OPINI—Rasa-rasanya tidak akan cukup waktu untuk membahas deretan penyakit berat yang sedang menjangkiti penduduk indonesia saat ini. Negari ini sudah dipenuhi dengan berbagai penyakit berat, sebut saja ada jutaan balita meninggal akibat stunting, kematian ribuan ibu saat hamil dan melahirkan, penyakit jantung, hipertensi, diabetes serta gagal ginjal disamping penyakit menular yang mematikan seperti malaria, TBC dan HIV/AIDS.
Indonesia didaulat menyandang peringkat ke 2 dunia penderita tuberkolosis (TBC). Kasus ini tentunya bukan hal yang baru, melainkan ini merupakan kasus yang sudah lama terjadi di Indonesia.
Hanya saja, belakangan ini peningkatannya mencengankan. Kenaikan jumlah penderiata TBC meningkat dengan pesat. Pada tahun 2021 India berada diperingkat pertama 2,95 juta kasus. Indonesia naik ke peringkat kedua 969 .000 kasus dan china peringkat ke tiga dengan 780.000 kasus. (Kompas.id)
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan terjadi kenaikan sangat signifikan atas temuan kasus tuberkulosis (TBC) pada anak di Indonesia. Kenaikan itu bahkan melebihi 200 persen.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kemenkes Imran Pambudi menilai kenaikan ini terjadi lantaran banyak orang tua yang tidak menyadari gejala TBC atau tidak segera mengobati penyakitnya sehingga berimbas penularan pada kelompok rentan seperti anak-anak.
“Kasus TBC anak mengalami peningkatan yang sangat signifikan sejak 2021 ada 42.187 kasus, kemudian 2022 ditemukan 100.726 , jadi ini naik lebih dari 200 persen,” kata Imran dalam acara daring ‘Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2023’, Jumat (17/3).
Di sisi lain, penanganan TBC belum optimal karena masih banyak kasus tidak tercatat atau missing cases. Artinya kasus tak tercatat ini berarti pasien tidak mendapat pengobatan. Pasien berpotensi menjadi sumber penularan TBC bagi orang-orang di sekitarnya. Penanganan TBC pun terhambat.
Bahkan pasien diwajibkan mengonsumsi obat secara rutin tanpa putus dan Jika terputus harus mengulang kembali dari awal lagi pengobatannya, itupun kadang ada pasien yang mesti meminum obat yang jauh lebih kuat dari sebelumnya dan menyebabkan efek samping yang tidak nyaman pada pasien.
Namun, tidak semua berjalan mulus karena sebagian masyarakat juga ada yang menganggap bahwa TBC ini adalah penyakit turunan. Sehingga banyak kemudian masyarakat yang mengalami gejala penyakit tersebut namun enggan untuk memeriksakan serta berobat secara tuntas.
Semakin meningkatnya kasus TBC di indonesia dan dunia tidaklah terjadi begitu saja. Melainkan disebabkan oleh beberapa faktor seperti penanganan yang kurang maksimal, anggapan sebagian individu bahwa penyakit TBC ini adalah jenis penyakit turunan yang tidak akan mudah menular dan minimnya pemahaman mereka akan gejala penyakit ini hingga tanpa disadari penyakit ini menular dari orang yang satu ke orang yang lain.
Adapun beberapa faktor ini hanyalah penyebab cabang dan terdapat faktor utama dari masalah ini yakni tidak lain adalah adanya penerapan sistem buatan manusia (kapitalis-sekuler) yang notabennya menjadikan manfaat sebagai asas dalam mengurus segala bidang kehidupan termasuk dalam hal kesehatan.
Saat ini kesehatan seluruh masyarakat seolah bukan lagi menjadi sesuatu yang wajib diiurusi secara maksimal hal ini terbukti dari maraknya peningkatan berbagai jenis penyakit ditengah mereka juga nampak dari minimnya pemahaman sebagian orang akan penyakit tertentu seperti TBC ini.
Artinya, persolan edukasi dan penanganan ini sangat minim dilakukan. Hal seperti ini bukanlah sesuatu yang mengherankan dalam sistem saat ini. Sebab, hampir semua persoalan hidup penyelesainnya dikembalikan pada individu masing masing.
Maka, tak heran jika kesehatan pun seolah menjadi komoditas yang diperjual belikan.atau dikapitalisasi. Yang dimana hanya orang orang yang mampu saja yang bisa menikmati layanan kesehatan yang terbaik. Tentu, kondisi ini sangat memprihatinkan sebab sebagian besar penduduk negeri ini berada dibawah garis kemiskinan.
Berbeda halnya dengan sistem saat ini, Islam sebagai agama yang semourna yang berasal dari Al-Khalik menganggap kesehatan adalah bagian dari kebutuhan pokok individu yang wajib dipenuhi oleh negara secara maksimal dan merata.
Dengan pandangan ini, maka negara akan menjaga setiap warga negaranya dari segala bahaya apapun termasuk penyakit menular TBC, dengan penanganan yg handal. Seperti peningkatan daya tahan tubuh masyarakat, memberikan bantuan pemenuhan kebutuhan pokok individu maupun masyarakat dalam hal sanitasi, air bersih serta pemukiman yang sehat. Dantidak kalah penting adalah penyediaan fasilitas, sarana dan prasarana kesehatan yang terbaik.
Artinya, bahwa negara akan mengurusi secara penuh persoalan kesehatan ini tanpa melibatkan pihak lain apatah lagi mengembalikannya pada individu masing masing. Tentu, hal ini bukan lah sesuatu yang sulit dilakukan oleh negara.
Sebab, fungsi negara dalam pandangan islam adalah sebagai Ra’in (periayah) yang akan mengurusi urusan seluruh warga negaranya dalam seluruh aspek kehidupan termasuk aspek kesetan. Dan hal ini didukung oleh sistem ekonomi yakni pembiayaan yang sumbernya langsun dari Baitul Mal.
Dengan kondisi demikian tentunya persoalan kesehatan akan mudah diakses oleh setiap indidvidu secara merata baik dalam hal.pelayanan dan fasislitas yang berkualitas. Wallahu’A’lam. (*)
Penulis: Mursyidah Nadjamuddin, S.Pd (Pegiat Literasi)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.













