OPINI—Ada dua penyakit massal yang terjadi di Pulau Karanrang, Desa Mattiro Bulu, Pangkep, yaitu demam typhoid dan cacingan. Kepala Dinas Kesehatan Sulsel Rosmini Pandin menegaskan pihaknya sedang melakukan penelitian lebih dalam terkait kejadian ini, dengan membentuk tim di lapangan.
Diskes Pangkep dalam penyampaiannya menyebutkan, memang banyak warga yang terserang typhoid dan setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut mayoritas dari pasien typhoid tersebut juga terserang cacingan akut. Dari tujuh sampel tinja terdapat lima yang positif cacingan, mulai dari usia anak hingga dewasa.
Sejumlah langkah telah dilakukan oleh pemerintah setempat melalui dinas kesehatan diantaranya pemeriksaan kesehatan, melakukan penyuluhan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta memberikan obat cacing secara massal kepada 3000an orang warga pulau Karanrang.
Cacingan merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan. Penyakit berbasis lingkungan adalah suatu kondisi patologis berupa kelainan fungsi atau morfologi suatu organ tubuh yang disebabkan oleh interaksi manusia dengan segala sesuatu disekitarnya yang memiliki potensi penyakit.
Dalam kasus diatas cacingan yang diakibatkan oleh cacing yang menginfeksi tubuh manusia melalui media tanah dan pada pemeriksaan tinja terdapat telur cacing dan atau cacing.
Pada tahun 2019 angka prevelensi cacingan di Indonesia cukup tinggi yaitu sekitar 45 hingga 65 persen. Cacingan dapat berakibat pada penurunan status gizi hingga mempengaruhi tumbuh kembang anak.
Mengapa penyakit berbasis lingkungan dapat terjadi?
Ada beberapa hal yang mendasari yaitu:
Pertama, sulitnya akses masyarakat terhadap air bersih. Data BPS menyebutkan bahwa terdapat sekitar 15 persen rakyat Indonesia yang kesulitan untuk mendapatkan air bersih.
Data dari Bappenas menyebutkan bahwa terdapat bukti dampak air minum dan sanitasi penyediaan air minum dan sanitasi yang aman dapat mengurangi indeks penyakit sebesar 0,39 persen.
Kedua, belum memadainya penanganan sampah dan limbah. Tahun 2021 diperkirakan volume sampah di Indonesia mencapai 68,5 juta ton pertahun dan tahun 2022 mencapai 70 juta ton.
Penumpukan sampah selain menyebabkan pencemaran lingkungan udara, tanah dan air juga menyebabkan banjir yang berujung pada gangguan kesehatan pasca banjir seperti diare, kolera dan cacingan.
Ketiga, perilaku masyarakat yang tidak menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dijumpai dalam hal kurangnya kesadaran dalam mencuci tangan.
Keempat, akses terhadap sanitasi yang layak berkaitan dengan kemampuan masyarakat untuk menggunakan fasilitas jamban yang menurut data susenas tahun 2009 ada 100 juta rakyat Indonesia yang tidak memiliki jamban yang memadai sehingga aktivitas BAB dilakukan di sembarang tempat (BABS) yang berujung pada tingginya angka diare dan juga berkontribusi terhadap penyebab cacingan pada anak.
Kelima, vektor penyakit yang semakin resisten akibat perilaku masyarakat dan kondisi lingkungan yang tidak sehat. Hal ini terjadi karena vektor penyakit telah beradaptasi sedemikian rupa dengan kondisi lingkungan yang telah banyak berubah akibat perubahan lingkungan fisik dari adanya industri dan pembangunan perumahan secara serampangan serta penyediaan air bersih yang belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Ditambah dengan penggunaaan pestisida yang tidak bijaksana yang menjadikan lingkungan menjadi tempat yang ideal untuk perkembangbiakan vektor penyakit.
Dari beberapa faktor yang telah dijelaskan diatas menjadi penting untuk menjaga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan didukung pula oleh penyediaan infrastruktur untuk menjamin sanitasi yang baik bagi masyarakat.
Untuk kasus kontaminasi pada bahan pangan dapat pula menyebabkan foodborne disease yaitu penyakit yang timbul akibat makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri, virus dan parasit seperti telur cacing yang berasal dari lingkungan seperti pada kasus diatas yang secara umum memberikan gejala demam, diare, mual, muntah hingga nyeri perut yang jika penanganannya terlambat bisa berisiko kematian.
Meskipun demikian keamanan pangan saat ini bukanlah prioritas utama terbukti masih tingginya jumlah kasus penyakit akibat dari kontaminasi ini.
Akhirnya belajar dari kasus diatas menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap perilaku hidup bersih dan sehat secara khusus dan kebersihan lingkungan dan kemananan pangan secara umum.
Belum lagi ditambah tidak adanya kebijakan pemerintah yang secara komprehensif, terstruktur dan berkelanjutan untuk mengatasi penyakit berbasis lingkungan sehingga penanganan tidak pernah sampai ke akarnya.
Sehingga dibutuhkan kerjasama multisektoral dan dukungan sistemis agar dapat mengatasi masalah tersebut.
Dukungan sistemis diperoleh dari negara yang jika menjalankan fungsinya sebagai pengatur dan pelayan urusan masyarakat akan mengeluarkan kebijakan yang menjaga kualitas makanan, minuman dan lingkungan yang bersih untuk mewujudkan kualitas generasi yang sehat dan kuat sebagai pembangun peradaban. (*)
Penulis
dr. Airah Amir (Dokter RSUD Kota Makassar)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.


















