Negara ini memiliki cadangan batu bara, bijih besi, gas alam, mangan, garam, minyak, grafit, belerang, kaolin, titanium, nikel, magnesium, kayu, dan merkuri yang melimpah.
Pada sektor mineral logam, Ukraina menduduki posisi penting meliputi;
- Negara ke-7 di dunia dalam ekstraksi besi: 39 juta ton dan 2,4% dari output global (setelah Australia, Cina, Brasil, India, Rusia, dan RSA)
- Negara ke-8 di dunia dalam ekstraksi mangan: 651 ribu ton dan 3,6% dari output global (setelah RSA, Australia, Cina, Gabon, Brasil, Ghana, dan India)
- Negara ke-6 di dunia dalam ekstraksi titanium: 431 ribu ton dan 6,3% dari output global (setelah China, RSA, Australia, Kanada Mozambik)
- Negara ke-2 di dunia dalam ekstraksi galium: 9 ton dan 2,9% dari output global (setelah China); dan
- Negara ke-5 di dunia dalam ekstraksi germanium: 1 ton dan 1% dari output global (setelah Cina, Rusia, AS, dan Jepang).
Pada sektor mineral non-logam, Ukraine menduduki posisi:
- Negara ke-6 di dunia dalam ekstraksi kaolin : 2,4 juta ton dan 5,9% dari output global (setelah Cina, AS, Jerman, India, dan Republik Ceko)
- ke-10 di dunia dalam ekstraksi zirkonium silikat: 26 ribu ton dan 1,9% dari output global (setelah Australia, RSA, Cina, Mozambik, Senegal, AS, Kenia, India, dan Indonesia)
- Tempat ke-8 di dunia dalam ekstraksi grafit: 13 ribu ton dan 1,3% dari output global (setelah Cina, Brasil, Korea Utara, India, Rusia, Kanada, dan Madagaskar).
Pada sektor bahan bakar mineral, Ukraina menduduki posisi:
- Negara ke-13 di dunia dalam ekstraksi batubara pembangkit listrik: 18,9 M ton dan 0,4% dari output global (setelah China, India, AS, Indonesia, Australia, RSA, Rusia, Kolombia, Kazakhstan, Polandia, Vietnam, dan Kanada)
- ke-12 di dunia dalam ekstraksi batu bara kokas: 5,2 juta ton dan 0,5% dari output global (setelah Cina, Australia, Rusia, AS, India, Kanada, Mongolia, Kazakhstan, Polandia, Mozambik, dan Kolombia); dan
- ke-10 di dunia dalam ekstraksi uranium: 1 ton dan 1,4% dari output global (setelah Kazakhstan, Kanada, Australia, Namibia, Niger, Uzbekistan, Rusia, Cina, dan AS).
Jadi, secara menyeluruh dapat dikatakan bahwa konflik yang terjadi antara Rusia-Ukraine adalah persoalan kepentingan yang masing-masing memperjuangkan kedaulatan dan ketahanan negaranya.
Bagi muslim pribadi, melihat kekisruhan ini tentu saja tidak boleh direspon dengan latah untuk menjatuhkan keberpihakan. Invasi ini terjadi karena kepentingan-kepentingan politik regional Rusia yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam.
Terdapat dua pelajaran berharga sebagai muslim yang dapat diambil dari konflik Rusia dan Ukraina.
Pertama, respon dunia yang begitu aktif dalam menghentikan agresi militer Rusia ke Ukraina. Sementara pada kasus penindasan kaum muslimin di dunia Islam yang masih berlangsung hingga hari ini tidak seantusias seperti sekarang yang terjadi di Rusia dan Ukraina.
Kedua, ambisi negara-negara hari ini dalam melakukan kerjasama internasional dalam berbagai bidang tidak lain hanya lebih kepada kepentingan masing-masing. Termasuk Amerika Serikat itu sendiri. Bagi AS, sangat penting untuk menjaga kepentingannya di Eropa. Salah satu jalan memelihara kedudukannya adalah keberadaan NATO.
Konflik Ukraina dan Rusia yang berkepanjangan akan menjadi alasan AS dengan NATO-nya untuk berada di Eropa. Karena melalui ini, AS mampu terus mencegah Rusia menjadi negara adidaya. Apabila disandingkan dengan politik luar negeri dalam paradigma Islam, kegiatan politik luar negeri Daulah Islam hanyalah pada kepentingan dakwah dan jihad saja.
Itupun, jihad dimaksudkan dalam hal ini adalah terkait pembebasan hambatan fisik di negara yang akan di futuhat dalam menghamba total pada Allah SWT.
Hal ini tentu saja sangat beda jauh dengan potret kerjasama luar negeri dalam dunia global hal ini. Maka sungguh, hanya dengan kesadaran akan politik Islamlah yang mampu mengeluarkan kaum muslimin hari ini dari kelatahan dalam menjatuhkan keberpihakan antara Rusia dan Ukraina.
Sebagai bahan pengingat yang tegas bahwa Rusia adalah negara pembantai kaum muslimin di Suriah. Pun dengan Ukraina yang saat ini kepala negaranya adalah keturunan Yahudi. Ia adalah negara terdepan pendukung Israel yang membantai kaum muslimin di Palestina.
Apakah menjadi suatu kelayakan bila seorang muslim yang terikat oleh kesadaran aqidah Islam menjatuhkan keberpihakan pada Rusia ataupun Ukraina?
Jelas, tidak sama sekali! Disinilah urgensi kesadaran politik Islam bagi kaum muslim agar tidak latah melihat konflik Rusia-Ukraina hari ini. Apalagi bila sampai pada asumsi bahwa akan terjadi perang dunia ketiga melalui ini. Tentu saja tidak mungkin. Wallahu a’lam bish-shawabi. (*)
Penulis: Despry Nur Annisa Ahmad, ST, M.Sc (Dosen dan Peneliti)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

















