MAKASSAR—Di balik senyuman para petani saat memanen tanamannya, ada cerita perjuangan yang tak selalu terlihat. Salah satu tantangan terbesar adalah kelangkaan pupuk dan harga yang terus melambung tinggi.
Masalah ini menjadi perhatian serius bagi Andi Undru Mario, seorang pengusaha asal Wajo, Sulawesi Selatan, yang berdedikasi membantu petani keluar dari jeratan krisis ini.
Andi Undru, pemilik PT Super Tani Indonesia, memahami betul bagaimana beban berat ini dirasakan langsung para petani.
“Mereka adalah tulang punggung ketahanan pangan kita, tetapi justru sering menjadi korban permainan harga dan kelangkaan pupuk,” ujarnya penuh keprihatinan saat berbicara kepada media, Minggu (23/3/2025).
Dalam pengamatannya, tak jarang petani gagal panen dan menanggung kerugian besar karena sulitnya mendapatkan pupuk dengan harga terjangkau.
“Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Semua pihak, termasuk produsen pupuk swasta, harus ikut ambil bagian,” tegasnya.
Tak sekadar bicara, Andi Undru menawarkan langkah nyata. Dalam sebuah diskusi media yang digelar bersama Dewan Pimpinan Pusat Serikat Pers Republik Indonesia (SPRI) dan Komite Media Komunikasi dan Digital Indonesia (KOMEDKOMDIGI), ia mempresentasikan solusi berupa pupuk organik hayati padat dengan harga yang sangat terjangkau.
“Pupuk organik Super Tani kami hanya sekitar Rp 1.300 per liter jika dicairkan. Bandingkan dengan pupuk hayati cair lainnya yang mencapai Rp 250 ribu per liter,” jelas Andi Undru.
Produk ini, menurutnya, tidak hanya lebih murah, tetapi juga telah terbukti meningkatkan hasil panen hingga minimal satu ton per hektar sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Produk ini telah melalui berbagai uji efektivitas, termasuk di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian IPB Bogor, dan memiliki izin edar dari Kementerian Pertanian. Dengan kandungan seperti Trichoderma, Beauveria, PGPR, dan Methasium, pupuk ini dirancang untuk memperbaiki kualitas tanah sekaligus melindungi tanaman dari penyakit.
Bagi Andi Undru, misinya tidak hanya untuk membantu petani tetapi juga mendukung ketahanan pangan nasional. Ia percaya bahwa dengan pendekatan “Go Organik,” Indonesia dapat meningkatkan produksi pangan domestik, mengurangi impor, dan bahkan bersaing di pasar global.
Dalam diskusi yang sama, Komisaris Utama PT Super Tani Indonesia, Kolonel Czi H.A. Ambo Lele, menekankan pentingnya koordinasi dengan pemerintah untuk mendistribusikan pupuk ini secara lebih luas.
“Jika pemerintah bisa mengalokasikan dana APBN atau APBD untuk pupuk ini, lebih banyak petani bisa merasakan manfaatnya,” ujarnya.
Namun, tak dapat dipungkiri, masalah mafia pupuk menjadi salah satu penghalang utama.
Fachrul Razi, Koordinator Presidium KOMEDKOMDIGI, mengungkapkan bahwa jaringan mafia ini telah merambah hingga ke desa-desa.
“Ini masalah serius yang harus segera ditangani,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya memastikan bahan pangan bebas dari residu kimia berbahaya dengan menggunakan pupuk organik seperti yang ditawarkan oleh PT Super Tani.
Solusi yang ditawarkan Andi Undru dan timnya tidak hanya menjadi harapan bagi para petani, tetapi juga menjadi bagian penting dari upaya menciptakan masa depan pertanian yang lebih berkelanjutan.
Dengan tanah yang lebih subur dan hasil panen yang lebih melimpah, impian menuju swasembada pangan dan kesejahteraan petani bukan lagi sekadar angan. (Ag4ys)



