OPINI—Zero hunger merupakan salah satu tujuan rencana pembangunan dunia yang berfokus pada pemberantasan kelaparan, ketahanan pangan dan gizi serta mewujudkan pertanian berkelanjutan. Kemiskinan menjadi pangkal dari kelaparan kronis yang terjadi di beberapa daerah.
Data menunjukkan pada September 2022 jumlah orang miskin mencapai 26,36 juta jiwa, sedangkan terdapat 112 juta jiwa masuk dalam kategori hampir miskin dan rentan miskin, jumlahnya lebih dari empat kali lipat jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan. Hal ini patut untuk diwaspadai.
Bagaimana mekanisme tubuh jika terjadi kelaparan? Pusat rasa lapar berada di hipotalamus yang mempunyai peran utama pada tubuh manusia saat merasa lapar. Jika kadar gula darah menurun, pusat metabolisme di otak menjadi aktif dan memicu hormon adrenalin agar manusia mengoptimalkan upaya untuk memenuhi kebutuhan glukosa tubuh melalui makanan.
Jika tidak ada makanan yang masuk, maka tubuh melakukan mekanisme berikutnya yaitu melalui proses “mengamankan” persediaan glukosa bagi kebutuhan otak. Meskipun otak mempunyai volume yang hanya mencapai 2 persen berat tubuh manusia, otak memerlukan sekitar setengah dari kebutuhan glukosa seluruh tubuh.
Untuk “mengamankan” persediaan glukosa bagi otak, otak memberikan isyarat untuk menghentikan produksi insulin. Seperti yang kita ketahui, tanpa insulin glukosa tidak dapat sampai di otot. Pada Saat kelaparan, setiap organ tubuh menurun beratnya hingga 50 persen tetapi berbeda dengan otak, otak hanya menurun beratnya sekitar 4 persen dan otak mempunyai kemampuan untuk menyimpan cadangan glukosa.
Jika kelaparan berlangsung kronis maka produksi energi akan beralih kepada protein yang akan berdampak pada otot sebab otot sebagian besar terdiri dari protein. Pada tahap awal manusia masih mampu untuk beradaptasi terhadap berkurangnya volume otot, tetapi setelah 8 hingga 10 hari tubuh akan mengubah metabolismenya ke arah penghematan energi yang mengakibatkan organ beraktivitas dalam level terendah seperti frekuensi jantung yang menurun serta suhu tubuh pun menurun.
Selain itu tubuh akan mengambil simpanan lemak. Hasil metabolisme lemak akan membentuk keton yang merupakan sumber energi penting pada saat tubuh menderita kelaparan dan merupakan salah satu upaya untuk tetap bertahan hidup sebab selain glukosa, keton adalah satu-satunya sumber energi yang dapat dioptimalkan oleh otak untuk memenuhi kebutuhannya.
Jika kelaparan berkepanjangan terjadi, makin banyak pula dampak negatif bagi tubuh yang dapat terjadi. Sistem kekebalan tubuh menurun yang berefek pada semakin mudahnya penyakit menyerang. Demikian pula organ tubuh lainnya yang dapat berujung pada kematian. Hal yang lazim kita jumpai pada daerah yang mengalami kelaparan kronis adalah kondisi manusia yang hanya tinggal tulang berbalut kulit.
Kematian tidak terelakkan sebab seluruh organ tubuh gagal berfungsi.Malangnya proses kematian justru semakin cepat pada komunitas rentan seperti anak dan manula serta orang yang mengalami penyakit degeneratif serta infeksi kronis.
Musabab kelaparan kronis adalah kemiskinan yang menjadi fenomena di desa maupun di kota dan begitu mudah dijumpai dimana-mana. Kemiskinan menyebabkan akses yang sulit terhadap bahan pangan sehingga kasus malnutrisi mudah terjadi. Tidak sulit bagi kita menjumpai rumah kumuh berderet di bantaran sungai atau para pengemis yang berkeliaran di perempatan jalan di tengah gedung pencakar langit di perkotaan.
Seperti halnya di Papua, pangkal masalah di Papua adalah kemiskinan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan angka kemiskinan tertinggi berada di Papua mencapai 26,55 persen dan disusul Papua Barat mencapai 21,51 persen. Rata-rata angka kemiskinan di 16 daerah di Papua mencapa 9,22 persen.
Padahal Papua adalah daerah dengan otonomi khusus yang telah berjalan selama 22 tahun dalam upaya untuk memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Papua yang tertuang dalam Undang-Undang No. 21 tahun 2001 tentang otonomi khusus bagi Provinsi Papua.
Daerah dengan otonomi khusus mendapatkan dana hibah dari pemerintah pusat dengan kekhususan pada kesehatan dan pendidikan. Dana otonomi khusus pada tahun 2023 di provinsi Papua Barat mencapai Rp1,034 triliun. (antaranews.com). Tetapi kemiskinan tatap terjadi disana bahkan berujung pada kelaparan kronis.
Kemiskinan yang berujung kelaparan kronis seharusnya tidak terjadi di negeri lumbung padi ini, sebab dalam Islam, sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak adalah kepemilikan umum yang tidak boleh dikuasai oleh individu ataupun korporasi. Menjadi kewajiban negara untuk mengelola kepemikian umum melalui mekanisme baitulmal untuk kesejahteraan rakyat. Berdasarkan sabda Rasulullah Saw: Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara, padang, air dan api (HR Abu Dawud dan Ibn Majah).
Sehingga pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik menjadi tanggung jawab negara termasuk pendidikan, kesehatan dan keamanan. Juga membuka lapangan pekerjaan bagi laki-laki dewasa agar mudah mencari nafkah bagi keluarga sehingga dengan mengoptimalkan produktivitas warga kemiskinan struktural bisa diatasi. (*)
Penulis
dr. Airah Amir
(Dokter dan Pemerhati Kesehatan Masyarakat)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.













