PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Kasus 600 Zak Pupuk Subsidi di Bone, Belum Ada Tersangka • Mengajarkan Pergaulan Islami dari Ibu untuk Remaja • Paris Yasir Jenguk Pasien dan Tinjau IGD RSUD Jeneponto • Tinggalkan Cara Lama, Begini Modernnya Siswa SMPN 12 Makassar Ikut Kompetisi Belajarku • Appi Dijadwalkan Terima KTA Demokrat Hari Ini, Dua Hari Usai Tinggalkan Golkar • 40 Peserta Ikuti Pemagangan Nasional di Yogyakarta, Ini Kata Menaker • PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Kasus 600 Zak Pupuk Subsidi di Bone, Belum Ada Tersangka • Mengajarkan Pergaulan Islami dari Ibu untuk Remaja • Paris Yasir Jenguk Pasien dan Tinjau IGD RSUD Jeneponto • Tinggalkan Cara Lama, Begini Modernnya Siswa SMPN 12 Makassar Ikut Kompetisi Belajarku • Appi Dijadwalkan Terima KTA Demokrat Hari Ini, Dua Hari Usai Tinggalkan Golkar • 40 Peserta Ikuti Pemagangan Nasional di Yogyakarta, Ini Kata Menaker •
Opini

Mengajarkan Pergaulan Islami dari Ibu untuk Remaja

5
×

Mengajarkan Pergaulan Islami dari Ibu untuk Remaja

Sebarkan artikel ini
Rusmayana Usman
Rusmayana Usman (Guru & Pemerhati Sosial)

OPINI—Dunia remaja saat ini ibarat labirin yang sibuk. Di tengah bisikan algoritma media sosial, tren nongkrong, gaya hidup fashionable, dan tekanan teman sebaya (peer pressure), anak-anak berjuang mempertahankan identitas mereka.

Sebagai orang tua, khususnya ibu, sering muncul berbagai kecemasan: Apakah anakku bisa menjaga diri? Apakah anakku mampu menjaga batasan dalam pergaulan?

Melihat berbagai kasus kenakalan remaja saat ini, sebagaimana dilansir Kompas.com pada 27 September 2026, tawuran yang melibatkan pemuda di Makassar berujung maut.

Peristiwa serupa terjadi di Pantai Salopi, Pinrang. Aksi pengeroyokan dan perundungan antarremaja putri viral setelah videonya tersebar. Masih banyak kasus serupa yang membuat orang tua semakin waspada.

Sering kali, reaksi spontan orang tua adalah memperketat pengawasan, membuat daftar larangan yang panjang, hingga menginterogasi anak layaknya polisi memeriksa tersangka. Tak jarang, orang tua juga menghakimi teman-teman pergaulan anak mereka.

Namun, pada usia remaja, pendekatan yang terlalu instruktif dan protektif justru kerap menciptakan jarak antara anak dan ibu. Alih-alih patuh, remaja cenderung menutup diri karena merasa orang tua tidak memercayai mereka.

Lebih mengkhawatirkan lagi, mereka bisa mencari suasana yang lebih menyenangkan atau orang lain yang bersedia mendengarkan cerita mereka.

Mengapa kasus-kasus serupa terus terjadi? Berulangnya kerusakan moral dan kenakalan remaja menunjukkan adanya persoalan sistemik yang perlu ditangani secara menyeluruh.

Fenomena ini tidak terlepas dari disfungsi berbagai institusi sosial yang saling berkaitan. Beberapa faktor yang menyebabkan persoalan remaja terus berulang di antaranya:

1. Disfungsi Institusi Keluarga

Keluarga merupakan fondasi utama pembentukan karakter anak. Kegagalan dalam menjalankan fungsi ini sering dipicu tekanan ekonomi global yang memaksa orang tua bekerja penuh waktu. Akibatnya, waktu berkualitas bersama anak dan pendidikan di rumah tidak terwujud secara optimal.

2. Beban dan Celah Sistem Pendidikan

Sekolah pada dasarnya merupakan ruang aman bagi anak untuk menuntut ilmu. Namun, fungsi tersebut dapat bergeser ketika remaja terjebak pada target akademik formal semata dan tujuan pendidikan untuk mencetak generasi berakhlak mulia terabaikan.

Kondisi ini diperparah oleh kesibukan para pendidik yang harus menghadapi berbagai tuntutan administratif.

3. Informasi Digital Tanpa Filter Akhlak

Perkembangan teknologi yang semakin pesat, termasuk kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), menambah kekhawatiran orang tua karena akses informasi bagi remaja semakin mudah.

Konten yang menormalisasi kekerasan, pornografi, hingga gaya hidup instan dapat diakses dengan mudah tanpa diimbangi kemampuan menyaring informasi secara mandiri. Kegagalan menyediakan literasi digital yang terintegrasi antara pemerintah, penyedia platform, dan masyarakat membuat anak-anak rentan meniru perilaku menyimpang.

4. Lingkungan Sosial dan Penegakan Hukum yang Kurang Efektif

Masyarakat sering kali bersikap acuh terhadap lingkungan sekitar sehingga kontrol sosial melemah. Di sisi lain, sistem penegakan hukum terkadang menghadapi dilema antara pemberian efek jera dan perlindungan hak anak di bawah umur.

Pendekatan yang semata-mata represif atau berupa pemenjaraan tanpa rehabilitasi psikologis yang sistematis sering kali gagal membantu remaja mematangkan emosi. Bahkan, pendekatan tersebut berisiko memperburuk masa depan mereka.

5. Pengabaian terhadap Kesehatan Mental Remaja

Sistem fasilitas kesehatan publik belum sepenuhnya menempatkan kesehatan mental sebagai layanan prioritas yang mudah diakses remaja dari berbagai lapisan ekonomi.

Banyak remaja mengalami krisis identitas, kecemasan, atau depresi yang tidak tertangani. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan munculnya perilaku agresif, tawuran, atau penyalahgunaan zat sebagai bentuk pelampiasan ketidakstabilan emosi.

Oleh karena itu, mengatasi fenomena ini membutuhkan pembenahan menyeluruh, bukan upaya parsial. Penguatan peran keluarga, pembentukan budaya sekolah yang humanis, pengawasan ruang digital, serta penyediaan fasilitas kegiatan positif yang inklusif bagi generasi muda perlu dilakukan secara bersama-sama.

Tantangan terbesar seorang ibu bukan lagi sekadar menjadi penjaga pintu rumah, melainkan menjadi arsitek rumah yang aman bagi anak-anaknya. Ibu perlu mengajarkan pergaulan sesuai syariat dengan hadir sebagai tempat curhat, teman bercerita sebelum tidur, hingga teman nongkrong.

Mengubah Doktrin Menjadi Dialog

Syariat Islam tidak pernah melarang manusia bersosialisasi. Islam justru mengatur pergaulan agar kehormatan manusia tetap terjaga. Ketika ingin mengenalkan batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan (ikhwān dan akhwat) atau konsep menjaga pandangan, pendekatan terbaik adalah menjelaskan alasan di balik aturan tersebut, bukan hanya menyampaikan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Remaja mulai mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Ketika seorang ibu mampu menjelaskan bahwa aturan hijab, batasan khalwat atau berduaan, serta etika digital bukan bertujuan mengekang kebebasan, melainkan bentuk pemuliaan dari Allah untuk melindungi diri mereka, pemahaman dan kesadaran iman mereka akan mulai tumbuh.

Namun, dialog semacam ini hanya dapat terbangun jika ibu mampu memosisikan diri sebagai sahabat pertama tempat anak bercerita.

Sebelum meminta remaja mendengarkan nasihat tentang cara memilih teman atau circle yang baik, pastikan ibu sudah cukup sabar mendengarkan cerita mereka tentang keseharian di sekolah tanpa buru-buru memotong pembicaraan atau menghakimi.

Melatih Filter Diri Remaja

Sebagai orang tua, kita tidak mungkin mendampingi anak selama 24 jam sehari. Akan tiba saatnya mereka berada dalam situasi yang mengharuskan mereka memilih: mengikuti tren yang melanggar syariat agar dianggap keren atau berani berkata tidak demi menjaga iman.

Di sinilah peran ibu sebagai madrasatul ula atau sekolah pertama diuji. Tugas ibu adalah memperkuat fondasi spiritual anak. Salah satu caranya dengan membangun rasa percaya diri Islami (izzah).

Ibu perlu menanamkan pemahaman bahwa berani tampil berbeda karena taat kepada aturan Allah merupakan bentuk kepercayaan diri yang sesungguhnya. Ketika remaja memiliki fondasi ini, mereka tidak akan mudah goyah oleh tekanan lingkungan.

Mereka justru dapat menjadi pribadi yang membawa pengaruh positif bagi lingkungan, bukan sekadar mengikuti arus pergaulan yang buruk.

Teladan yang Berbicara Lebih Keras

Pada akhirnya, remaja merupakan peniru yang ulung. Mereka mungkin tidak selalu mendengarkan apa yang kita katakan, tetapi mereka melihat apa yang kita lakukan.

Mengajarkan pergaulan Islami berarti ibu juga harus memberikan teladan dalam menerapkan adab bermuamalah dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, bagaimana berbicara dengan lawan jenis yang bukan mahram, menyaring informasi di grup WhatsApp, serta memperlakukan teman-teman dengan baik.

Mengantarkan remaja melewati badai pubertas menuju kedewasaan yang sesuai syariat memang tidak mudah. Proses ini membutuhkan kesabaran, untaian doa pada sepertiga malam, dan kelapangan dada untuk terus merangkul mereka.

Namun, percayalah, ketika seorang ibu berhasil menyentuh hati anak remajanya melalui kasih sayang dan pemahaman yang benar, syariat tidak akan lagi dipandang sebagai beban. Sebaliknya, syariat dapat tumbuh sebagai pedoman hidup yang dijalani dengan kesadaran dan kebanggaan.

Untuk mewujudkan semua itu, dukungan negara juga tidak dapat diabaikan. Negara memiliki peran sangat penting dalam menjaga keutuhan dan masa depan generasi terbaik. (*)


Penulis:
Rusmayana Usman
(Guru & Pemerhati Sosial)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Kirim Komentar

📢 Mohon utamakan adab, etika, dan sopan santun dalam berkomentar. Semua komentar akan melewati proses moderasi sebelum diterbitkan.

Konten dilindungi © Mediasulsel.com