseorang sakit, tetapi juga memberikan aturan untuk mencegah munculnya berbagai kerusakan di tengah masyarakat sejak dari hulu.
Islam mengajarkan pembangunan keluarga yang kuat, pendidikan seksual yang sesuai agama, pembentukan lingkungan pergaulan yang sehat, pengawasan paparan media, serta pembangunan masyarakat yang memiliki kontrol sosial terhadap perilaku yang merusak.
Dalam Islam, hubungan seksual ditempatkan dalam ikatan pernikahan. Interaksi antara laki-laki dan perempuan juga diatur dengan ketentuan sistem pergaulan Islam yang bertujuan menjaga kehormatan, keturunan, dan keselamatan manusia dari berbagai kerusakan moral dan sosial.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Isra’ ayat 32:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.”
Islam juga menyeru amar makruf nahi mungkar sebagai kontrol sosial. Masyarakat tidak dibiarkan bersikap individualistis dan tidak peduli ketika melihat kemaksiatan atau perilaku yang membahayakan kehidupan sosial.
Dalam hal media, Islam tidak membiarkannya berjalan bebas tanpa batas, seperti membiarkan konten yang mengandung pornografi, pergaulan bebas, atau normalisasi perilaku menyimpang.
Media diarahkan untuk membangun kepribadian Islami, memberikan edukasi, serta mencerdaskan masyarakat.
Ketegasan sistem sanksi Islam diterapkan oleh negara terhadap pelaku pelanggaran. (*)
Wallahu a’lam.
Penulis:
Nur Adhayani, SKM, M.Kes
(Penyuluh Kesehatan Masyarakat)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.









