MAKASSAR—Meski angka stunting di provinsi sulsel terus mengalami penurunan bahkan melebihi target Pemerintah Pusat untuk menurunkan angka stunting pada tahun 2024 diangka 14 persen, sementara di Sulsel bulan Agustus tahun 2021, angka stunting berada pada angka 9,08 persen.
Pemerintah provinsi Sulawesi Selatan terus fokus dalam menuntaskan persoalan stunting di 24 kabupaten dan kota se-Sulsel.
Plt Gubernur Sulsel mengaku pada tahun 2022 tetap fokus dalam upaya penurunan angka stunting dengan melakukan Aksi Stop Stunting yang akan melibatkan tenaga pendamping gizi. Mereka akan menetap di Desa selama 8 bulan bertugas dalam pendampingan untuk keluarga.
“Para pendamping gizi ini akan melakukan pendampingan gizi kepada keluarga pada 1000 Hari Pertama kehidupan dan memberikan paket intervensi gizi pada anak dan ibu hamil untuk Desa lokus stunting di 24 Kabupaten/Kota. Para pendamping juga akan mensosialisasikan dalam perubahan perilaku pengasuhan kehamilan agar tidak melahirkan anak yang lahir dalam kondisi stunting,” ungkapnya, Senin (6/12/2021).
Pendamping gizi juga ini juga bertugas dalam memberikan edukasi perubahan perilaku pada remaja putri, ibu hamil dan ibu yang memiliki balita.
“Dalam aksi stop stunting ini juga, kita melibatkan tim penggerak PKK, apalagi mengingat PKK memiliki jejaring sampai di desa dengan ranah pembinaan keluarga,” sebutnya.
Dimana setiap Kabupaten/Kota, dipilih 10 Desa yang tinggi angka stunting untuk menjadi lokus pada Aksi Stop Stunting ini. Jadi total Desa lokus penurunan stunting di Sulsel sebanyak 240 Desa
“Kita berharap, dengan menekan angka stunting ini, akan memberikan pengaruh dalam melahirkan generasi anak bangsa yang hebat dan membanggakan,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala DP3A Dalduk KB Sulsel Fitriah Zainuddin mengatakan, Pemerintah provinsi (Pemprov) Sulsel dalam menekan angka stunting di sulsel telah membuahkan hasil yang saat ini turun menjadi 9.08% dan telah melampaui target pemerintah pusat pada Tahun 2024 sebesar 14%.
“Keberhasilan ini, tentu merupakan capaian kerja bersama, semoga penurunan stunting ini menjadi pemicu semangat kita bersama untuk terus bekerja dalam menekan angka stunting di Sulsel. Karena stunting merupakan investasi SDM bahkan di atas dari investasi infrastruktur,” ungkapnya.
Ia berharap tidak ada lagi bayi lahir dalam keadaan stunting di sulsel dengan adanya program dan pendampingan yang dilakukan.
“Kita berharap tidak ada lagi bayi lahir dalam keadaan stunting, olehnya itu, pentingnya pendampingan keluarga 1.000 hari pertama kehidupan dan memberikan paket intervensi gizi pada anak dan ibu hamil,” tuturnya.
Fitriah Zainuddin menjelaskan, dalam mewujudkan penduduk tumbuh seimbang dan keluarga berkualitas, Pemerintah telah menetapkan kebijakan penyelenggaraan Program Keluarga berencana, sesuai amanat UU No.52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, dengan maksud untuk mewujudkan penduduk tumbuh seimbang dan mengembangkan kualitas penduduk pada seluruh dimensi penduduk.
“Upaya pengendalian angka kelahiran dan penurunan angka kematian, pengembangan kualitas penduduk pada seluruh dimensinya, peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga, penyiapan dan pengaturan perkawinan serta kehamilan terus dilakukan sehingga penduduk menjadi sumber daya manusia yang tangguh serta mampu bersaing dan dapat menikmati hasil pembangunan secara adil dan merata,” ucapnya. (*)


















